Berbohong

1292 Words
"Bagaimana kondisi Fitria, Don?" Rani begitu cemas melihat kondisi sekretarisnya itu. "Masih belum sadar". "Oh ya, tadi handphone Fitria bunyi terus. Gue nggak berani bongkar isi tasnya. Siapa tau penting? Lu cek dulu sana" perintah Dona yang tengah asyik dengan benda pipih berwarna silver di tangannya. Rani hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah cuek dan acuh Dona sahabat tomboynya ini. "Kamu kalau bersikap seperti ini terus, nanti tidak ada cowok yang mau sama kamu Don" Rani mengambil tas Fitria yang berada di atas nakas. "Ya bagus kalau begitu. Nggak berharap punya cowok juga. Daripada bikin sakit hati, mending single tapi happy" Dona meledek ke arah Rani dengan menjulurkan lidahnya. Rani hanya mengarahkan kepalan tangan membalas ledekan Dona tersebut. Seperti itulah persahabatan dua karakter berbeda antara Rani dan Dona. "Ibunya Fitria yang menghubungi dari tadi" Rani memperlihatkan ponsel Fitri kepada Don. "Mungkin ada yang penting itu Ran, soalnya berdering terus". "Lu liat aja tuh, dua belas panggilan" Dona menunjuk ke layar ponsel milik Fitria tersebut. "Tapi aku tidak bisa membuka ponselnya. Terkunci nih" Rani berniat ingin memasukkan kembali ponsel milik Fitria ke dalam tas jinjing Fitria. "Sini, hari gini nggak punya cara buat buka ponselnya". "Lu punya otakkan, makanya dipake. Jangan buat pajangan kepala doang" Dona meraih ponsel milik Fitria tersebut dan berjalan ke arah Fitria yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit. "Nah lu liat ya" Dona meraih jemari Fitria dan meletakkannya di sensor sidik jari pada ponsel Fitria. Ponselnya pun langsung terbuka. "Mudahkan" Dona cengengesan berhasil membuat sahabatnya itu terdiam. "Kok aku tidak kepikiran ya" Rani senyum-senyum pada sahabatnya yang memang lebih berakal dan ber ide dari dirinya ketika saat genting. "Lu mah, mana bisa berpikir smart kek begitu". "Ntar lu, kalau udah terjebak pada situasi yang mengharuskan lu memutar isi otak lu. Baru lu ngerti gimana sulitnya jadi gue" Dona selalu memperingatkan Rani agar tidak selalu merasa terpuruk pada setiap masalah yang dia miliki. Dia harus lebih bersyukur memiliki hidup yang nyaris sempurna, berbeda jauh dengan dirinya. Dona harus mengganti identitasnya dan penampilan dirinya agar tidak terlalu dikenali oleh keluarganya. Terutama ayahnya, tentu saja dia akan disuruh menikah dengan pria pilihan ayahnya untuk menjadi tumbal bisnisnya. Beberapa hari lalu, Dona dihubungi oleh sepupunya yang bernama Andra. Andra menyuruh Dona untuk tidak terlalu sering tampil di tempat umum. Dia mendengar kalau ayahnya Dona sudah tau kalau Dona sudah tinggal di Jakarta. Ayah Dona sudah menyuruh orang untuk mencari tahu tempat tinggal Dona, meminta mereka untuk membawa Dona secara paksa. Apalagi Andra mendengar, kalau istri muda ayah Dona sudah membujuk ayah Dona untuk menikahkan Dona dengan seorang pengusaha ternama. Demi kemakmuran perusahaan ayahnya, Dona harus dijadikan istri pengusaha kenalan istri muda ayahnya tersebut. Gila dan licik, seperti itulah Melda. Istri muda ayahnya itu memang sangat pintar dalam bersilat lidah. Padahal kenapa bukan dia saja yang menjadi istri pengusaha ternama yang mungkin jauh lebih kaya dari ayahnya itu. Namun sebelumnya Andra sudah menyelidiki tentang pengusaha yang bernama Agus tersebut. Ternyata dia adalah seorang maniak. Suka main tangan, juga menyiksa wanitanya tanpa ampun. Namun, satu hal yang Andra heran. Pria yang akan dijodohkan oleh istri muda ayahnya itu bukan pengusaha sukses seperti yang diceritakan. Dia hanyalah seorang juragan kos-kosan dan parkiran di pasar lama. "Yang benar aja, pengusaha kosan" ledek Dona saat bercengkrama dengan sepupunya lewat panggilan video. "Hei, ngelamunin apa?". "Hayo, lagi jatuh cinta ya" Rani menggoda sahabatnya itu. "Siapa yang jatuh cinta? Gila aja lu ya" Dona pura-pura kesal. Padahal dia hanya merasa lucu dengan pembicaraannya dengan Andra waktu itu. "Ran, gue disuruh si Andra kerja jadi sekretarisnya". "Lu tau sendiri, gue mana betah kerja kantoran kek begitu" ungkap Dona tentang dirinya yang memang tidak suka dengan pekerjaan yang tidak fleksibel dan terlalu menguras pikiran. Selama ini Dona bekerja sebagai bartender di sebuah klub malam. Ya, dia memang sangat mencintai gemerlap indahnya dunia malam. Kelap kelip lampu disko serta musik yang berirama cepat itulah yang digemari olehnya. "Sekali-kali kalau nyoba kan boleh". "Atau gini saja Don, Fitria kan lagi dirawat nih. Kamu saja dulu yang gantiin dia buat bantu aku ketemu klien nanti" Rani memberikan ide yang menurutnya sangat menguntungkan dirinya. Sekali-kali boleh lah ngerjai sahabatnya yang tengil dan super cuek ini. "Gila lu, gue disuruh pakai rok dan nenteng map-map gitu". "Pakai kacamata gede yang minusnya lima ribu". "Huh, ogah" Dona menolak usul Rani yang dianggapnya terlalu berlebihan. Image wanita superior akan hilang kalau dia berpenampilan feminim. "Kamu kan bisa berpenampilan seperti aku" Rani berdiri dan memperlihatkan pakaian yang dikenakan. Pakaian muslim dengan kerudung syar'inya. Dona hanya menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya mengartikan tidak. "Kan belum dicoba, mau ya. Sekali saja" Rani memohon dengan menangkupkan kedua tangannya kemudian mengacungkan satu jari. Matanya berkedip-kedip manja memohon. Dona semulanya enggan, akhirnya dengan terpaksa mengangguk setuju. "Nah gitu dong bestieku yang cantik dan juga tangguh" Rani memeluk sahabatnya itu dengan bahagia. Tiba-tiba terdengar dering ponsel milik Fitria. Lagi-lagi nama ibu tertera pada layarnya. Dengan perasaan sedikit berat Rani mencoba untuk mengangkatnya. "Assalamu'alaikum" Rani mengucapkan salam terlebih dahulu "Waalaikumsalam, ini siapa? Fitrianya kemana" jawab suara dari seberang sana. "Saya Rani bu, bosnya Fitria. Sekarang dia lagi istirahat bu" balas Rani. "Oh maaf, Fitria baik-baik saja kan bu Rani" terdengar suara ibunya Fitria sangat begitu cemas. "Fitria tadi pingsan bu, mungkin karena kelelahan. Semalam dia lembur, tadi siang menemani saya untuk rapat. Jadi dia sekarang sedang istirahat" Rani terpaksa berbohong, ini semua demi kebaikan ibunya Fitria. Dia tidak ingin membuatnya khawatir dengan kondisi anaknya. "Astaghfirullah" jerit ibu Fitria dan terdengar isakan tangisnya. Hati Rani sedikit terluka mendengarnya. Hanya mendengar Fitria pingsan dia sudah syok, apalagi kalau dia tau apa yang baru saja menimpa putrinya bernasib malang ini. "Ini pasti salah ibu, sehingga dia bekerja terlalu keras" rintihnya diiringi tangis. "Ibu jangan menyalahkan diri ibu, Fitria hanya kelelahan bu. Jadi ibu jangan khawatir" Rani mencoba untuk menenangkan ibu Fitria. "Ibu mau ke kota menemui Fitria. Ibu takut dia kenapa-kenapa. Ibu bermimpi tubuhnya berdarah, ibu khawatir nak Rani" firasat seorang ibu memang selalu benar adanya. Rani jadi teringat dengan bundanya. Mungkin bunda memiliki alasan yang kuat untuk menerima pernikahan kedua ayahnya. Serta alasan merahasiakan dari dirinya. "Ibu tidak perlu ke sini. Setelah ini Fitria akan saya suruh cuti untuk beristirahat dikampung halamannya dulu bu. Jadi ibu tunggu Fitria di rumah ya". "Nanti kalau dia sudah bangun saya beritahukan sama dia. Kalau ibu tadi menelpon" ada perasaan tidak enak dalam hatinya karena berbohong. Ini untuk pertama kalinya dia berbohong. "Terimakasih ya nak sudah mau merawat dan menjaga anak ibu. Apalagi ini bos Fitria sendiri, kamu memang sungguh baik sekali nak. Pantas saja Fitria sangat betah kerja disana". "Dia selalu memuji nak Rani, ibu doakan nak Rani tambah sukses, hidupnya selalu bahagia, dikelilingi oleh orang-orang yang tulus sayang sama nak Rani. Dihindarkan dari segala musibah, ibu doakan yang terbaik buat nak Rani" tanpa Rani sadari air matanya menetes. Dia merasa terharu dengan perkataan dari ibunya Fitria. Setelahnya panggilan pun terputus dengan saling mengucapkan salam. Rani memandangi wajah Fitria yang terlelap tidur di atas ranjang pasien. Dia tidak bisa menyalahkan Fitria atas apa yang dia alami. Meski itu sudah resiko baginya. Namun dia tidak habis pikir, kenapa Ryan begitu kejam melakukan hal yang gila seperti ini. Tidak mungkin orang lain yang melakukannya, karena dia tahu Fitria tidak terlalu banyak bergaul. Apalagi keluyuran tidak jelas. Dia harus mengkonfirmasikan firasatnya tentang Ryan pelaku penabrakan terhadap sekretarisnya ini. Wajah lugu dan manis itu, begitu polos hingga mudah terbujuk hanya dengan kata-kata manis. Rani sadar itu. Dia pun sama, terlalu percaya dengan sikap manis dan kata-kata manis Ryan. Sehingga mantap bertunangan dengannya. Untung saja mereka belum menikah. Jika tidak, mungkin hati Rani akan hancur berkeping-keping. Namun satu hal yang membuatnya kini tersadar. Dia tidak merasa sakit hati kehilangan sosok Ryan dalam hidupnya. Apa dia tidak terlalu sayang dan mencintainya? Entahlah, kini hatinya hanya merasa lega.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD