"Aku tidur disini saja Don, kamu kalau mau pulang. Pulang saja dulu" ucap Rani yang meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Gue bakal nemani lu disini".
"Masa iya, lu nginap disini sendirian" Rani tersenyum ke arah Dona. Dia merangkul dan menciuminya.
"Thank you bestie" Rani menciumi pipi Dona.
"Aish... Apaan sih. Biar gini-gini gue doyan ama laki-laki tau. Apa gara-gara patah hati sama Ryan lu mau belok".
"Nyadar neng" Dona menekan dahi Rani. Padahal dia tau Rani memang manja seperti itu. Dona memang sengaja mengejek Rani, mumpung dia punya bahan untuk meledek Rani.
"Apaan sih. Maaf ye, kita bukan cewe bucin".
"Seriusan, aku tuh nggak merasa sakit hati kehilangan Ryan".
"Apa sebenarnya aku tuh tidak begitu sayang ya sama dia ya?" Rani meminta pendapat kepada Dona.
"Serius lu, bagus dong. Mungkin lu beneran nggak sayang sama dia" ungkap Dona.
"Lebih aneh lagi, kok aku curhat sama jomblo akut seperti kamu ini ya" kekeh Rani tertawa senang bisa mengusili sahabat tomboynya.
"Eh, jangan asal ngomong ya ente. Siapa tau nanti, gue yang duluan dapat jodoh dan nikah".
"Hayo, ibarat kata ya. Gue ini limited edition. Alias stok langka kalau cewek model kaya gue begini" Dona tidak mau mengalah dalam hal penindasan yang dilakukan oleh Rani.
"Aamiin ya Allah. Aku berdoa kepadamu ya Allah segera pertemukan sahabatku ini dengan jodohnya. Ikatlah mereka dalam sebuah tali pernikahan. Aamiin.... Amiin ya robbal allamin" Rani menengadahkan kedua tangannya mendoakan jodoh untuk Dona.
"Iya ya Allah, segera pertemukan saya dengan jodoh saya. Biar saya menikah lebih dulu dari Rani" Dona juga ikut mengaminkan do'a Rani.
"Tuh bagus didengar ngomong pakai kata yang lebih halus. Tidak pakai gue elu seperti itu" Rani memuji perkataan Dona yang berkata dengan sopan saat berdo'a tadi.
"Iya kata, gue minta sama tuhan pakai gue elu. Kaya nggak hormat kan. Ya harus lembut dan baik dong ketika berdo'a. Biar cepat diijabah. Hehehe" Dona tertawa kecil.
Terdengar suara rintihan dari arah ranjang Fitria, sepertinya dia sudah mulai sadar. Rani dan Dona bergegas menghampiri.
"Fit, Fitria. Ini aku Rani" ucapnya sambil memegangi tangan Fitria. Secara perlahan Fitria membuka matanya.
"Bu Rani" suaranya terdengar begitu lemah.
"Sudah, kamu harus istirahat saja dahulu. Pulihkan tenaga kamu. Jangan terlalu banyak gerak" perintah Rani. Namun, Fitria menggelengkan kepalanya.
"Bu, mas Ryan... ".
"Dia yang menabrakku" ucapnya dengan suara bergetar dan lemah. Namun masih bisa didengar begitu jelas. Air mata pun lolos melewati kelopak mata dengan bulu mata yang lentik tersebut. Pertanda betapa terlukanya hati Fitria.
Dona yang mendengar pengakuan dari Fitria pun sungguh begitu terkejut. Berbeda dengan Rani yang sudah menduga sebelumnya. Dia kini benar-benar merasa muak dan membenci Ryan. Dia tidak menyangka jika pria yang sempat menjalin hubungan dengan dirinya adalah laki-laki b******k.
"Lu sudah tau" Dona menanyakan hal tersebut karena melihat raut wajah Rani yang tidak menampakkan keterkejutan seperti dirinya.
"Aku sudah menduganya, karena aku yakin dia tidak mungkin akan bertanggungjawab atas kehamilan Fitria. Setelah itu mungkin dia akan memfitnah bahwa Fitria yang memulai lah, menggoda lah".
"Come on, Don. Pria b******k kan selalu seperti itu" Rani memiliki hobi membaca, salah satunya membaca cerita novel yang selalu menghadirkan kisruh dalam percintaan dan penghianatan dalam sebuah hubungan. Tentu pasti, dia menebak seperti alur cerita-cerita yang sudah pernah dia baca.
"Waw, daebak. Tumben lu pintar" puji Dona bertepuk tangan.
"Dari dulu kali udah pintar, situ saja yang telat mujinya" melihat tingkah Rani dan Dona yang bercanda seperti sekarang. Fitria jadi tertawa, dia menghapus air matanya. Rani dan Dona pun terlihat senang melihat Fitria yang tidak sedih lagi.
"Bu, sejujurnya saya tidak pernah merayu mas Ryan ataupun mau merebutnya dari bu Rani".
"Saya juga tidak mengerti asal mulanya seperti apa. Saat saya sadar, saya sudah ada di atas ranjangnya mas Ryan dalam keadaan sudah telanjang bu" Fitria kembali mengingat momen dimana dia sadar telah membuat kesalahan.
*Flashback*
Fitria terbangung di sebuah kamar mewah yang bernuansa putih abu-abu. Aroma maskulin tercium semerbak dalam kamar tersebut. Sudah bisa dipastikan pemilik kamar ini adalah seorang pria. Fitria lebih terkejut mendapati dirinya dalam keadaan telanjang. Ada bercak merah pada seprai berwarna putih yang sedang dia duduki sekarang. Wajahnya langsung berubah memucat. Dia tidak mengingat apapun yang telah terjadi. Namun satu hal yang bisa dia pastikan, kesuciannya sebagai seorang gadis telah hilang dan direnggut. Namun siapakah yang telah mengambilnya?
Tangan Fitria bergetar memegang selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Dia hanya mengingat dengan jelas, saat Rani meminta dia untuk mengantarkan makanan untuk Ryan yang sedang sakit. Setelahnya dia dipersilahkan untuk masuk dan disuguhkan segelas sirup. Untuk kejadian berikutnya dia tidak mengingat apapun lagi. Hanya sebuah siluet-siluet dimana dia berciuman dan berpagut intim dengan Ryan. Semua teringat dengan random.
Pintu kamar dibuka, terlihat Ryan dengan tubuh bertelanjang d**a. Tubuh atletisnya terpampang jelas didepan mata Fitria. Wajahnya terlihat bersemu merah memandang tubuh indah milik Ryan, dengan memakai boxer abu-abu Ryan terlihat begitu seksi. Sedangkan tangannya membawa sebuah nampan berisi dua buah roti dan satu gelas s**u putih.
"Kamu sudah bangun sayang" sapanya lembut dan mesra.
"Ini sarapan buat kamu, aku sudah bikinkan yang spesial buat kamu tercinta" mendapatkan perlakuan manis seperti ini Fitria menjadi meleleh. Semula dia ingin marah, namun hatinya kini berbunga-bunga mendengar kata-kata rayuan dari mulut manis Ryan.
"Apa yang terjadi?" hanya itu yang terucap dari bibir Fitria.
"Aku akan bertanggungjawab padamu sayang. Sejujurnya aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu Fitria".
"Semua yang terjadi, tidak ada paksaan. Kita melakukannya karena sama-sama suka dan menginginkannya" Ryan menelusupkan rambut Fitri ke telingan kirinya. Kemudian menciuminya.
"I love you Fitria" bisiknya dengan suara lembut. Pipinya terasa hangat, setelah itu sebuah kecupan mendarat di pipi kirinya. Ini adalah perlakuan pertama dari seorang pria terhadapnya. Fitria hanya gadis kampung sederhana yang mempunyai mimpi membanggakan keluarganya. Namun siapa sangka, ini adalah awal dari kesalahan yang telah dibuatnya.
*Masa Kini*
Dona dan Rani saling bertatapan, menduga-duga.
"Apa lu dicecokin alkohol terus lu mabuk?" tanya Dona asal, hal itu yang terpikir dan dilontarkan begitu saja. Rani pun langsung menyikutnya. Dona melototkan matanya yang sedikit sipit kepada Rani.
"Saya tidak ingat, saya hanya ingat meminum sirup berwarna merah. Rasanya juga manis" ucap Fitria begitu polos.
"Wah, fix emang nggak bener tuh cowok. Lu udah putusin dia kan?".
"Kebangetan kalau lu masih sama dia" ujar Dona yang terlihat mulai emosi. Dia memang paling benci dengan pria yang seenaknya mempermainkan wanita. Seperti ayahnya, dengan sesuka hatinya menyakiti ibunya hingga ibunya memutuskan untuk bunuh diri.
"Ya sudah lah, masa mau dibodohi sama dia".
"Tapi dia sepertinya tidak terima Don, aku jadi takut. Apalagi tatapannya tadi seperti mengintimidasi" Rani menceritakan pertemuannya tadi dengan Ryan.
"Bu Rani harus hati-hati dengannya bu. Dia itu seperti seorang psikopat bu. Sebelumnya dia bersikap sangat lembut, begitu perhatian saat mengantar saya pulang. Tapi dia malah menabrak saya" Fitria kembali terdengar sedih kembali. Dari suaranya yang bergetar. Bisa dipastikan dia sangat merasa kecewa.
"Sebaiknya kita laporkan dia ke polisi" usul Dona yang mulai geram dan sedikit ngeri mendengar tentang Ryan. Apalagi kalau dia beneran seorang psikopat. Benar-benar berbahaya jika berurusan dengan orang seperti itu.