"Saya tidak ingin memperpanjang dan memperumit masalah mba".
"Saya yakin Allah itu maha adil, dia pasti akan membalas sakit hatinya orang yang Terdzalimi".
"Saya akan membesarkan anak ini sendiri" ucap Fitria yang masih belum tau kalau dia mengalami keguguran akibat kecelakaan yang baru saja dia alami.
"Ehm Fit, aku harap kamu sabar ya".
"Sebenarnya, kamu mengalami keguguran karena tabrakan tadi" Rani menjelaskan secara perlahan agar Fitria tidak terlalu syok. Rani tau ini akan menjadi sebuah pukulan yang hebat dalam hidupnya. Dimana pria yang dia percaya dan dia yakini akan bertanggungjawab malah menghancurkan hidupnya.
Fitria menangis tergugu, Dona langsung menghampiri dan merangkul Fitria untuk menenangkannya. Fitria masih menangis tiada henti. Sulit dibayangkan bagaimana perasaannya kini.
"Kamu harus kuat Fit, jangan lemah ataupun kamu merasa dikalahkan olehnya. Buktikan kalau kamu itu wanita tangguh yang tidak mudah untuk ditumbangkan" kata Rani berapi-api memberikan semangat kepada Fitria. Fitria pun langsung tersenyum melihat raut wajah Rani yang mencoba menghibur dirinya dengan kata-kata patriotik.
Rani bukan hanya sekedar atasan bagi Fitria. Tapi seperti keluarga. Dia merasa sangat beruntung masih memiliki orang yang peduli dengan dirinya. Seharusnya Rani marah kepadanya karena telah merebut tunangannya dan merusak hubungan asmara mereka. Namun sebaliknya, Rani malah lebih peduli dengan dirinya. Fitria sungguh merasa malu karena telah menoreh luka di hidup Rani.
"Terimakasih untuk semua kebaikan bu Rani, saya janji akan membalas semua perlakuan bu Rani di masa akan datang" ucap Fitria dalam hati sambil tersenyum mengangguk pada Rani dan juga Dona.
"Untuk sementara waktu kamu istirahat saja tidak usah masuk kerja. Setelah keluar dari rumah sakit berkunjung lah untuk menemui ibumu dahulu" ucap Rani bernada memerintah.
"Tapi bu, untuk surat kerjasama dengan pak Rusdy nanti" perkataan Fitria menggantung karena langsung disela oleh Rani.
"Dona yang akan menggantikan kamu nanti" Rani menatap ke arah Dona dengan mengangkat sebelah alisnya. Dona terlihat sedikit marah.
"Gue kan nggak bilang iya tadi" Rani benar-benar membuat Dona kesal. Dan dia berhasil membuat Dona menekukkan wajahnya.
"Beneran nggak mau bantu".
"Apa nggak kasihan sama aku? Liat Fitria sekretarisku, sekarang sedang terbaring lemah. Sedangkan besok aku ada rapat, kan lucu cuma sendiri bertemu klien".
"Terus kalau aku ketemu dengan Ryan dan dia berbuat kasar kepadaku gimana".
"Masa iya kamu akan membiarkan diriku disakiti dan menghadapi bahaya seorang diri" rengek Rani dengan mata memelas. Dia yakin jika Dona tidak mungkin tega membiarkan dirinya berada dalam bahaya.
"Modus".
"Menyebalkan, liat Fitria. Gara-gara lu terbaring di ranjang pesakitan. Gue mesti gantiin lu".
"Buruan sembuh, lupain si cowok nggak guna itu" Dona menggerutu kesal karena besok harus menemani Rani bekerja.
"Kalian boleh pulang, saya tidak apa-apa sendirian disini" Fitria merasa tidak enak hati jika mereka berdua harus bermalam di rumah sakit ini.
"Kami tetap akan disini menemanimu malam ini" ucap Rani.
"Sekarang kamu tidurlah, istirahat. Aku juga ingin istirahat karena besok mungkin akan bertemu dengan pak Rusdy yang rese itu" Rani mengomel dan begitu kesal dengan pertemuan terakhirnya dengan pak Rusdy.
"Siapa tau jodoh nanti bu Rani" goda Fitria.
"Duh amit-amit deh. Jangan sampai punya suami model begitu, dingin kaya kulkas berjalan" Rani terus saja menggerutu tentang Rusdy.
Dona yang tidak tau perkaranya sedikit bingung namun juga penasaran dengan sosok pria yang bernama Rusdy ini. Tidak seperti biasanya Rani begitu sangat kesal dengan seseorang. Apalagi seorang pria, dia pernah kesal dengan seseorang namun tidak pernah sampai begitu dendam seperti ini. Mungkinkah ini? Dona tersenyum bak malaikat pencabut nyawa yang senang akan memiliki korban baru, alias Dona punya cara baru buat mengolok Rani nantinya.
***
Rani dan Dona sudah bersiap untuk berangkat pergi ke kantornya Rani. Sesuai dengan perkataan Rani, Dona akan berpenampilan seperti dirinya. Dona merasa begitu risih dengan pakaian panjang dan longgar yang dia kenakan sekarang. Dia mematut dirinya di depan cermin. Memang penampilannya terlihat berbeda.
"Kamu itu cantik. Sangat cantik" puji Rani setelah keluar dari kamarnya dengan sebuah tas jinjing berwarna hitam.
"Tapi ribet banget tau, susah geraknya".
"Nggak fleksibel" ujar Dona yang masih mematut dirinya di depan cermin.
"Oh ya, kalau pas ketemu klien. Jangan pakai elu gue ya. Harus sopan, saya anda" Rani mengajari Dona cara berbicara ketika bertemu dengan para kliennya.
"Ya kali gue nggak tau tata krama neng. Gue ngerti kali model beginian. Emang lu belum tau ya bagaimana gue disuruh sama bokap untuk hormat sama rekan-rekan bisnisnya".
"Dulu gue heran kenapa dikenalin, ternyata ada udang dibalik gajah" Dona terlihat kesal ketika dia mengingat papanya untuk menjadi istri muda pak Jaya dulu. Sebelum akhirnya dia diusir dari rumah.
"Bagus dong kalau kamu sudah ngerti, takutnya nanti kamu keceplosan" colek Rani dan mereka pun tertawa. Saat ingat dimana Dona pernah berpura-pura menggoda seorang om-om kenalan Susi teman SMA nya. Awalnya sih baik-baik saja, tidak berselang lama Dona kelepasan bicara dengan mengumpat. Untung saja si om tidak curiga kalau itu Dona bukan Susi. Lumayan, ketemuan langsung dikasih uang dua juta buat shopping. Setelahnya nomer om tersebut di blok oleh Susi.
"Jadi kangen Susi" kata Rani.
"Sama, nanti kita jengukin dia yuk. Pasti sekarang tuh anak sudah lupa sama kita" ucap Dona yang tidak pernah dihubungi oleh Susi lagi. Sudah dua tahun mereka lost contact.
"Yuk kita berangkat, sebentar lagi jam janjiannya" ajak Rani setelah melihat ke jam tangan yang ada disebelah tangan kirinya.
"Gassss" ucap Dona penuh percaya diri.
***
Saat mereka berdua masuk ke dalam ruangan yang sudah dipesan untuk meetingnya dengan Rusdy. Rani terkejut melihat Rusdy dan Ilham sudah berada disana. Rani merasa sedikit khawatir. Berulang kali dia melihat jam tangannya. Masih sekitar lima belas menit lagi waktu ketemuannya.
"Tumben banget datang lebih awal" ucap Rani membatin.
Dona terperangah saat masuk ke dalam ruangan. Dia menemukan sebuah harta karun yang selama ini dia cari. Dua sosok pria yang tampan dan menawan.
"Kalau ketemu yang beginian tiap hari gue mah betah kerjanya".
"Mood booster banget" ucap Dona dalam hati.
"Sudah lama menunggu pak Rusdy" Rani berbasa basi untuk mencairkan suasana.
"Kami baru datang juga bu Rani".
"Silahkan duduk dulu bu" jawab Ilham ramah. Sedangkan si pemilik nama hanya diam membisu masih fokus pada layar laptopnya.
"Terimakasih" ucap Rani tersenyum. Kemudian menghempaskan bokongnya duduk di kursi yang telah tersedia.
Rani terus saja menatap ke arah Rusdy. Dona bisa melihat mata Rani yang tak berkedip sedikitpun saat melihatnya. Meski Rani terlihat kesal, namun ada sebuah guratan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata nampak dari wajah Rani. Mungkin sebuah harapan yang Rani inginkan. Dona kini mengerti situasinya.
"Saya sudah datang disini selama tiga puluh menit" Rusdy akhirnya berbicara. Namun perkataannya menambah kekesalan pada Rani.
Sedangkan Ilham, dari pertama melihat Dona matanya sudah terpesona. Sehingga dia selalu mengumbar senyum ketika matanya dan Dona saling beradu tatap. Hal ini justru membuat Dona menjadi risih Sebelumnya dia merasa senang bertemu dengannya. Kini dia merasa agak kurang nyaman karena selalu dilihati oleh Ilham.