"Maaf bu Rani kalau boleh saya tau, siapa wanita yang ada disamping bu Rani?" Ilham memberanikan diri untuk bertanya tentang Dona pada Rani.
Dona merasa sedikit geli ketika dia mendengar dan melihat sikapnya yang gemulai seperti wanita. Dona beranggapan kalau Ilham adalah golongan para seme. Dona menggelengkan kepalanya, dikala mengingat dia terpesona dengan penampilan Ilham yang maskulin. Badan yang tinggi dan tegap. Hidung yang mancung, kulit wajah yang mulus serta tampan. Rambutnya tertata rapi bak seperti penampilan para CEO drama-drama korea yang biasanya dia tonton.
"Owh, ini sekretaris sementara saya. Dia menggantikan Fitria untuk sementara waktu karena Fitria sedang sakit" jawab Rani seraya memperkenalkan Dona pada Ilham. Rani bisa menyimpulkan jika Ilham sepertinya menyukai Dona. Dia pun tersenyum.
"Saya Ilham" Ilham memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya.
"Dona" jawab Dona singkat dan menyambut uluran tangan tersebut. Satu kata pada tangan Ilham yang dia pegang. "Lembut".
"Benar-benar the real seme ini cowok" kata Dona membatin.
"Gue memang sering ketemu cowok model beginian, tapi ini kok beda ya".
"Tau ah" elak Dona dengan pikirannya yang sedikit meracau.
"Ini untuk model bangunan yang seperti pak Ilham jelaskan sebelumnya. Apakah sesuai dengan kriteria?".
"Kalau belum sesuai bisa kami perbaiki lagi" kata Rani yang menunjukkan hasil design nya pada layar laptopnya.
"Anda kerjasama dengan saya atau dengan Ilham" ucap Rusdy yang dari tadi diam dan tidak menoleh sedikit pun ke arah Rani.
"Saya lihat pak Rusdy sedang sibuk, jadi saya menjelaskannya pada asisten bapa. Apakah saya salah?" kini mata Rani dan Rusdy saling bertatapan. Keduanya memandang begitu sengit. Seolah telah lama menjadi musuh.
"Sekarang bu Rani bisa menjelaskannya kepada saya. Saya akan mendengarkan penjelasan dari bu Rani" Rusdy berbicara dengan lembut dan menyunggingkan sebuah senyuman.
"Ya allah, kenapa hatiku jadi deg degan begini melihat senyumnya" Rani membatin setelah melihat senyuman Rusdy.
"Baik pak Rusdy" Rani mencoba bersikap profesional dalam bekerja. Dia tidak ingin terlihat kalau dirinya kini tengah dilanda rasa grogi yang berlebihan.
Selama penjelasannya didekat Rusdy, Rani sungguh menahan rasa gugupnya dengan sekuat tenaga. Namun tetap saja terlihat dia begitu gugup. Tanpa sengaja dia menjatuhkan pulpen. Setelahnya menyenggol minum Rusdy hingga tumpah ke badannya. Rani yang merasa bersalah pun menjadi panik dengan mengusap celana yang dikenakan Rusdy dengan tangan. Tanpa sengaja malah tangannya menggosok ke area sensitif milik Rusdy. Wajahnya memerah karena malu dan menatap ke arah wajah Rusdy. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Rusdy.
"Sudah tidak apa-apa. Nanti saya akan pulang ganti pakaian" ucap Rusdy dengan rasa canggung. Dona dan Ilham tidak melihat kejadian yang sedikit erotis tadi karena mereka tengah sibuk untuk mencek semua laporan untuk kerjasama ini.
"Maafkan saya pak, saya akan ganti rugi untuk biaya laundry nya" kata Rani yang merasa tidak enak hati dan juga malu. Untuk pertama kalinya dia memegang bagian intim milik laki-laki. Meski tidak sengaja. Dia merasa begitu malu sekali. Apalagi dengan pakaian tertutupnya. Rani takut kalau Rusdy akan berpikiran yang bukan-bukan tentang dirinya.
Rusdy yang dia anggap sebagai pria dingin seperti kulkas ternyata bisa terlihat malu dan juga bersikap ramah. Ada desiran dalam benaknya ketika mengingat senyum manis milik Rusdy tadi. Rusdy pun langsung minta izin pamit, berkata kalau dia puas dengan hasil desain yang sudah dirancang oleh Rani. Untuk lebih lanjutnya, dia menugaskan Ilham menyelesaikan semuanya.
Rani menghempaskan bokongnya pada sofa yang ada di kantornya. Sesekali dia mengusap wajahnya seperti sedang frustasi. Dona yang melihat pun menjadi bingung.
"Lu kenapa neng? Barusan habis meeting kaya lagi depresi aja".
"Meeting tadi kan berjalan lancar dan klien lu si pak Rusdy juga merasa puas dengan hasil kerja lu. Kenapa frustasi gitu lu?".
"Sadar woy... Sadar" Dona menepukkan tangannya di depan wajah Rani.
"Kamu tau apa yang baru saja aku lakukan" Dona menggelengkan kepalanya karena tidak mengerti dan juga tidak tahu.
"Aku... Aku tadi. Ah.... " Rani benar-benar dilanda frustasi. Sesekali menjerit dan seperti hendak menangis namun tidak mengeluarkan air mata. Dona hanya heran dengan temannya ini. Apa sedang kesurupan atau lagi gila dadakan?
"Coba lu bicara yang jelas, diceritakan pelan-pelan. Biar gue ngerti. Kalau lu kaya begini-begini mana gue tau maemunah" Dona mempraktekkan gaya Rani yang sedang frustasi tadi.
"Aku pegang burungnya Rusdy" kata Rani secara tiba-tiba.
"Oh cuma perkara burung, dikira apaan tadi" ucap Dona santai dan mendapat tatapan sinis dari Rani.
"Kenapa? Kan cuma karena burung. Aneh lu jadi begini" Dona terlihat cuek untuk beberapa saat. Tiba-tiba dia berbalik ke arah Rani dan mengangkat alisnya dan menatap ke bagian bawah seolah-olah mengisyaratkan sebuah kode. Rani mengangkat kedua alisnya mengiyakan. Sekarang mereka berdua tengah berbicara dengan bahasa isyarat menggunakan mata.
"Seriusan lu".
"Lu beneran pegang burung tongkolnya" teriak Dona karena terkejut dengan kejadian yang dialami oleh Rani. Rani pun mengisyaratkan Dona untuk berdiam, meletakkan satu jari pada mulut bibirnya.
"Jangan berisik, nanti kedengaran sama yang lain. Malu tau" kata Rani. Kini Dona malah tertawa terbahak-bahak. Dia membayangkan betapa malunya sahabatnya tadi dan juga Rusdy dengan kejadian barusan. Konyol, itu adalah hal terkonyol yang baru dia dengar.
"Pantas saja pak Rusdy langsung pamit pulang, ternyata dilecehkan oleh temanku ini rupanya" goda Dona membuat Rani jadi emosi.
"Siapa yang berniat melecehkan? Itu tidak disengaja. Hanya respon panik dan tercepat saja".
"Bukan disengaja. Aku rasa pak Rusdy mengerti" Rani mencoba untuk mensugesti dirinya kalau Rusdy tidak akan marah dan merasa tersinggung dengan kejadian tadi.
"Siapa tau dia ketagihan sama sentuhanmu?" Dona tidak hentinya menggoda Rani hingga wajahnya bersemu merah karena menahan malu. Rani tidak berani membayangkan jika dirinya memegang benda pusaka itu. Rani menggeleng kepalanya berkali-kali.
"Hayo, lu mikir yang aneh-aneh ya. Tuh kan, ternyata lu yang ketagihan pengen pegang lagi. Emang dasar, ternyata lu ngebet pengen nikah ya" sekali lagi Dona menggoda sambil tertawa renyah yang membuat Rani tak berkutik dan hanya diam melihat tingkah sahabatnya yang merasa puas sudah membully dirinya.
Rani hanya bisa memejamkan matanya dan memijit pelipis nya yang sedikit nyeri. Dia jadi bingung sendiri jika akan bertemu lagi dengan Rusdy. Sepertinya dia tidak punya muka untuk bertatapan dengannya. Malu, pastinya.
"Astaga! kenapa bisa begini?" Rani merasa dirinya begitu ceroboh hanya karena gugup duduk di dekat Rusdy. Dia tidak memungkiri jika Rusdy memang mampu memikat hatinya. Tatapan matanya yang tajam seperti elang, seakan mampu menghipnotisnya. Sikap dinginnya yang terkesan cuek tapi terlihat sangat keren sehingga membuat dirinya begitu penasaran dengan sosok Rusdy.