Dona Usil

1016 Words
"Don, kamu balik duluan saja. Aku mau pergi ke mall dulu beli sesuatu. Setelahnya aku mau ke rumah sakit jengukin Fitria" ucap Rani ketika membereskan meja kerjanya. "Mall? Ikut dong gue, masa iya lu mau jalan nggak ngajak gue. Curang lu" sungut Dona pura-pura kesal "Bukannya tidak mau ngajak, aku malu gara-gara kejadian tadi Dona" Rani menjerit histeris. Seakan dunianya telah hancur dan runtuh. Spontan Dona tertawa melihat sahabatnya itu seperti orang yang sedang depresi. "Jangan-jangan lu suka ya sama pak Rusdy" Dona langsung nembak gelagat dari Rani yang seperti orang telah hancur reputasinya. "Tidak... " jawab Rani dengan cepat. "Aku tidak mau dia nanti mikirnya aku perempuan yang tidak bener. Dikiranya aku perempuan yang memang suka bermain-main dengan banyak laki-laki" Rani menerangkan isi dalam hatinya. Namun yang tertangkap dari pandangan Dona, Rani memang ada memiliki rasa. Tapi enggan untuk jujur mengatakannya. "Itu namanya naksir neng". "Ya sudah kita jalan nge mall. Shopping... Shopping. Gue mau ganti baju dulu, soalnya gerah banget pakai baju kek beginian" ujar Dona sambil menenteng sebuah ransel coklat. "Bawa baju ganti rupanya" ucap Rani ke arah Dona. Dona mengangkat keningnya dan tersenyum kecil kepada Rani. Rani hanya terkekeh melihat sahabatnya itu. Setidaknya cukuplah Dona mau berpakaian tertutup kerja sama dia. Daripada Dona berpakaian seperti biasanya mengenakan jeans robek, baju t-shirt atau kemeja. Setelahnya Rani menunggu Dona berganti pakaian di kamar mandi kantor. "Berangkat yuk" ajak Dona yang sudah selesai dia berdiri disamping Rani. Tuh kan, jeans robek di lutut. kaos berwarna navy bagian dalam, dilapisi kemeja berwarna hitam bergaris. Jangan lupa topi kesayangannya. Sekarang wajah Dona sudah no make up. Pure, tampilan wajah yang polos tanpa polesan make up apapun. Sebenarnya Dona cantik. Hanya sedikit bar bar dan tomboy saja. Rani hanya menggelengkan kepalanya melihat dandanan yang sudah menjadi penglihatan dia tiap hari. "Ayo, kita makan dulu ya. Baru temani aku belanja" kata Rani kemudian masuk ke dalam mobilnya. "Oke. Lagian anak tiri gue sudah konser nih dalam perut" tunjuknya pada perut ratanya sambil tertawa dan masuk ke dalam mobilnya. Meski kerja di kantor yang sama, tetap saja mereka memakai mobil masing-masing. Kalau bukan karena membantu Rani, Dona pasti ogah kerja kantoran yang bisa bikin dia pusing. Ponsel Dona berdering, ada nomer baru memanggil. Dona membiarkan saja, dia tidak mau mengangkat panggilan siapapun yang tidak ada dalam kontaknya.Terkecuali orang itu telah mengirimi dia pesan jika memang ada keperluan dengan dirinya. Semenjak hidup mandiri, Dona memilih jaga jarak dengan orang baru. Mobil Rani sudah sampai di parkiran sebuah mall ternama di kota ini. Disusul oleh Dona. Panggilan dari nomer yang sama terus saja berdering pada ponsel milik Dona. "Siapa sih?". "Halo, siapa nih?" tanya Dona langsung ke pemilik nomer yang menghubunginya. Namun hening tak ada suara. "Gila lu ya. Woy, siapa lu? Rese amat". "Kalau lu ada urusan penting sama gue ngomong, kalau lu bisu nggak bisa ngomong kirim pesan. Kalau lu nggak bisa ngetik buat ngirim pesan ngapain lu punya HP". "Mau gaya-gayaan, dasar orang aneh" gerutu Dona kesal. Rani yang sudah berada di luar kaca mobil Dona mengernyitkan dahinya bingung melihat Dona marah-marah. "Kenapa? Lagi kumat ya" ledek Rani. Dia sudah bisa menebak, pasti ada panggilan dari orang baru. Biar tampilannya Dona seperti ini, dia banyak memiliki secret admire. Apalagi para pria yang jadi langganan di klub tempatnya bekerja. Banyak yang mengejar namun tak ada satu orang pun yang digubris olehnya. Heran juga sama ini cewek, tipe cowok idaman dia seperti apa. Rani selalu penasaran ingin tahu. "Tau tuh nggak jelas, nelpon mulu dari tadi kaya deep collector. Pas diangkat hening kaya kuburan" celotehnya bernada kesal. Rani hanya tertawa melihat raut wajahnya. Setiap bersama dengan Dona dia selalu bisa melupakan masalah ataupun kesedihannya seperti sekarang. Itulah untungnya punya teman diluar jalur normal alias sedikit kurang seons. "Kita makan dulu yuk, biasa tempat biasa kita makan" ajak Rani. "Ok" jawab Dona singkat. Keduanya asyik menikmati makanan mereka sambil bercerita dan tertawa entah apa topik utamanya. Namun tiba-tiba mata Dona tertuju pada pemandangan yang mengejutkan. Dia melihat Ryan berjalan dengan seorang wanita merangkulnya begitu mesra. "Melihat apaan?" tanya Rani heran kemudian berpaling. Kaget, pastinya. Baru tadi malam diputusin pertunangan oleh Rani sekarang sudah jalan dengan perempuan lain. Hebat, memang playboy cap kadal sejati. "Ternyata hobinya ngerusakin anak orang ya tu cowok" Dona bergumam kesal sambil menyendok makanan dipiringnya dengan kasar. "Kita ikutin yuk" Dona memberikan usulan yang menurut Rani aneh. "Buat apa? Aku tidak ingin berurusan lagi dengan pria brengs*k seperti dia". "Nanti dia besar kepala, dikiranya aku cemburu dia jalan sama perempuan lain" ucap Rani yang menolak usulan Dona. "Emangnya lu nggak khawatir kalau tuh cowok bakal nyakitin cewek lain kaya sekretaris lu Fitria. Sesama perempuan kita harus saling melindungi saja". "Ini murni ketulusan gue nggak pengen tuh cewek dirusak kaya Fitria. Bukan karena unsur dendam. Jangan sampai ada lagi Fitria Fitria lainnya diluar sana yang jadi korban kebejatannya neng" Rani tampak berpikir dengan ucapan sahabatnya yang cukup masuk akal. Memang salah kalau dia membiarkan ada korban selanjutnya dari Ryan. Tapi dia juga tidak ingin ikut campur lagi dengan urusan Ryan. "Kita kerjai dia aja, nggak lebih" usul Dona yang melihat wajah Rani sedikit ragu. "Janji, cuma mengerjainya sajakan" kata Rani dengan tegas. Dona pun mengangguk dengan mantap. "Yuk jalan" Rani menyetujui usul Dona. Sedikit bersenang-senang mengerjai mantan tunangannya Rani rasa cukup untuk membalas pengkhianatan yang telah dilakukan oleh Ryan. Mereka mengikuti Ryan dari belakang, kini mereka melihat dia masuk ke dalam sebuah toko tas yang cukup ternama. Ide gila muncul dalam otak Dona. Dia mengikuti masuk dan mengambil sebuah tas kulit yang harganya lebih dari lima juta. Kemudian dia pergi ke kasir. "Mba aku boleh nitip ini disini?" kata Dona membuat si kasir bingung. Mungkin berpikir dia beli atau tidak. "Gini lho mbak, cowok yang ada disana itu tunangan saya. Dia lagi jalan sama selingkuhannya alias pelakor" perkataan Dona berhasil membuat kaget si kasir. "Jadi kalau dia mau bayar, sekalian masukan tagihan tas ini di tagihannya dia ya mba" si kasir sedikit heran namun karena dibujuk terus oleh Dona akhirnya si kasir mengiyakan. Dengan janji, jika Ryan tidak jadi beli. Maka Dona yang akan membayar tas yang dia ambil tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD