Sekitar lima belas menit mereka menunggu, akhirnya Ryan dan si wanita yang di gandengnya berdiri di depan kasir untuk membayar sebuah tas yang sudah dipilih oleh wanita tersebut.
"Rupanya begini cara Ryan untuk membujuk para wanita yang ingin dikencaninya?" ucap Rani tanpa dia sadari. Dona melirik ke arah Rani yang begitu intens menatap ke arah dua sejoli yang berdiri di depan kasir sambil berbincang dan tertawa bahagia.
"Lu cemburu ya?" tanya Dona yang masih memperhatikan Rani.
Mereka sedang duduk di sofa disamping etalase tas. Jarak mereka dari Ryan kurang lebih sekitar lima meter. Namun Ryan tidak memperhatikan sekitar karena saking fokusnya kepada calon mangsanya yang baru. Sedangkan Rani dan Dona pura-pura membaca majalah tentang tas-tas ternama yang kini tengah dipasarkan.
Sikasir pun menanyakan pembayarannya lewat apa? Ryan pun langsung mengeluarkan kartu debitnya. Setelah proses transaksi selesai, si kasir pun memberikan kartu Ryan kembali. Setelahnya memberikan struk pembelian tas yang dibawa oleh wanitanya Ryan. Sang wanita begitu sangat senang menerima paper bag yang membungkus tas cantik tadi. Wajahnya begitu berbinar diajak shopping gratis oleh Ryan. Namun hal yang berbeda dari wajah Ryan, dia terlihat bingung mungkin dengan nominal yang tertera pada struk pembelian tas tadi. Selang tidak berapa lama, terjadilah perdebatan antara si kasir dan juga Ryan.
Dona bertepuk tangan dan berjalan menghampiri Ryan dan wanita tadi. Begitu pula dengan Rani yang berjalan disamping Dona. Ryan terlihat sangat terkejut ketika melihat penampakan Rani ada di dalam toko dia berada saat ini.
"Kenapa? Kaget ya".
"Oops... Sorry. Aku juga pengen ditraktir beliin tas. Masa selama jadi tunanganku kamu tidak pernah membelikan apapun untukku".
"Tapi buat dia kok Royal sekali kamu Ryan" ucap Rani dengan santai namun hatinya begitu meradang. Dia mencoba bersikap santai untuk menghadapi manusia licik seperti Ryan mantan tunangannya ini. Bersikap berani, tangguh, dan tak mudah dikalahkan seperti novel-novel wanita mandiri yang biasa dia baca di aplikasi membaca online.
"Apa maksudmu Rani?" tanya Ryan yang berpura-pura bingung.
"Kamu jangan salah paham, dia sekretarisku. Aku menghadiahkan dia sebuah tas karena dia sudah bekerja keras selama satu tahun ini" Ryan mencoba membujuk Rani untuk tidak salah paham.
"Maksudnya bekerja keras karena sudah memuaskan dirimu" perkataan Rani sungguh membuat wajah si wanita menjadi merah, mungkin karena malu. Sedangkan wajah Ryan memerah karena meradang menahan amarah yang bergejolak dalam hatinya.
"Kamu jangan bicara sembarangan Rani" tutur Ryan yang masih mengelak.
"Apakah dia akan bernasib sama dengan Fitria? Setelah puas dijamah, kamu singkirkan seperti sampah yang tak berguna" Rani sudah mulai meledak karena dia berbicara sedikit lantang saat mengatakan "seperti sampah yang tak berguna". Sontak hal ini mengundang banyak perhatian dari para pengunjung yang ada di mall untuk melihat keadaan di dalam toko tas tersebut.
"Kamu adalah laki-laki b*jing*n yang sangat tega melukai perempuan Ryan. Apa kamu tidak sadar kalau kamu terlahir dari rahim seorang perempuan juga?".
"Aku tidak peduli apa yang akan kamu lakukan kepadanya? Namun aku benci apa yang sudah kamu lakukan kepada Fitria? Kamu rusak hidupnya, kamu hancurkan dirinya. Selain itu juga kamu sudah membunuh anak yang ada dalam kandungannya. Kamu adalah seorang pembunuh Ryan. Kamu begitu tega membunuh anakmu sendiri, darah dagingmu" perkataan Rani yang bernada rendah namun terkesan begitu dingin. Membuat si wanita yang bersama Ryan tadi terlihat takut.
"Untuk kamu, berhati-hatilah. Jaga dirimu, jangan sampai kamu dicampakkan seperti sekretarisku" pesan Rani kepada Ryan.
Rani merogoh ponsel dan membuka aplikasi bangking. Kemudian mentransfer sejumlah uang ke rekening Ryan yang memang dia tau, karena terkadang Ryan meminjam sejumlah uang kepadanya dengan alasan keuangan perusahaan yang dikelolanya minim pemasukan. Sehingga untuk bayar gajih karyawan kurang. Kini Rani sudah berhasil mentransfer uang sesuai harga tas yang tadi dihitung oleh si kasir.
"Sudah aku ganti" Rani memperlihatkan bukti transaksi berhasil.
"Aku pun segera mengganti posisimu dengan pria lain yang jauh lebih baik. Bukan pria br*ngs*k sepertimu" ucap Rani berbisik ditelinga Ryan. Kemudian berjalan meninggalkan Ryan menuju kasir untuk mengambil tas yang diberikan oleh Dona tadi.
Dona hanya tercengang dengan sikap Rani yang tidak sesuai ekspektasinya. Padahal Dona berniat untuk memaki Ryan dengan umpatan-umpatan kasar. Namun Rani membalasnya dengan cara yang lebih cerdik dan elegan. Berbeda jauh dengan dirinya yang begitu bar-bar dan mudah tersulut emosi. Dia harus lebih banyak belajar mematahkan musuh dengan cara seperti Rani ini. Terutama menghadapi istri baru papanya yang sangat dia benci.
Ryan masih terdiam menahan amarah dan rasa malunya. Dia mengepal tangannya begitu erat. Setelahnya pergi dari toko tas tersebut meninggalkan Rani dengan Dona. Wanita yang datang bersamanya tadi pun Ryan tinggalkan begitu saja. Meski dia terus memanggil namanya, Ryan tak berpaling sedikit pun ke arahnya. Si wanita tadi hanya memanyunkan wajahnya karena kesal ditinggal sendiri.
"Mending mba jauh-jauh deh sama dia. Daripada berakhir dirawat di rumah sakit seperti sekretarisnya" tunjuk Dona ke arah Rani. Saat dia berbicara dengan si wanita tersebut.
"Masih untung juga kalau cuma dicelakainya, coba kalai dibunuhnya apa tinggal nama saja. Mengerikan bukan" Dona menghasut si wanita itu untuk pergi menjauh dari Ryan. Bukan karena cemburu atau apapun. Hanya semata untuk kebaikan si wanita itu sendiri. Sebagai sesama wanita bukankah harus saling melindungi. Dona hanya berpikir sudah kewajibannya untuk saling membantu satu sama lain.
"Nih tasnya" Rani menyerahkan tas jinjing yang dipilih oleh Dona tadi.
"Kok dikasihin ke gue. Kan lu yang bayar, jadinya ini punya lu lah" Dona mengembalikan tas tersebut kepada Rani.
"Anggap saja ungkapan terimakasih dari aku. Pertama udah ijinin aku tinggal di apartemenmu" ucap Rani.
"Ah itu biasa aja kali, malah gue yang senang lu mau nemani gue. Jadinya gue nggak kesepian dan sendirian lagi di apartemen" ungkap Dona.
"Tapi thanks banget lho. Terus yang kedua".
"Kamu udah ngasih ide buat ngerjai Ryan, aku rasanya puas dan lega telah mengeluarkan rasa kecewaku yang salah menganggap dia adalah laki-laki baik yang sangat begitu terhormat".
"Nyatanya pencari nikmat s**********n" gerutu Rani sangat kesal.
"Kita pulang saja ya. Aku rasanya lelah banget, energiku terkuras banyak karena menghadapi Ryan tadi" Rani melenturkan otot-otot tangan, dan lehernya. Seolah-olah dia baru saja selesai angkat beban. Tapi beban yang diangkat adalah beban derita dalam hati.
Sesampainya mereka di parkiran mobil, terlihat Ryan sudah menunggu kedatangan Rani. Wajah tampannya menampilkan tatapan yang begitu dingin. Sorot mata yang begitu tajam, seakan ingin menerkam mangsa dan mencabik-cabiknya menjadi butiran debu.
"Ngapain Ryan disitu ya, jangan-jangan mau bikin perhitungan" ucap Rani.
"Tenang aja, ada gue. Bakal gue bikin dia jadi daging perkedel" sambung Dona yang tidak mendapat respon dari Rani.
"Apa maksudmu dengan semua ini Rani?" tanya Ryan datar tanpa ekspresi.
"Apa gunanya pakaian tertutupmu dan kerudung yang menutupi kepalamu? Jika sifatmu suka mengumbar aib orang. Bukankah menutup aib seseorang itu kewajiban Rani" ucap Ryan dengan tatapan penuh kebencian dan amarah.
"Eh lu jangan nyolot begitu dong, kan emang elu yang salah" teriak Dona lantang.
"Diam kamu anj*n*" Ryan mendorong Dona sangat keras hingga dia terjatuh. Sedangkan Ryan mencoba untuk meraih kerudung yang ada di kepala Rani.
"Lepas saja kerudung sialanmu itu Rani, kamu itu sama saja dengan mereka".
"Bukankah kamu iri karena tidak pernah aku sentuh, sebegitu ingin kah kamu disentuh olehku?".
"Maka aku memuaskan hasratmu sekarang, biar adegan yang aku lakukan menjadi tontonan bagi banyak orang nantinya" Ryan tersenyum dan tertawa seperti orang gila.
"Kamu itu sakit Ryan".
"Jangan mendekat, kumohon" Rani kali ini ketakutan dan merutuki kejadian sebelumnya. Seharusnya dia tidak usah berurusan lagi dengannya.
Disaat Ryan mencoba untuk menarik kerudung penutup kepala Rani. Ada sebuah tangan kekar yang memegang tangan Ryan dan mencegahnya untuk membuka kerudung Rani.
"Siapa kamu?" tanya Ryan