"Siapa kamu?" tanya Ryan.
Sebuah pukulan melayang ke arahnya, Ryan pun langsung tersungkur. Dia memegangi pipinya yang terasa sakit. Serta rasa ngilu pada rahangnya.
"Sial, kuat sekali pukulan pria ini".
"Siapa dia sebenarnya?" ucap Ryan dalam hati.
"Jangan beraninya sama perempuan".
"Laki-laki sejati tidak akan pernah berbuat kasar kepada perempuan yang seharusnya di lindungi" ucapnya sambil memelintir pergelangan tangan Ryan ke belakang.
"Aduh sakit, aduh... ".
"Tolong lepasin" teriak Ryan. Pria itupun langsung melepaskan tangan Ryan yang dipegangnya ke belakang.
"Sial. Tunggu pembalasanku kepada kalian" tunjuknya kepada semuanya.
"Terutama kamu Rani. Hari ini kamu permalukan aku. Aku akan balas perlakuanmu ini. Ingat itu" ancam Ryan dengan mata yang menatap tajam seakan ingin menerkam buruannya.
Ryan pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan parkiran mall. Dengan bunyi decit ban yang nyaring, mobil Ryan melaju cepat dan hilang dari pandangan Rani, Dona dan pria yang menolong mereka berdua.
"Kamu baik-baik saja" ucapnya sambil mengulurkan tangan kepada Dona. Dia merasa tersipu mendapatkan perlakuan yang begitu manis dari pria yang ada dihadapannya. Tidak disangka ternyata dia pria yang gentleman. Dengan malu-malu dia menerima uluran tangan yang ingin membantu dia berdiri.
"Terimakasih Ilham" ucap Dona. Mata Ilham menyipit memandangi wajah Dona. Si pemilik wajah langsung bersemu merah karena malu diperhatikan seperti itu. Dia pun menatap ke arah Rani.
"Bu Rani, apa bu Rani terluka karena perlakuan pria tadi?" tanyanya kepada rekan kerjanya yang baru tadi pagi selesai melakukan meeting.
"Saya baik-baik saja. Terimakasih sudah menolong kami" ucap Rani sambil merapikan kerudungnya yang terlihat berantakan karena Ryan mencoba untuk menarik paksa.
"Sebenarnya siapa pria tadi ya bu Rani".
"Maaf, bukannya lancang ingin tahu persoalan bu Rani. Hanya saja saya sedikit mencemaskan bu Rani dan... "
"Dia teman bu Rani?" tanyanya kepada Rani sambil menunjuk ke arah Dona.
"Ah, lu nggak ngenalin gue".
"Busyet dah. Lu nggak mengenali muka gue" Dona tampak terkejut dengan respon Ilham yang menggelengkan kepalanya.
Dia pun menepuk dahinya. Dia berharap respon Ilham yang mengenali dirinya. Untuk pertama kalinya dia merasa kagum terhadap seorang pria. Pria yang tadi pagi dianggapnya seperti banci, karena pembawaannya yang lembut dan juga kemayu. Sikapnya dan tutur katanya yang begitu sopan bak seorang wanita. Hingga membuat Dona berpikir kalau dia kaum pelangi. Makanya ketika pagi tadi Ilham mencoba untuk mendekatinya dia merasa risih dan juga illfeel.
"Ya sudah kalau kamu tidak mengenali aku" kata Dona dengan suara rendah dan juga kata yang lebih sopan. Tidak berbicara lu gue. Rani pun tercengang mendengarnya.
"Maaf ya" Ilham menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Soalnya dimataku sudah ada bayangan seorang wanita. Jadi aku tidak mengingat orang baru aku kenal" ucapnya membuat Dona merasa tersinggung. Dona pun cemberut, menekukkan mukanya karena kesal.
"Oh ya, pak Ilham kebetulan ada disini lagi bersama dengan pak Rusdy ya" kata Rani dengan mata berbinar ketika menyebut nama Rusdy.
"Saya sendirian saja, lagi beli hadiah untuk seseorang" jawabnya mendapatkan perhatian dari Dona.
"Wanita?" tanya Rani.
"Iya" jawab Ilham.
"Beruntung sekali perempuan yang memiliki pak Ilham" Rani tersenyum memuji Ilham yang menurutnya merupakan pria idaman wanita karena begitu baik attitudenya.
"Malah saya yang beruntung memiliki perempuan seperi dirinya. Dia yang selalu mendoakan dan mendukung setiap langkah saya" Ilham mengungkapkan rasa kagumnya kepada wanita yang dianggapnya penting didalam hidupnya.
"Oh ya, kalau masalah pria tadi tidak usah terlalu khawatir. Dia mantan tunangan saya" Rani menjelaskan perihal hubungan dirinya dengan pria tadi.
"Owh begitu ya. Maaf ya bu Rani jadi ikut campur masalah kehidupan bu Rani" Ilham merasa sedikit kurang nyaman setelah mengetahui tentang pria itu tadi.
Ilham menjadi geram, saat dia melihat Ryan mendorong Dona hingga terjatuh di lantai parkiran. Melihat hal itu dia menjadi berang. Dia teringat dengan perlakuan ayahnya yang memukuli ibunya ketika ayahnya kesal. Dimatanya perempuan tidak pantas untuk dijadikan pelampiasan kekesalannya semata. Oleh sebab itu ibunya selalu berpesan untuk menjaga dan melindungi perempuan, siapapun dia.
"Yuk Ran, kita pulang" ajak Dona dengan malas menatap ke arah Ilham.
"Bu Rani mau pulang, padahal saya tadi sebenarnya ingin minta tolong temani saya cari hadiah".
"Tapi kalau bu Rani mau pulang hati-hati di jalan ya bu" ucap Ilham sopan.
"Tidak usah terlalu formal, panggil saya Rani saja kalau diluar jam kerja" kata Rani yang merasa kurang nyaman mendengar panggilan formal dari Ilham.
"Kalau begitu bu Rani jangan panggil saya bapa, cukup nama saja" balas Ilham.
"Baiklah Ilham".
"Terimakasih Rani" sedikit canggung namun jauh lebih enak didengar dan terlihat lebih akrab jadinya.
"Sebenarnya saya tidak terlalu sibuk juga, saya akan temani kamu cari hadiah untuk perempuan yang kamu sayangi itu Ilham".
"Don, kamu ikut kan?" tanya Rani kepada Dona yang masih terlihat kesal. Rani pun tidak mengerti dengan perubahan wajah sahabatnya itu.
"Dia Dona" tunjuk Ilham kepada Dona.
"Emang iya, emang lu kira siapa?" sahut Dona masih dengan mimik wajah kesal.
"Astaghfirullah, kok kamu berpenampilan seperti ini?" tanya Ilham setelah beristighfar karena saking terkejutnya melihat penampilan Dona yang kasual. Tidak dalam balutan baju muslimah. Sebenarnya memang sangat jauh berbeda, hal ini sungguh bisa mengelabui orang-orang.
"Kalau begitu kita kenalan lagi" kata Dona.
"Kenalin nama gue Dona, pekerjaan gue bartender salah satu klub disini".
"Gue cuma menggantikan Fitria yang sedang sakit, jadi gue bukan karyawan Rani. Gue sahabatnya" dengan penuh percaya diri dan mantap Dona memperkenalkan dirinya. Ilham mengerutkan dahinya menautkan kedua alisnya. Kemudian tersenyum.
"Kamu unik".
"Kamu mau menemani saya mencari hadiah" Ilham mengajak Dona untuk menemaninya dengan tatapan penuh harap. Jauh berbeda permintaan dia terhadap Dona dan juga Rani tadi.
"Mau kan" Ilham mengulangi kata-katanya lagi saat melihat Dona yang masih tampak berpikir.
"Bolehlah" jawab Dona dengan mimik wajah yang sulit diartikan.
Dia berjalan lebih dulu melewati Ilham yang masih berdiri. Ilham mengembangkan senyumnya. Sedangkan Dona juga tersenyum, namun dia langsung menghilangkan senyumnya ketika melihat sorot mata Rani yang menatap ke arahnya. Dia tidak ingin Rani melihat kegembiraan yang kini tengah melanda hatinya.
"Kamu tersenyum" ledek Rani saat mereka berjalan berdampingan.
"Apaan sih. Nggak ada kali" ucap Dona malu-malu karena ketahuan oleh Rani.
"Jangan-jangan....." Rani menggoda sahabatnya yang kini memancarkan aura bahagia di wajahnya.
"Jangan mengada-ada kamu. Gue nggak suka Ilham kok" ucap Dona keceplosan.
"Aku tidak bilang kamu suka dia" Rani tersenyum menggoda Dona.
"Kalau kamu memang suka, aku doain semoga berjodoh" kata Rani setelahnya mendapat cubitan dipinggang oleh Dona.