Saling Menyukai

1015 Words
"Ilham kamu mau cari hadiah seperti apa?" tanya Rani kepada Ilham. "Tidak tahu juga, saya pun bingung". "Saya ingin yang spesial untuk hari ulang tahunnya" kata Ilham dengan senyum bahagia yang mengembang di bibirnya yang berwarna pink alami. Terlihat kalau dia bukan seorang perokok. "Kalau kalung saja bagaimana?" tanya Rani kepada Ilham. "Bisa, nanti bantu pilihin ya Rani". "Kamu juga Dona, bantu pilihin ya" ucapnya kepada Dona yang terlihat canggung karena perasaan gugup dan juga bercampur kesal. Mungkin Dona sedang merasakan cemburu. Rani mengenal Dona begitu lama, sehingga sangat tau apa yang Dona rasakan. Rani hampir saja tidak percaya kalau dia sekarang melihat Dona yang biasanya pecicilan kini terlihat lebih diam. Curi-curi pandang ke arah Ilham. Dia benar-benar sangat menyukai Ilham Rupanya. Rani pun tersenyum bahagia. "Akhirnya kamu bisa merasakan cinta" ucapnya dalam hati. Mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam toko perhiasan. Rani dan Dona terlihat begitu sangat senang ketika masuk ke dalam. Betapa tidak bahagia, pemandangan mata yang sungguh menakjubkan. Berbagai bentuk dan macam perhiasan yang ditampilkan dalam etalase kaca. Mereka berdua pun langsung memilih untuk mencarikan hadiah untuk Ilham. Namun Dona tertarik dengan sebuah cincin permata yang berbentuk sederhana namun terlihat elegan. Dia meminta si penjaga untuk mengambilkan itu untuknya. "Cantik, pas dijari manismu" ucap Ilham di samping Dona. Tepat ditelinganya. Membuat Dona terkejut dan merasakan ada desiran aneh menjalari tubuhnya. "Apa kamu mau itu?" tanya Ilham. Dona tidak bisa fokus atas ucapan Ilham tadi. Dia begitu gugup hingga sulit untuk bersuara. Untuk pertama kalinya dia merasakan hal seperti ini. "Cuma mau liat aja, soalnya terlihat cantik" jawab Dona asal. "Kamu juga cantik. Jadi sangat pas dan cocok untuk kamu pakai" Ilham tersenyum manis di hadapan Dona, benar-benar membuat jantungnya berdebar kencang. Seakan ingin meledak saja karena dia dibuat gugup oleh sikap Ilham yang sangat begitu manis. "Dasar tukang gombal" ucap Dona. "Ini mba, lain kali aja" Dona pun meninggalkan Ilham, berpura-pura terlihat kesal karena menutupi rasa gugup dan senangnya dipuji Ilham cantik. Ilham memberi kode ke pelayan toko yang menjaga etalase cincin yang dilihat Dona tadi. "Simpan dulu ya, nanti saya ambil" pesannya dibalas anggukan oleh si penjaga tadi. "Ham, menurutmu bagaimana ini?". "Aku rasa ini sangat cantik. Cocok untuk segala usia. Mau muda ataupun tua yang memakainya pasti cocok. Selain bentuknya juga sederhana. Jadi kesannya indah" Rani menjelaskan pendapatnya tentang kalung yang dia pilih. Sedangkan Dona masih melihat-lihat. "Kalau pilihan kalung darimu yang mana Dona?" tanya Ilham membuat Dona menjadi tambah gugup. "Oh itu, aku pilih yang itu" tunjuknya pada sebuah kalung yang berbentuk seperti bulan sabit dan dipinggirannya dihiasi permata. "Cantik". "Bungkus kedua kalungnya" ucap Ilham kepada si penjaga toko lainnya. Dia pun langsung mengambil kedua kalung tersebut dan menyimpannya dalam box perhiasan. Ilham melakukan pembayarannya dan sebungkus paper bag pun diberikan setelah transaksi selesai. "Bagaimana kalau kita makan dulu? Anggap saja ucapan terimakasih saya kepada kalian berdua yang sudah membantu saya" tawar Ilham kepada Rani dan Dona. "Baiklah, kebetulan aku juga lapar. Jarang-jarang kan kita bisa bertemu dan mengobrol seperti ini" kata Rani yang mengambil kesempatan ini untuk mendekatkan Dona dengan Ilham. Dona menyikut Rani seperti ketidak setujuannya. "Baiklah kalau begitu kita makan dimana?" tanya Ilham kepada Rani. "Resto diatas sana enak. Bagaimana kalau kita makan disana saja" ajak Rani. "Baiklah" jawab Ilham tersenyum. Rani dan Dona melangkah lebih dulu diikuti oleh Ilham dibelakang mereka. Berasa sedang ditemani oleh bodyguard mereka berdua. "Ngapain sih, menerima ajakan dari Ilham. Kita kan bisa langsung pulang saja" kata Dona yang protes dengan sikap Rani. "Sekali-kali, kan ditraktir juga. Kurang sopan kalau kita menolak tawaran darinya" kata Rani yang berbisik-bisik dengan Dona. "Dasar" tapi sebenarnya Dona merasa senang karena bisa menghabiskan waktu bersama. Mereka bertiga pun akhirnya duduk bersama didalam resto yang dimaksud oleh Rani tadi. Ilham memesankan makanan untuk mereka bertiga setelah berkonsultasi dengan Rani makanan yang paling hits, paling populer yang dijual di resto ini. Sedangkan Dona hanya diam membisu mendengarkan mereka berdua ngobrol. Dona berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Agar dia tidak merasa gugup dan canggung jika berhadapan dengan Ilham. Kini mereka duduk saling berseberangan. Sedangkan Rani duduk disamping Dona. Hal inilah yang membuat Dona merasa tidak karuan jadinya. "Oh ya Ham, kenapa kamu beli kedua kalung tadi?" tanya Rani yang heran dengan Ilham karena membeli dua buah kalung yang dipilih olehnya dan satunya lagi pilihan Dona. "Kalung itu untuk saya berikan kepada dua orang perempuan yang spesial di hidup saya" jawab Ilham jujur. Hal ini membuat Dona sedikit emosi, bisa-bisanya Ilham mengencani dua orang wanita sekaligus. Ternyata dia memang sama saja seperti Ryan dan ayahnya, sang pemuja s**********n. Rani cukup terkejut juga dengan jawaban Ilham, dia kemudian teringat dengan ayahnya yang telah memiliki dua istri. "Ternyata semua cowok itu sama saja. Tidak setia, memang akan menjadi sebuah kebanggaan ya memiliki banyak wanita" kata Dona sedikit bernada kasar. Hal ini langsung membuat Ilham tertawa. Rani dan Dona pun saling memandangi keheranan. "Kenapa lu ketawa? Benarkan kalau lu punya dua cewek. Udah punya dua malah sok sokan perhatian sama gue lagi" Dona sedikit marah namun tetap berusaha untuk mengontrol emosinya. Padahal ingin sekali dia mencakar-cakar mukanya. Tapi apa hubungan dia dengan Ilham? Dona tetap sadar diri tentang dirinya. "Kalian berdua beranggapan seperti itu" ujar Ilham diangguki oleh Rani dan juga Dona serempak. Bak dipandu mereka berdua serasi menggerakkan kepala mereka. "Hahaha, kalian salah paham". "Aku sengaja beli dua. Satu buat ibuku, satunya lagi buat perempuan yang saya suka" jawab Ilham membuat Dona bernafas lega. "Syukurlah kalau begitu, aku senang kalau kamu bukan pria yang b******k" ucap Dona tanpa sadar. Rani langsung menoleh ke arah Dona keheranan. Dona yang ada bersama dirinya kini berbeda dengan Dona yang biasanya. Dona hanya melihat Rani dengan wajah bingungnya. "Kenapa? Ada yang salah?" tanyanya lagi dengan muka yang datar tak berdosa. Saat Dona melihat ke arah Ilham, Ilham tersenyum ke arahnya. Hal itu membuat Dona jadi salah tingkah. "Kamu senang saya bukan pria b*jing*n seperti dia tadikan" kata Ilham masih menatap wajah Dona intens. Dona hanya menjawabnya dengan anggukan. Bibir Ilham tersenyum, wajahnya memancarkan aura yang tengah bahagia. Ternyata mereka sama-sama saling menyukai. Rani pun ikut tersenyum bahagia sambil memandangi dua insan yang sama-sama tengah dilanda kasmaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD