Ancaman

1116 Words
Dona begitu asyik dengan ponsel pintarnya, senyum-senyum ketika melihat layar ponselnya. Rani yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Ciyeee yang lagi kasmaran, senyum-senyum terus dari tadi" goda Rani kepada Dona. "Apaan sih, siapa juga yang senyum-senyum". "Ini lagi chat sama Andra, dia cerita tentang istri bokap gue yang malu karena bajunya melorot pas acara pesta teman bokap". "Lagian juga sok kecakepan banget, Tapi gila juga sih Andra. Tali bajunya Melda sengaja dipotong. Terus katanya bilang sorry dengan muka tanpa bersalah". "Bokap pengen marah sih katanya, tapi nggak berani kan sama om gue. Bokapnya si twin" Dona menceritakan perihal dirinya tampak begitu bahagia sekarang. Padahal sebenarnya dia juga berkirim pesan dengan Ilham. Dia merasa bahagia bisa mengobrol dengannya via chat. Dona merasa aneh dan berbeda. Biasanya dia tidak mudah untuk didekati oleh para pria yang jauh lebih tampan dari Ilham. Tapi ketika mengenal Ilham, dia merasa ingin mengejar cintanya. Apakah dia sekarang benar-benar telah jatuh cinta kepada Ilham? Apalagi sebelum mereka berpisah di parkiran mall. Ilham mengatakan sesuatu yang membuatnya sangat tersipu. "Kamu jauh lebih cantik jika berpenampilan seperti pagi tadi. Berpakaian muslimah membuatmu terlihat begitu sangat anggun" ucap Ilham yang masih begitu terngiang di kepalanya. "Uuuuuh...... " Dona jadi greget sendiri dengan jantungnya berdegup-degup tak karuan mengingat tatapan lembut dari manik mata milik Ilham. "Mempesona" itulah yang tersemat pada tatapan mata Ilham. Dona seperti dilanda musim semi. Hatinya begitu berbunga-bunga. "Malam ini masuk kerja Don?" tanya Rani. Sebab, Dona mengatakan kalau malam ini dia masuk kerja jadi bartender. Dia cuma minta cuti tiga hari. "Iya, nanti jam sembilan malam gue keluar. Kenapa, lu mau ikut?" kata Dona langsung mendapatkan gelengan kepala dari Rani. "Tidak, rencananya aku malam ini mau ke rumah sakit menemani Fitria. Sekalian lihat kondisinya" ujar Rani. "Apa gue antar?" tanya Dona. "Tidak, kita keluarnya barengan saja. Lagian kan arahnya juga berbeda". "Sekalian bawain beberapa makanan buat Fitria" Rani mengangkat beberapa box bekal makan. Rani memang terlihat sibuk didapur sejak tadi. Mungkin dia menyiapkan semua makanan yang ingin dia berikan kepada Fitria. "Lu buat apaan?" kata Dona langsung bangun dari duduknya mendatangi Rani yang masih sibuk packing. "Lu masak banyak nggak, laper nih" ucapnya cengengesan. Menghirup aroma sedap yang menguap di udara. Dona saking fokus dan asyiknya berchat ria dengan sepupunya dan juga Ilham sampai tidak tahu kalau Rani memasak begitu banyak makanan. Rani memang memiliki hobi memasak seperti sang bunda. Padahal mereka berdua sudah punya rencana bikin project mendirikan sebuah resto dan juga rumah makan singgah untuk mereka yang kurang dalam perekonomian. Rumah makan yang akan menyediakan makanan gratis bagi mereka yang membutuhkan. Entah sekarang bagaimana kelanjutan dari project mereka nanti. Ada perasaan Rani ingin berkunjung ke rumah orang tuanya dan membicarakan permasalahan diantara mereka dengan baik-baik. Ingin mengenal pribadi Dinda lebih dekat, pasti dia bukan wanita yang jahat. Sehingga sang bunda menerimanya untuk menjadi adik madu bunda. Tapi karena masih ada urusan pekerjaan, serta permasalahan Fitria membuatnya harus menunda dulu untuk berbicara dengan orang tuanya. Rani tidak ingin melarutkan masalah ini lebih lama. "Lu udah siap?". "Gue mau keluar sekarang" ujar Dona. "Yuk, berangkat" sahut Rani. Mereka memasuki mobil mereka masing-masing. Dona ke arah club tempat biasanya dia bekerja sebagai bartender. Rani menuju ke arah rumah sakit menjenguk Fitria. Fitria tengah memainkan ponselnya. Matanya sembab ketika Rani datang. Terlihat dia gelagapan dan menyembunyikan ponselnya ke bawah bantal. Fitria segera menyapu wajahnya yang basah karena air mata. "Sudah mendingan" sapa Rani hangat. Berpura-pura tidak melihat apa yang baru saja dia lakukan. "Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik mba" jawab Fitria. "Kamu habis nangis, kenapa?" Rani mencoba untuk bertanya. Siapa tau dia akan bercerita tentang perasaan dirinya sekarang ini. "Ah, itu tadi. Kangen ibu saja" jawab Fitria lugas. Namun matanya menyiratkan hal lain yang membuat dia menangis. "Oh, begitu. Setelah keluar dari rumah sakit kamu istirahat saja dulu. Temui ibu dan adik-adikmu. Jika kamu merasa jauh lebih baik, kembalilah bekerja" kata Rani. "Apakah dokter sudah bilang kapan kamu diperbolehkan pulang?" tanya Rani. "Katanya besok boleh pulang" jawab Fitria tidak semangat. Jelas terlihat sekali dia sedang memiliki masalah. Entah kenapa Rani berfirasat jika ini semua berhubungan dengan Ryan. Apakah Ryan datang kesini? Ataukah Ryan menghubungi Fitria dan mengancamnya? Rani hanya bisa menebak dan menduga-duga. Ketika Fitria terlihat lengah, Rani mengambil kesempatan ini untuk mengambil ponselnya Fitria. Rani terkejut dengan semua pesan yang dikirim oleh Ryan. Benar firasatnya, jika Ryan mengancam Fitria. Beberapa foto syur dan video m***m milik Fitria dikirim oleh Ryan sebagai ancaman untuk tidak melaporkannya ke polisi. Jika Fitria tidak ingin semua hal buruk tentangnya disebar luaskan oleh Ryan. "Kamu nangis gara-gara ini kan" Rani memperlihatkan ponsel milik Fitria ke wajah Fitria. Fitria tidak mampu berkata apapun lagi, kini dia menangis dengan keras. Rani memahami hal ini. Fitria kini begitu tertekan. "Sebaiknya besok kamu pulang saja menemui keluargamu. Tenangkan hatimu dan jiwamu. Sebaiknya kamu ganti saja nomermu". "Jika kamu merasa sudah siap untuk bertarung dengan Ryan, kamu jangan takut dan ragu. Aku akan selalu mendukungmu dan membantumu". "Aku yakin, wanita yang mengalami hal serupa dengan dirimu sepertinya banyak. Aku rasa kamu bukan satu-satunya korban kekejaman Ryan" perkataan Rani membuat Fitria terkejut. Dia tidak pernah berpikir seperti itu. Apakah Rani mengetahui sesuatu? Harapan untuk bisa melawan Ryan menyelimuti hati Fitria. Seulas senyum bahagia dia tampilkan pada wajah pucatnya "Apakah dia sebrengs*k itu?" tanya Fitria seakan tak percaya. Masih teringat jelas bagaimana wajah tampan milik Ryan yang penuh pesona itu bisa menjadi seorang iblis perusak hidup orang. "Buktinya, tadi siang aku dan Dona melihat dia jalan dengan seorang wanita di mall". "Aku bisa menyimpulkan jika dia sekarang tengah mencari mangsa baru " ungkap Rani. Fitria hanya terdiam, bagaimana dia bisa terjerat dengan pria jahat seperti Ryan. "Kamu jangan berpikir terlalu keras, kamu harus pulihkan diri dan jiwamu dahulu. Semuanya yang sudah terjadi jangan kamu sesali. Anggap ini semua bagian dari perjalanan hidup kamu. Setidaknya, kamu bisa berpikir lebih hati-hati lagi ke depannya". "Manusia memang tempatnya salah. Tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, selalu menjadi kepribadian yang jauh lebih baik lagi ya" Rani memberikan sedikit kata-kata penyemangat agar Fitria tidak selalu merasa bersalah. "Terimakasih mba" ucap Fitria tulus. "Baiklah, aku akan urus administrasi untuk kepulanganmu besok". "Tunggu disini dulu ya" ucap Rani diangguki oleh Fitria. Rani pun melangkahkan kakinya pergi ke bagian Administrasi, namun dia terkejut saat hendak sampai disana. Dia melihat sosok pria yang sangat begitu dia kenal. Ayahnya. Sedangkan apa dia disini? Apakah bunda baik-baik saja? Kini Rani diliputi rasa cemas, secara perlahan dia mengikuti ayahnya yang pergi menuju ruang inap. Terlihat ayahnya sedang menghampiri bundanya yang sedang duduk di ruang periksa. Keduanya tampak cemas. Siapa sebenarnya yang sedang sakit? "Bunda, ayah. Kalian kenapa ada disini?" tanya Rani yang datang menghampiri mereka. Hal ini membuat keduanya tampak begitu terkejut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD