Tampak raut keterkejutan diperlihatkan oleh mereka. Tapi bagaimana pun juga mereka tidak akan membohongi Rani lagi.
"Siapa yang sakit?" tanya Rani lembut kemudian duduk disamping bundanya.
"Dinda sayang" Rani kini yang terkejut dengan penuturan sang bunda. Sebegitu khawatirnya bunda sama madunya yang pantas dijadikan anak oleh bundanya. Apa yang membuat bunda begitu sayang kepadanya hingga tega membohongi anaknya sendiri? Ada rasa cemburu dalam hati Rani saat ini.
"Sakit apa dia sehingga kalian begitu khawatir dengannya? Sedangkan dengan diriku kalian tidak khawatir dan tidak menghubungi untuk menyuruhku kembali" Rani mulai merasa emosi. Ternyata memang sulit untuk tidak mudah marah. Padahal dia sudah merencanakan untuk berbicara baik-baik kepada bunda dan ayahnya.
"Dia cuma kelelahan saja" jawab sang bunda tampak begitu serba salah.
"Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak menyembunyikan semua hal yang bersangkutan tentang Dinda sayang?" ucap sang ayah membuat Rani terperanjat, karena mengetahui kalau bundanya kini mencoba membohongi dia lagi.
"Apa bunda tidak capek untuk membohongi aku terus?".
"Coba bunda jujur dan membuat aku untuk mengerti, mungkin aku tidak akan marah dan mencoba untuk mengerti dan memahami semuanya bun" bu Mutia menitikkan air matanya karena merasa bersalah kepada Rani putrinya. Bukan maksudnya untuk melukai hati sang anak, namun dia hanya takut jika Rani akan membenci ayahnya karena menikah lagi.
"Ayah katakan sejujurnya sana Rani. Rani janji akan mencoba mengerti dan memahami tentang semua ini. Aku tidak ingin ada kesalah pahaman diantara kita ayah" Rani mencoba membujuk ayahnya untuk menceritakan semuanya. Untuk menanyakan hal ini kepada sang bunda sepertinya sulit, karena bundanya begitu sangat sensitif. Begitu mudah menangis, bukannya bercerita yang ada bundanya menceritakan melalui deraian air mata yang pasti tidak dia pahami.
"Dinda menderita kanker serviks stadium akhir" ungkap sang ayah membuat Rani terkejut mendengar kenyataan yang memilukan ini.
"Ayah Dinda adalah rekan bisnis dan teman baik ayah" ayah Rani menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan sedikit berat. Rani mulai memahami, jika sebenarnya ini bukan keinginan ayahnya.
"Sebelum ayah Dinda meninggal, dia menitipkan Dinda kepada ayah. Ayah menyetujuinya karena ayah pikir dia akan menjadi anak ayah dan menjadi kakakmu. Namun ternyata, dia meminta ayah untuk menikahi Dinda. Ayahnya sangat ingin melihat Dinda menikah dengan orang dia anggap bisa dipercaya untuk menjaga putri tunggal kesayangannya".
"Ibunya Dinda meninggal saat Dinda berumur dua belas tahun, ibunya mengalami kecelakaan".
Rani tampak serius mendengarkan cerita ayahnya yang mengisahkan tentang hidup Dinda yang tidak dia ketahui. Memang dia belum tahu karena sebelumnya dia tidak ingin tahu. Saat dia lebih memilih ego dan emosi, dia meninggalkan orang tuanya karena merasa tidak peduli dengannya. Ternyata ada cerita tentang kemanusiaan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
"Ayah berdiskusi dengan bunda. Kami berdua pun berbicara dengan ayahnya Dinda. mencari solusi yang jauh lebih baik untuk masa depan Dinda".
"Ternyata Dinda merupakan korban kekerasan seksual. Rahimnya hancur dan harus segera diangkat karena saat pacarnya tahu dia hamil, dengan sengaja dia menendang keras perut Dinda yang sudah hamil empat bulan" tragis. Itulah kini yang ada dalam pikirannya.
Betapa sungguh kejam dan biad*b pria yang tak bertanggung jawab itu. Tiba-tiba saja Rani mengingat kejadian yang menimpa Fitria hampir senasib dengan Dinda. Namun beruntungnya, Fitria tidak kehilangan rahimnya dan tidak menderita kanker. Hanya ditabrak oleh Ryan dengan sengaja. Namun itupun juga berbahaya, yang mana bisa merenggut nyawa Fitria.
"Ayahnya meminta ayah untuk menikahi Dinda, agar dia bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki suami dan melakukan tugas sebagai seorang istri".
"Ayahnya khawatir jika anaknya meninggal dalam keadaan sendiri, tidak memiliki pendamping hidup. Meski dia masih muda, ayahnya berpikir sangat sulit untuk mencari pria yang mau menerima segala kekurangan Dinda. Apalagi diumurnya yang dibilang singkat oleh dokter" ayah Rani menghela nafasnya.
"Dia divonis bisa bertahan hanya satu tahun. Jika bisa lebih dari setahun, merupakan sebuah keajaiban".
"Ayah sadar ini mungkin terdengar egois, namun ayah hanya ingin melakukan permintaan terakhir ayahnya Dinda saja. Bundamu sendiri yang memberikan izin dan mendukung ayah untuk menemani sisa hidup Dinda".
"Mungkin konyol jika ayah mengatakan tidak menyayangi Dinda, justru dari perasaan kasian berubah menjadi sayang. Begitu juga dengan bundamu. Kami berpikir jika yang diposisi Dinda adalah kamu, putri kami. Pasti kami akan sangat sedih" sang bunda memegangi pundak suaminya itu untuk menegarkan.
"Bunda tidak berniat untuk membohongimu, kami hanya takut kamu akan berpikir jika kami mengatakan sebenarnya. Kamu menganggap itu hanya sebuah alasan yang tidak masuk akal" jelas bu Mutia bundanya Rani.
Rani menjadi merasa bersalah karena sudah salah mengira dan menuduh. Tidak semua wanita yang menjadi istri kedua itu salah, ataupun hina. Terkadang kita harus berpikir jernih dan jangan terlalu menghakimi sesuatu yang kita lihat nampak salah. Lebih baik kita fokus untuk memperbaiki diri kita sendiri. Bisa jadi kita lebih buruk dari orang yang kita anggap salah dan buruk.
"Bunda, kalau Dinda sudah sadar hubungi aku ya bun. Rani mau minta maaf sama dia" isak Rani yang mengaku salah paham kepada Dinda. Apalagi dia mengingat sikapnya yang kasar, pada terakhir pertemuannya dengan Dinda.
"Kamu tidak pulang sayang?" tanya bunda memegangi tangan putrinya tersayang
"Rani nanti pulang bun, tapi masih ada sedikit urusan pekerjaan. Rani tinggal ditempat Dona. kasian juga kan dia tinggal sendirian bun" ucap Rani tersenyum namun wajahnya masih sembab. Sang bunda pun tersenyum mengerti maksud putrinya.
"Rani nanti pulang bun, tapi Rani masih ada yang diurus. Nanti hubungi Rani ya bun. Rani akan jenguk Dinda" kata Rani kemudian menyalimi tangan kedua orang tuanya.
Setelahnya pamit, tampak kekhawatiran diwajah kedua orang tuanya itu terhadap Dinda. Sehingga tidak menanyakan keberadaan Rani yang bisa ada di rumah sakit. Bukan hal yang terlalu penting juga, tapi Rani merasa bersalah karena sudah menuduh Dinda yang macam-macam. Setidaknya masalah dirinya dan kedua orang tuanya bisa terselesaikan dengan baik. Tinggal menjalin silaturahmi yang lebih baik lagi, terutama dengan Dinda. Dia ingin mengenal sosok wanita muda itu lebih dekat. Rani merasa sedikit kagum, dari keterpurukan dan peristiwa buruk yang dia alami. Dirinya masih mampu bertahan dan berjuang untuk hidupnya. Dari dirinya mungkin Fitria bisa mencontoh, bahwa setiap musibah pasti selalu menyisakan sesuatu yang sangat spesial. Memberikan kebahagiaan dan juga memperlihatkan siapa saja orang yang benar-benar tulus sayang dan peduli pada diri kita.
***
Di tempat kerjanya Dona, tampak seperti biasa. Klub pasti selalu ramai, serta Dona pasti akan sibuk dengan minuman yang biasa akan dipesan para pengunjung. Tiba-tiba ada seorang pelanggan yang datang dan mesan minuman kepada Dona. Seperti biasa Dona akan melayani. Matanya terlihat begitu liar memandangi Dona.
"Siapa namamu cantik?" goda si pelanggan itu kepada Dona.
"Panggil saja Lucifer" ucap Dona sedikit jengkel. Dia tidak terlalu mengganggu, hanya saja sorot matanya itu membuat Dona merasa jijik.
"Wanita yang menarik" ucapnya setelah menghabiskan minuman yang dipesannya tadi, kemudian meletakkan uang dibawa gelas.
"Ambil saja kembaliannya".
"Aku pasti akan mendapatkan dirimu" ucapnya dan memberikan kiss bye ke arah Dona.
"Dasar sinting" kata Dona kesal.
"Don, lu disuruh ke ruangan bos. Katanya ada yang perlu dibicarakan" seorang teman pria Dona mengabari.
"Ok" Dona memberi isyarat dengan tangan kirinya.
Dona pun langsung segera menuju ke ruangan sang bos. Namun hal yang sangat mengejutkan tampak didepan matanya. Dia, wanita itu. Wanita yang sangat begitu dikenalnya berada disini. Ada perlu apa dia disini? Apakah ada urusannya dengan dirinya? Beribu tanya mengisi kepala Dona. Sedangkan wanita yang memoles bibirnya dengan lipstik merah menyala menatapnya dan tersenyum sinis ke arah dirinya yang masih berdiri terpaku.