"Assalamu'alaikum" Dona mengucapkan salam ketika tiba di perumahan paling elit di kota ini. Ilham yang melihat ini semua sedikit tercengang, serta bertanya siapakah sebenarnya Dona ini? Siapa sebenarnya om Dona ini?
"Wa'alaikum salam" sahut om Beni menjawab salam dari Dona. Beliau keluar menemui Dona. Dona menyalimi tangan om Beni dengan takzim. Begitu juga dengan Ilham. Sebagai adab bertamu apalagi bertemu dengan orang dewasa yang seumuran dengan ibunya.
"Apa kabarmu keponakan om tersayang?" tanya om Beni ramah sambil membelai pucuk kepala Dona.
"Baik om" jawab Dona.
"Syukurlah, om mengkhawatirkan kamu sayang. Kenapa sih kamu tidak mengambil alih rumah megah milik almarhum mamamu itu? Keenakan wanita jalang itu menikmati harta yang harusnya menjadi hakmu nak" ada rasa marah dari nada bicara om Beni ketika menyinggung tentang Melda.
"Dona tidak menginginkan harta itu om. Dona hanya ingin ketenangan dan ketentraman dalam hidup Dona" meski hati kecilnya begitu berat mengucapkan hal tersebut.
Benar kata om Beni, seharusnya Dona lah yang jadi ratu dirumah mewah dan megah tersebut. Tapi malah Melda yang menikmati hasil kerja keras maminya. Namun Dona tidak bisa menentang kehendak papinya. Jadi dia hanya lebih memilih mundur dan menghindari masalah. Namun, meski telah menghindar. Tetap saja mereka memburu dirinya.
"Mari masuk, ada yang mau om perkenalkan" om Beni mengajak Dona dan Ilham ke ruang tengah.
"Halo sayang. Kamu lama sekali tidak mengunjungi tante. Kangen tante sama kamu" sapa istrinya om Beni yang baru saja datang dari dapur membawa nampan berisikan minuman. Disebuah sofa ruang tengah, ada sosok laki-laki paruh baya seumuran om Beni tengah duduk. Dia menatap ke arah Dona penuh rindu.
"Iya tante Lisa. Dona lagi sibuk" alasan Dona. Kemudian dia menghampiri tante Lisa dan mencium tangannya dengan takzim. Beliau sudah seperti pengganti mamanya Dona.
"Kamu duduk disini dulu sayang. Om mau memperkenalkan kamu dengan seseorang" om Beni mempersilahkan Dona duduk di sampingnya. Berhadapan dengan pria paruh baya yang menjadi tamu om Beni sebelumnya. Sedangkan Ilham duduk disebelah pria tersebut.
"Kenalkan, pak Yadi. Dia dulunya sopir pribadi mama kamu" om Beni memperkenalkan pria tersebut kepada Dona. Anehnya, Dona seperti merasakan ada perasaan yang tak bisa dia jelaskan dalam hatinya. Bola mata pak Yadi begitu sama persis dengan miliknya. Iris berwarna coklat terang.
"Om mohon kamu kuatkan hatimu, sebab om akan membeberkan sebuah fakta yang mungkin akan membuat dirimu terkejut. Begitupula dengan om yang baru saja mengetahui hal ini. Om pun seakan tak percaya. Jadi om meminta kamu datang kesini untuk memastikan kebenarannya" om Beni terlihat begitu sangat berhati-hati untuk berbicara kepada Dona. Sebab, dia tahu bagaimana sifat mudah emosinya Dona.
"Maksud om apa? Kebenaran apa yang harus Dona pastikan?".
"Dona tidak mengerti om, to the point aja deh" Dona sudah menunjukkan sikap hendak emosinya. Ilham dapat melihat wajah Dona yang mulai terlihat kesal.
"Dona" panggil Ilham kemudian menggelengkan kepalanya.
"Dia om kamu kan. Hormati dia, tidak baik seorang wanita berbicara seperti itu kepada yang lebih tua" Ilham menegur Dona, menurutnya sikap Dona tadi kurang pantas. Mendapat teguran dari Ilham Dona langsung menunduk.
"Iya".
"Maafin Dona om, soalnya masih kesal sama si mak lampirnya papi. Jadi masih bad mood. Maafin Dona ya om" Dona menampilkan senyum terbaiknya kepada om Beni.
"Tidak apa-apa sayang. Om mengerti" Beni terkejut melihat sikap Dona yang langsung menurut kepada Ilham. Dia pun berpandangan kepada istrinya seolah istrinya juga paham dengan isi kepala suaminya. Mereka saling tersenyum satu sama lain.
"Memangnya kebenaran apa yang ingin om katakan?" kini nada bicara Dona sudah berubah lembut. Tidak terlihat dia sedang bad mood. Ilham bisa membuat Dona yang pemberontak menjadi penurut seperti kerbau yang dicucuk.
"Sebenarnya, Edi bukanlah papa kandungmu" Dona bagaikan tersambar petir karena ucapan om Beni tersebut. Dia terdiam seakan mencoba untuk mencerna kembali kata-kata yang terucap dari mulut saudara sepupu mamanya itu.
"Maksud om apa?" wajah Dona sudah mulai memerah. Ilham yang melihat raut wajah Dona yang sudah mulai berubah langsung bangkit dan menghampiri Dona kemudian duduk disebelah Dona.
"Dengarkan dulu. Jangan terbawa emosi. Kita dengarkan penjelasan dari om kamu ya" Ilham kembali menenangkan Dona.
Dia mengerti keadaan Dona. Dona membutuhkan kasih sayang yang tidak pernah dia dapatkan dari kedua orang tuanya. Seperti halnya Ilham yang tak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Namun kasih sayang dari ibunya begitu melimpah, hingga dia merasa tidak membutuhkan kehadiran sosok seorang ayah. Makanya Ilham akan memberikan sesuatu yang tidak pernah Dona rasakan. Yakni kebahagiaan yang penuh kasih sayang.
"Yadi adalah ayah biologis kamu Dona" tubuh Dona seakan tidak bertulang. Dia merasa begitu lemas dan lemah kemudian jatuh ke dalam pelukan Ilham. Dia tidak menyangka jika cerita hidupnya akan serumit ini.
"Ini bukan mimpikan" ucapnya begitu lemah dalam pelukan Ilham. Dona merasa tempat yang paling damai adalah pelukan dari Ilham saat ini. Dia kini seperti bukan Dona yang biasanya tampil begitu jutek. Dia merasa tengah dipermainkan oleh takdir.
"Jangan pernah takut untuk menghadapi kenyataan. Selama ini kamu sudah begitu tangguh dan kuat untuk menjalani hidup kamu. Aku yakin kamu mampu melewati hal ini" Ilham memberikan semangat kepada Dona. Dona pun mengangguk setuju dengan ucapan Ilham tadi.
"Bisa bapak ceritakan semuanya" pintanya kepada Yadi yang menurut om Beni adalah ayah biologis nya.
"Ma'af saya belum bisa memanggil anda dengan sebutan kata ayah. Sebab saya baru pertama kali ini bertemu dengan anda. Jadi saya harap anda mengerti, sebelum semuanya jelas" Dona berbicara tegas kepada Yadi. Om Beni merasa bangga kepada Dona. Dia tidak menyangka jika Dona akan menanggapi hal ini dengan sikap yang dewasa.
"Tidak apa-apa nak. Bapak mengerti. Ma'afkan bapa yang telah menelantarkan kamu selama ini".
"Membuat hidupmu menderita. Sungguh bapak tersiksa karena terus memikirkan dirimu. Apalagi bapak tak kuasa menahan sedih ketika ibumu meninggal nak".
"Edi memang manusia yang sangat kejam dan jahat. Bapak tidak terima jika dia menyakiti kamu. Cukup ibumu saja yang dia sakiti. Kedatangan bapak kali ini, ingin membalaskan dendam ibumu terhadap wanita s****l itu".
"Dia yang telah mendorong ibumu jatuh dari lantai atas. Ibumu tidak bunuh diri, melainkan dibunuh oleh perempuan iblis itu" terlihat sorot mata yang penuh marah dan benci dari wajah pak Yadi. Apa yang beliau ucapkan sepertinya benar adanya? Tidak terlihat sedang berbohong.
"Maksudnya apa ya? Apakah yang bapak maksud itu Melda?" Yadi mengangguk membenarkan perkataan dari Dona.
Betapa terkejutnya Dona dengan cerita yang baru saja dia dengar. Ini seperti rangkaian drama sinetron yang biasa ditampilkan di televisi. Detak jantung Dona kini berdegup tak karuan. Antara marah dan benci yang telah menjadi satu. Orang yang selama ini dia hormati dan dia anggap ayahnya, ternyata hanya orang asing yang berlabel menjadi papinya. Sedangkan wanita yang dia benci karena dianggap sebagai penyebab bunuh diri mamanya. Ternyata adalah pembunuh sebenarnya. Dona begitu murka dengan dua orang iblis yang bertopengkan manusia itu. Papinya dan Melda adalah musuh yang harus dia musnahkan dalam hidupnya.