Diana menolehkan kepalanya dengan pelan ke arah Bagas. “Untuk aku?” tanyanya kemudian. Bagas hanya mengangkat kedua alisnya. Setelahnya, ia mengambil ponselnya lantaran sedari tadi berdering. “Dari Sesil. Kayaknya dia nanyain kamu deh.” “Oh. HP aku ditinggal di rumah. Lupa.” Bagas pun menerima panggilan tersebut. “Kenapa, Sil?” “Elo di mana, Gas? Si Diana kok nggak ada di rumah, yaa? Ke mana itu anak?” tanyanya di seberang sana. “Diana lagi di bar. Ke sini aja. Kebetulan gue juga lagi di sini. Tapi nggak janjian bakalan ke sini. Tiba-tiba ketemu.” “Ya elaahh! Gue udah di rumah si Diana, orangnya malah udah nyampe sono. Ya udah, bentar lagi gue datang. Jangan ke mana-mana. Jagain Diana dulu bentaran. Udah teler belum, itu anak?” “Minum juga belum. Masih dipantau dan nggak tahu mau di

