Bisa Gila Beneran

1050 Words
Diana tertawa kecil, sedikit mengejek. "Apaan sih, Uncle. Seru tahu! Sekarang aku tanya, ngapain Uncle beli film ini kalau nggak mau ditonton? Cuma buat koleksi aja?" tanyanya, menggoda. Sean hanya bisa mengangguk pelan. "Yang lain aja, Din. Aku nggak sanggup lihatnya," jawabnya, kali ini dengan nada sungguh-sungguh. Melihat Sean yang semakin kikuk, Diana akhirnya memutuskan untuk mengakhiri film itu. Meski ia sempat tertarik dengan isinya, dia tahu bahwa ada batas yang tak seharusnya dia langgar. Meskipun ada rasa penasaran, dia memilih untuk menutup layar laptop dan menyerahkan malam itu pada keheningan. Sean menatap Diana dengan lega, senyumnya kembali menghiasi wajahnya. Meski hubungan mereka rumit, ada rasa aman yang tercipta di antara canda dan ejekan kecil yang mereka bagikan. “Ini baru cocok. Untuk kamu yang masih pemula. Belum pernah pacaran, kan?” Sean bersuara, memecah keheningan di antara mereka. Diana menoleh cepat, matanya menyipit curiga. "Kalau iya, kenapa?" tanyanya dengan nada yang sedikit menantang. Sean tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Tidak kenapa-kenapa. Masih belum menyangka saja kalau kita bisa menjalin hubungan ini. Aku pikir cinta itu cuma dongeng. Sebuah cerita yang membuatku hampir nggak bisa tidur setiap malam. Bayang-bayang itu nggak pernah sirna.” Diana terdiam mendengarnya. Senyum kecil terbit di bibirnya, namun ia kembali menatap layar laptop, berpura-pura kembali tertarik dengan film yang sedang berjalan. Tangan Sean, yang semula hanya bersandar di tempat tidur, perlahan melingkar di pinggang Diana. Gerakannya lembut namun penuh arti. Diana, yang merasakan hangatnya sentuhan itu, menolehkan kepalanya, memandang Sean. Mata mereka bertemu, dalam, seolah saling menelusuri perasaan yang sulit dijelaskan. Kedalaman tatapan itu membuat mereka sejenak lupa bahwa mereka tengah menonton film. Diana buru-buru membuang muka, kembali menatap layar laptop yang kebetulan sedang memutar adegan mesra. Rona merah perlahan menjalar di pipinya. "Haiish!" keluhnya pelan, sambil melirik Sean yang masih menatapnya. "Aku mau tidur aja deh. Filmnya nggak ada yang seru. Udah malam juga," gerutunya dengan nada jengkel, merasa semua film yang dipilih Sean mengandung adegan-adegan romantis. Sean terkekeh pelan, menikmati reaksi Diana yang canggung. "Katanya tadi mau nonton film romantis? Salah satu keromantisan dalam hubungan itu ya... berciuman," ucapnya santai, menggoda. Diana melirik tajam ke arah Sean, menarik napas dengan berat. Matanya menyelidik, sementara Sean memiringkan kepalanya, menatapnya penuh keingintahuan. “Ada apa?” tanya Sean lembut, melihat perubahan di wajah Diana. Diana menggeleng pelan. "Nggak ada. Besok antar aku ke kampus, ya," pintanya, berusaha mengalihkan topik. Sean mengangguk. "Oke, ada kuliah jam delapan?" tanyanya, menyesuaikan diri dengan ritme percakapan. Diana mengangguk kecil. "Iya. Tapi pulangnya nggak usah jemput. Mau jenguk mamanya Bagas di rumah sakit. Aku pakai mobil Sesil aja," jawabnya sambil memeriksa layar ponselnya sejenak. Sean manggut-manggut pelan. "Oke. Kebetulan, besok aku ada meeting juga. Nanti aku langsung pulang kalau sudah selesai," katanya dengan nada santai, namun perhatian penuh. Diana mengangguk, berdiri dari tempat tidur dan melangkah perlahan menuju pintu. Namun, di tengah langkahnya, ia terhenti. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata. Hatinya terasa kacau, apalagi setelah menyadari betapa intens tatapan Sean barusan. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menenangkan diri saat tangannya meraih pegangan pintu. Namun, sebelum dia sempat membuka pintu, dia mendengar langkah Sean mendekat di belakangnya. Tubuhnya menegang, dan seketika perasaannya bercampur aduk. "Uncle!" serunya pelan, terkejut saat melihat Sean sudah berdiri begitu dekat di belakangnya. Sean hanya tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara, ia menarik lembut wajah Diana mendekat. Sebuah keheningan seolah menyelimuti ruangan ketika bibirnya perlahan mendarat di bibir Diana. Sentuhan lembut namun dalam itu membuat mata Diana terbelalak. Jantungnya berpacu kencang, seolah berlomba dengan detik yang terasa melambat. Ketika Sean akhirnya melepaskan ciuman itu, Diana hanya bisa terpaku, membeku seperti patung. Matanya tetap menatap Sean dengan sorot kebingungan, sementara tatapan pria itu tetap fokus pada bibirnya. "Un—Uncle..." ucap Diana gugup, suara kecilnya nyaris tak terdengar. Sean tersenyum lembut, seolah menenangkan kegelisahannya. "Ini bukan kali pertama aku mencium kamu, Diana," ucapnya dengan nada rendah, penuh misteri. “Heuh?” Diana mengerutkan dahi, jelas tak mengerti maksud Sean. "Udah pernah berciuman? Sama siapa? Pantas aja udah lihai," ujarnya ketus, cemburu tiba-tiba menyelimuti perasaannya. Wajahnya memerah, lebih karena pikiran bahwa Sean pernah mencium seseorang selain dirinya. Sean tertawa kecil, menikmati reaksi polos Diana. "Sama kamu," jawabnya singkat, namun penuh arti. Diana menoleh cepat, matanya membola. "Heuuh?! Kapan?" Sean mengusap lembut sisi wajah Diana, menelusuri garis rahangnya dengan penuh perhatian. "Kamu tahu kan, kalau aku sudah mencintai kamu jauh sebelum kita akhirnya resmi menjalin hubungan ini?" tanyanya dengan suara yang lembut namun dalam. Diana mengangguk perlahan, masih bingung dengan ke mana arah pembicaraan ini. "Tepatnya, saat enam bulan yang lalu," lanjut Sean, suaranya mulai bergetar ringan, seolah mengenang sesuatu yang sangat berarti baginya. "Saat kamu dan teman-temanmu mabuk. Aku yang membawamu pulang dari tempat itu. Ketika sampai di rumah... aku mencuri ciumanmu. Bau alkohol itu masih terasa sampai sekarang." Diana ternganga. Matanya membesar, tak percaya dengan pengakuan Sean yang begitu terang-terangan dan jujur. Ia menggeleng-geleng pelan, masih terkejut dan tak mampu berkata-kata, seolah pernyataan itu baru saja memutar balikkan semua yang ia pikirkan selama ini. “Serius, Uncle?” suara Diana terdengar penuh ketidakpercayaan. Sean mengangguk, tetap tenang. “Sudah nggak perlu ada yang ditutupi lagi, Diana. Sekarang kamu tidur. Kalau besok mau diantar ke kampus, jangan bangun siang!” Sean menggenggam lembut tangan Diana, menuntunnya keluar dari kamarnya menuju kamar lain yang tak jauh dari sana. Diana mengikuti langkah pamannya dalam diam, hatinya masih dipenuhi kebingungan. Setiba di depan kamarnya, Sean membuka pintu dan tersenyum kecil. “Good night. Semoga mimpi indah,” ucapnya pelan, lalu mengecup kening Diana dengan lembut sebelum kembali ke kamarnya sendiri. Diana terdiam sejenak, tangannya otomatis mengusap bibirnya yang masih terasa hangat karena kecupan Sean tadi. Ia masuk ke dalam kamarnya dengan langkah pelan, kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit. “Mana bisa tidur? Bayangan saat Uncle mencium bibirku masih terngiang-ngiang,” gumamnya pelan, wajahnya memerah. Ia menggigit bibirnya sendiri, mencoba menahan debaran jantung yang tak kunjung berhenti. “Uncle Sean agresif, mencuri ciumanku saat mabuk. Enak banget jadi cowok satu itu... Untung aku sayang, kalau nggak—” Diana menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi, lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga ke ujung kepala. Pipinya mengembung, pikirannya berkelana jauh, membayangkan masa depannya dengan Sean. "Bisa gila beneran gue!" gerutunya, mencoba menutup matanya, berharap tidur bisa segera datang menghampirinya agar tidak bangun siang esok hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD