Kringggggg!!
Suara alarm berdering keras di sudut kamar, membangunkan Diana dari tidurnya. Pukul tujuh pagi telah tiba. Ia menggeliat pelan, meregangkan otot-otot tubuhnya yang masih lelah, kemudian membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Tapi yang mengejutkannya, saat matanya terbuka, Sean sudah berdiri di pintu kamar, bersandar santai dengan tangan terlipat di dadanya.
“Uncle! Kaget, tahu nggak!” seru Diana kesal, jantungnya nyaris melompat keluar saking terkejutnya.
Sean hanya menyunggingkan senyum kecil, kemudian mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Diana. “Morning!” sapanya lembut, seperti tidak terjadi apa-apa.
Diana menatap pamannya dengan pandangan sedikit curiga, lalu bangkit dari tempat tidurnya. “Uncle udah rapi banget. Mau ke mana?” tanyanya setelah melihat Sean sudah mengenakan pakaian kerja yang sangat formal.
“Aku ada kerjaan di Malang. Jam sembilan nanti langsung berangkat ke sana. Thania akan menunggu di bandara. Tapi tenang, aku akan antar kamu ke kampus dulu,” jawabnya sambil mengancingkan jasnya.
Diana mendesah pelan, perasaannya sedikit tenggelam. “Berapa lama?” tanyanya lembut. “Pengen ikut, tapi lagi ujian.”
Sean tersenyum kecil, melihat wajah Diana yang sedikit murung. “Nggak lama kok, cuma tiga hari. Nanti aku kabari kalau sudah sampai sana. Setelah kerjaan selesai, aku langsung hubungi kamu. Janji,” katanya, berusaha menenangkan kekasihnya itu.
Diana mengangguk kecil, lalu beranjak dari tempat tidur. “Ya udah, aku mau mandi dulu,” ucapnya singkat sebelum menghilang ke dalam kamar mandi. Sementara Sean keluar dari kamar itu, mempersiapkan semua barang yang harus dibawanya untuk perjalanan ke Malang.
Setelah sampai di kampus, Diana menatap Sean yang duduk di kursi pengemudi dengan penuh perhatian. “Jangan macam-macam, ya, Uncle. Kamar hotelnya pisah, kan?” tanyanya tiba-tiba, tatapannya menelisik.
Sean tertawa pelan. “Pisah, dong. Masa iya tidur satu kamar? Jangan ngada-ngada deh, Diana. Dari dulu juga selalu pisah. Aku nggak pernah melakukan yang nggak perlu dilakukan. Tapi kalau harus... ya cuma sama kamu.”
Diana menyipitkan matanya, bibirnya menyunggingkan senyum geli. “Jangan bahas yang aneh-aneh, Uncle. Keliatan banget agresifnya!”
Ia kemudian membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan cepat, meninggalkan Sean yang masih tertawa kecil melihat keponakan sekaligus kekasihnya itu berlagak seolah tidak terpengaruh.
Di dalam kelas, Diana duduk di bangkunya sambil melirik Sesil dan Niko yang tengah bercanda mesra di pojok kelas.
Mereka adalah pasangan yang sangat dekat, selalu bersama ke mana pun pergi. Diana tersenyum tipis, teringat bagaimana hubungan Sean dan dirinya terasa begitu berbeda namun sangat berarti.
Bagas, Niko, Sesil, Kinan, dan Galuh adalah teman-teman dekat Diana sejak SMA, dan semuanya melanjutkan kuliah di universitas yang sama.
Sejak lama, mereka tahu bahwa Diana adalah sosok yang populer, dengan banyak pria yang menyukainya. Namun hanya satu yang berhasil mencuri hatinya—Sean, sang paman.
“Woy!” seru Diana tiba-tiba, melempar pulpen ke arah Sesil dan Niko yang sedang asyik bercanda.
Niko mendengus kesal. “Apa sih, Nyet? Ganggu aja, lo!”
“Biasa aja, dugong. Eh, kalian udah tahu belum, nyokapnya Bagas hari ini mau kemo lagi? Mau jenguk, nggak?” tanya Diana, mencoba mengalihkan perhatian mereka.
Sesil mengangguk cepat. “Udah tahu kok. Jam tiga sore ini, kita jenguk sama-sama.”
Diana mengangguk pelan. “Iya. Semalam, gue makan malam sama Uncle Sean di The Golden, restorannya Bagas,” ujarnya santai.
Sesil tersenyum jahil. “Kirain ketemuan sama Bagas, makan malam romantis gitu. Eh, taunya sama om-om!”
Diana menyikut lengan Sesil, wajahnya tersipu malu. “Om-om juga banyak yang suka, Sesil,” sahutnya sambil tertawa.
Sesil tertawa lepas, sementara Diana kembali melamun sejenak, mengusap bibirnya yang masih terasa hangat. Bayangan ciuman Sean semalam kembali menghantui pikirannya, membuat jantungnya berdebar lagi.
“Kenapa, Din? Masih belum percaya kalau Bagas suka sama lo?” Sesil bertanya, matanya menyipit, seakan tahu ada sesuatu yang disembunyikan Diana.
Diana mendesah kasar, melemparkan pandangannya ke arah lain. “Bukan itu masalahnya. Uncle Sean mau pergi ke Malang. Sama Thania, cewek gatel yang sering banget bikin gue jengkel.” Diana menyunggingkan senyum masam, mengingat nama Thania seolah menambahkan beban di dadanya.
Sesil tertawa renyah. “Gatel menurut lo, tapi menurut uncle lo mungkin nggak. Bisa aja mereka udah pacaran, tapi diem-diem karena dia tahu lo nggak suka sama tuh cewek.” Sesil berasumsi sambil memainkan ujung rambutnya, seolah tidak sadar ucapan itu membuat Diana kian kesal.
Diana langsung menoleh cepat, matanya menyala penuh amarah. “Nggak, Sesil! Jangan bikin gue naik darah, ya!” serunya, menunjuk Sesil dengan tegas, wajahnya berubah merah karena marah. Sesil hanya tertawa melihat sahabatnya berapi-api, menikmati betapa mudahnya menggoda Diana.
“Eh, santai dong, Sayang. Jangan kayak istri yang lagi mergokin suaminya selingkuh,” goda Sesil sambil menepuk tangan Diana pelan, mencoba menenangkan.
“Uncle Sean udah tua, Din. Jangan lo kekepin terus. Udah waktunya nyari istri, biar ada yang ngurusin dia. Dan lo bisa punya keponakan cantik dari Uncle Sean.”
Diana menghela napas berat, perasaannya semakin kalut. Dalam hatinya, ia berteriak, ‘Gue nggak mau punya keponakan dari Uncle Sean. Gue maunya punya anak dari dia!’ Tapi bibirnya tetap diam, tidak berani mengeluarkan isi hatinya yang terdalam. Ia menatap Sesil dengan ekspresi datar, berusaha menenangkan diri.
“Sesil, daripada lo sibuk nyuruh Uncle Sean nikah, mending lo pikirin hubungan lo sendiri. Udah nggak jelas kan tuh, sama Niko? Nggak ada yang kalian bahas lagi selain nikah,” sindir Diana, mencoba mengalihkan topik.
Sesil hanya menyunggingkan senyum penuh arti, tanpa sedikit pun tersinggung. “Santai aja gue, Diana. Gue sama Niko ya udah ada jalannya sendiri. Lo sendiri, kapan punya pacar? Pacaran aja sama Bagas, dia masih nganggur tuh. Nungguin lo, supaya sadar kalau dia suka banget sama lo.”
Diana menggeleng pelan, bibirnya mengulas senyum tipis. “Gue udah punya pacar, Sesil,” ucapnya lirih, namun penuh makna.