Waktu telah melaju hingga angka sembilan malam. Langit gelap terhampar seperti kanvas hitam, dihiasi bintang-bintang yang berkelap-kelip samar. Sean masih bersandar di kursi restoran milik Raka, ditemani sebotol bir yang tinggal separuh. Pikirannya kalut, seperti benang kusut yang tak kunjung menemukan ujung. “Eh! Nggak jauh-jauh dari keluarganya si Diana. Keluarga Kak Andini. Elo kayak nggak tahu aja kalau mereka dari dulu ngincer perusahaan kalian,” Raka bersuara, nadanya penuh asumsi. Ia menyeka permukaan meja dengan ujung jarinya, menciptakan garis-garis tak berarti, seolah melukiskan kegelisahan yang turut dirasakannya. Sean menghela napas panjang, suaranya seperti embusan angin yang lemah. “Iya. Gue udah tahu dari awal mereka ancam gue dan segala macam. Gue mau temui mereka dan men

