Air mata mengalir perlahan di wajah Wijaya, tangannya bergetar ketika ia mengusap pipinya dengan punggung tangan. "Hani pingsan setelah kejadian itu, dibawa ke rumah sakit, dan sejak saat itu, kesehatannya terus memburuk. Hingga kini, ia mengidap kanker darah. Kehilangan Rangga bukan hanya merampas anak kami, tetapi juga perlahan merenggut kesehatan istri saya." Sean menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia mengusap air matanya yang jatuh tanpa disadari, lalu tersenyum lirih, sebuah senyum yang dipenuhi rasa haru dan simpati. "Maaf, Pak Wijaya. Cerita Anda sangat menyentuh hati saya. Saya terbawa suasana," ujarnya, mengambil selembar tisu dari atas meja. Wijaya menggeleng pelan, mencoba tersenyum meski rasa sakit masih terasa di hatinya. "Tidak apa-apa, Pak Sean. Itu adalah bagian dari luk

