Di atas gedung kampus, Diana berdiri memandang pemandangan yang terbentang luas di bawah sana. Angin berhembus cukup kencang, menerpa wajahnya dengan lembut dan membawa udara segar yang seolah mampu menenangkan hatinya. Ia menutup mata sejenak, menikmati udara yang bebas, berharap dapat menenangkan kekacauan di dalam dirinya. “Diana!” Sebuah suara terdengar memanggil, membuatnya menoleh. Di sana, Bagas berjalan mendekatinya dengan tatapan hangat yang penuh makna. “Hei, Bagas,” jawab Diana lembut, lalu menghampirinya. Sejenak, mereka hanya saling menatap, seolah tak ada yang perlu dikatakan untuk mengungkapkan apa yang terasa. Namun, momen itu segera terusik ketika Sesil datang, membawa energi ceria seperti biasanya. Sesil berdiri di antara mereka, memandang kedua sahabatnya bergantian

