Sean menghela napas kasar, pandangannya menyapu wajah Diana yang memancarkan ketidakpastian. “Maaf, Diana. Aku nggak bermaksud menyembunyikan ini darimu, apalagi berniat pergi jauh atau meninggalkanmu. “Itu semua hanya rencana yang bahkan belum jelas,” ucapnya dengan nada penuh penekanan, berusaha menenangkan pikiran Diana yang seakan tersesat di labirin keragu-raguan. Sean meraih kedua bahu Diana, mengarahkan tatapan penuh keyakinan pada perempuan yang kini menguasai seluruh hatinya. Dia menggeleng pelan, kemudian menurunkan tangannya dengan perlahan dari bahu Diana, seolah ingin menyampaikan kehangatan melalui sentuhan yang lembut. “Kita baru saja menjalin hubungan, Diana. Kenapa harus ada debat seperti ini? Jangan terus overthinking, sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu,

