Diana hanya bisa menatap Sean dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia tidak pernah menyangka bahwa Sean telah mempersiapkan ini sejak lama, bahkan sebelum hubungan mereka dimulai.
"Untuk itu," lanjut Sean, suaranya semakin lembut, "aku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku. Kita bisa menikah, Diana. Mungkin bukan di sini, tapi di tempat yang bisa menerima status kita. Setelah itu, kita bisa kembali ke sini dan menjalani hidup kita bersama. Bagaimana, Diana?" Pertanyaan itu menggantung di udara, penuh dengan janji dan harapan.
Diana terdiam sejenak, merasakan beratnya keputusan yang harus ia ambil. Hatinya bergejolak, antara cinta yang begitu dalam pada Sean dan beban status mereka yang tidak sederhana. Ia menarik napas perlahan, mencoba menenangkan diri sebelum menjawab.
"Uncle," katanya pelan, suaranya hampir tenggelam di antara getaran hatinya sendiri, "mungkin ini cukup berat... beban yang harus kita pikul. Uncle benar-benar yakin... ingin menikahiku? Setelah kita menemukan waktu yang tepat?"
Sean mengangguk tanpa ragu, matanya menatap lurus ke arah Diana, seakan tak ada yang lebih pasti dari ucapannya.
"Yakin. Aku hanya ingin kamu yang mengisi hidupku, sampai selamanya. Aku sudah lelah dengan perasaan yang tidak karuan ini, Diana. Kamu sudah dewasa, kita sudah saling mengenal. Tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi.
“Mungkin, tahun depan kita bisa menikah. Kita sudah tahu sifat masing-masing. Tidak perlu waktu lebih lama untuk mengenal lebih jauh."
Diana merasa dadanya sesak, namun bukan karena sakit, melainkan karena cinta yang membuncah begitu dalam. Ia tak pernah menyangka, bahwa Sean—lelaki yang selama ini dianggapnya sebagai pamannya—akan melamarnya secepat ini, ketika hubungan mereka baru saja terjalin.
Namun, meski baru, perasaan mereka terasa seolah telah terjalin selama bertahun-tahun. Cinta Sean begitu kuat, karena ia telah menyimpannya sejak lama.
Diana mengatupkan bibirnya, matanya menatap lurus pada Sean dengan tatapan yang penuh pertanyaan dan rasa khawatir yang tak terbendung.
“Dan kita akan menjalani kehidupan itu secara sembunyi-sembunyi juga?” tanyanya, suaranya lirih tapi tegas. “Kalau nanti aku hamil, gimana? Kalau ada yang nanya siapa ayahnya, aku harus jawab apa?”
Sean menghela napas panjang dan kasar, menatap Diana seolah sedang memikirkan jawaban yang paling tepat untuk menenangkan hati perempuan itu.
“Untuk itu, bisa kita atur lagi, Diana,” ucapnya dengan nada yang terukur, meski menyimpan ketegangan. “Lagi pula, itu masih lama juga. Aku nggak akan berbuat macam-macam kalau tidak... khilaf.”
Diana menggelengkan kepalanya dengan tak percaya, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut dengan jawaban Sean yang seakan begitu spontan dan jujur. “Astaga! Uncle, kok otaknya jadi miring kayak gini, sih?” serunya sambil tertawa kecut, walaupun ada nada ketakutan yang tersembunyi di balik tawanya.
Sean, tanpa bisa menahan diri, ikut terkekeh. “Diana jangan takut. Tidak akan sakit juga... kata Raka,” ujarnya, mulai menggoda Diana dengan senyum yang penuh kenakalan.
Diana memutar bola matanya pelan, tampak kesal tapi juga tersenyum kecil. “Gak usah ngomong yang aneh-aneh, Uncle! Yang merasakan itu Kak Metta, bukan Kak Raka. Gimana sih!” balasnya sambil mendelik, membuat suasana jadi sedikit lebih ringan meski dalam hatinya masih ada gejolak.
Sean tak menjawab, ia malah tersenyum lebar dan perlahan mengambil cincin dari sakunya. Mata Diana yang sebelumnya dipenuhi kecemasan kini melebar penuh kekaguman saat Sean dengan hati-hati memasukkan cincin berkilauan itu ke jari manisnya.
Perhiasan itu memancarkan kilau sempurna di bawah cahaya ruangan, seolah melambangkan janji yang terikat di antara mereka.
"So beautiful," ucap Sean dengan suara yang rendah namun jelas, menatap takjub pada pemandangan di depannya. “Perempuan cantik, menjadi lebih cantik setelah mengenakan cincin indah ini.”
Ia menatap jari manis Diana yang kini dihiasi dengan benda berharga itu, lalu menatap wajah Diana lagi dengan penuh arti. “Jangan dilepas. Apa pun yang terjadi suatu saat nanti, jangan sampai melepas cincin itu.”
Diana mengangguk pelan, hatinya berdegup kencang. “Iya, Uncle. Don’t worry. Aku akan memakainya selamanya,” jawabnya dengan suara yang terdengar tegas, namun ada kehangatan yang mengalir dalam setiap kata.
Sean menarik Diana ke dalam pelukannya, mengusapi punggungnya dengan lembut, seakan ingin menghilangkan sisa-sisa kekhawatiran yang masih tersisa di hati perempuan itu.
“Seandainya kita bukan saudara,” bisik Sean, suaranya rendah dan penuh harapan, “aku ingin menikahi kamu sekarang juga.”
Diana terkikik kecil, kemudian memukul lengan Sean dengan manja. “Uncle! Jangan ngomong gitu,” ujarnya dengan senyum, meski di dalam hatinya ucapan Sean terasa begitu nyata dan menyentuh.
Sean tertawa pelan, suaranya penuh kebahagiaan. “I love you, Diana. Mulai malam ini dan selamanya, kamu hanya milikku seorang.”
Diana tersenyum lebar, merasakan kehangatan yang membanjiri dirinya. Sean terlalu sempurna baginya, lelaki yang selalu mengerti dan memanjakannya sejak dulu. Meski ia seringkali bersikap manja dan egois, Sean selalu sabar, selalu ada untuknya, bahkan ketika orang tuanya masih hidup.
“Uncle,” Diana menatap Sean dengan pandangan yang serius namun penuh kelembutan, “Aku yakin, kalau Mami dan Papi masih hidup, Uncle nggak akan berani mengungkapkan perasaan Uncle padaku, kan?”
Sean menggelengkan kepalanya perlahan, wajahnya dipenuhi keyakinan. “Aku akan meminta izin pada mami dan papi kamu jika mereka masih hidup,” ucapnya dengan pasti. “Baik diterima atau ditolak, aku akan menerimanya. Daripada terus memendam dalam hati, lebih baik diungkapkan.”
Diana tersenyum tipis, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu. “Kalau begitu ceritanya, kenapa Uncle nggak ungkapin perasaan Uncle ke aku waktu itu? Kenapa harus menunggu sampai aku yang mengutarakannya dulu?”