Pernah ada di Posisinya

1485 Words
Sean mengangkat bahunya, tampak seolah sedang mencoba mencari jawaban yang sudah lama ia simpan. “Awalnya, aku pikir akan baik-baik saja dan perasaan itu akan hilang. Aku mencoba mendekati perempuan lain agar bisa melupakanmu, Diana. Tapi hasilnya nihil,” Sean menundukkan kepalanya sebentar, seolah mengingat masa-masa penuh kebingungan itu. “Aku selalu menginginkan kamu, dan itu membuat aku tidak bisa menjalin hubungan dengan siapa pun.” Diana terdiam, dadanya terasa penuh oleh emosi yang membuncah. Apa yang baru saja diungkapkan Sean membuatnya tak bisa berkata-kata. Lelaki itu, paman yang selama ini ia anggap sebagai pelindung, ternyata menyimpan cinta yang begitu dalam dan tidak pernah mampu ia bagikan pada orang lain. Tatapan mereka beradu, penuh dengan janji yang tak terucap, namun tak lagi ada keraguan di antara mereka. Kini mereka tahu, meski jalan yang mereka tempuh penuh tantangan, cinta mereka lebih kuat dari segalanya. “Uncle, aku tahu kamu orang yang bisa dipercaya soal kesetiaan. Aku nggak ragu tentang itu.” Ia berhenti sejenak, tatapannya melembut tapi tetap penuh kewaspadaan. “Tapi, perempuan di luar sana yang suka sama Uncle banyak banget. Itu yang harus aku hadapi, tanpa terbakar api cemburu.” Sean menatapnya sambil menyunggingkan senyum tipis, seolah merasa lucu dengan kekhawatiran yang terpancar di wajah kekasihnya. “Diana, cemburu itu wajar,” katanya dengan nada tenang, “Tapi harus tahu batasannya juga. Jangan sampai cemburu buta, apalagi salah paham. Oke?” Diana mengangguk patuh, bibirnya melengkung dalam senyum kecil, meski di balik senyum itu, masih ada perasaan yang sedikit khawatir. “Iya, Uncle. Aku panggil Uncle aja deh. Udah biasa juga panggil begitu,” katanya, setengah bercanda untuk mencairkan suasana. Sean mengangguk sembari mengulas senyum yang lebih lebar. “Sudah selesai makannya? Mau jalan-jalan, nonton, atau ada yang lain?” tanyanya dengan santai. Diana mengangkat bahunya dengan ekspresi seakan sedang berpikir. “Eeungg… kayaknya enak nonton film romantis deh. Biar Uncle tahu gimana caranya memperlakukan seorang kekasih itu seperti apa.” Sean tertawa kecil mendengar usul itu. “Oh ya? Memangnya kamu tahu, bagaimana caranya memperlakukan seorang kekasih?” Diana mengangkat alisnya, seolah merasa tertantang dengan pertanyaan Sean. “Kok malah nanya ke aku?” ia menghela napas sebelum melanjutkan, “Pasangan kekasih itu seperti kapal yang akan menyeberangi lautan. Lelaki itu sebagai nakhodanya, sementara perempuan hanyalah penumpang yang akan menuruti ke mana dia akan dibawa.” Mata Sean tertuju pada Diana, mendengarkan penjelasannya dengan serius meski terselip senyum di bibirnya. “Jangan lupakan ombak, badai, angin, dan petir di perjalanan itu,” lanjut Diana, suaranya semakin dalam dan dramatis. “Di sanalah keduanya diuji. Apakah bisa bertahan dari terpaan musibah itu, atau malah menyerah dan akhirnya menenggelamkan diri ke dalam lautan yang tak bertepi. Berpisah, hilang, dan tak akan bertemu lagi.” Sean tersenyum mendengar ucapan dramatis itu. “Kamu terlalu pandai merangkai kata, Diana. Bahkan aku nggak pernah kepikiran sampai segitunya,” katanya, kagum dengan bagaimana Diana bisa meromantisasi kehidupan. Diana tersenyum tipis, bangga dengan tanggapannya. “Banyak buku tentang cinta yang bisa Uncle baca. Aku yakin, Uncle bakalan kaku banget dan nggak tahu harus ngapain.” “Kata siapa?” Sean menyeringai, melirik Diana yang sedang sibuk menghabiskan sosis bakar kesukaannya. “Kata aku lah!” Diana menjawab dengan nada menggoda. “Uncle belum pernah pacaran, kan? Mana bisa bersikap romantis.” Sean menghela napas dengan pelan, menatap Diana dengan tatapan penuh kepasrahan bercampur godaan. “Kamu mau pacaran seperti apa? Gaya Barat, Asia, Timur, Eropa, atau Indonesia?” Diana terbahak, tawanya lepas begitu saja. “Uncle, kalau dicampur boleh nggak?” ia menatap Sean dengan mata berbinar, setengah bercanda tapi juga serius. Sean tersenyum kecil, lalu mengangguk. “Boleh. Tapi kalau dicampur, kamu harus siap dengan pacaran gaya Barat.” Diana terdiam sejenak, terkejut dengan jawabannya. Dia memutar otak, mencoba membayangkan maksud dari perkataan Sean. “Memangnya seperti apa, Uncle?” tanyanya, dengan nada penasaran yang mulai muncul di wajahnya. Sean mengendikkan bahu dengan santai, seolah tak ada beban. “Aku sudah kenyang. Kamu masih pengen makan?” tanyanya sambil melirik piring Diana. “Perut gentong kamu itu, sudah terisi penuh atau belum?” Diana menyipitkan matanya, lalu tersenyum geli. “Walaupun makanku banyak, tapi aku rajin olahraga!” balasnya dengan nada protes. Sean terkekeh kecil, tawa yang rendah namun terdengar jelas. “Just kidding, Diana,” katanya, menenangkan, walau masih ada sisa tawa di matanya. Diana meneguk segelas air mineral, menatap Sean yang sedang memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sesuatu di balik tatapan itu—sesuatu yang dalam, yang membuat jantung Diana berdegup sedikit lebih cepat. Tetapi, ia tak berani mengartikannya lebih jauh. Pertanyaan-pertanyaan yang tak terucap menggantung di udara, tetapi untuk saat ini, ia memilih menikmati keheningan yang penuh makna antara mereka. “Sudah selesai, Uncle,” ucap Diana lembut, meletakkan sumpitnya di tepi piring. Perutnya terasa kenyang, dan hatinya sedikit terbuai oleh malam yang terasa tenang. Sean mengangguk, matanya melirik sekilas jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Ia menarik napas panjang sebelum berkata, “Sepertinya kalau nonton di bioskop, waktunya sudah habis. Kita pulang saja, ya? Nonton di rumah bisa lebih santai. Bagaimana?” Diana mengangguk tanpa ragu, matanya sedikit berbinar. Pulang dan menghabiskan waktu dengan Sean di rumah terdengar seperti pilihan yang sempurna. Mereka lalu bangkit dari kursi, meninggalkan ruangan restoran yang nyaman. Sean berjalan menuju kasir, sementara Diana menunggu di dekat parkiran mobil, tangannya sibuk dengan ponsel, melibatkan dirinya dalam layar kecil yang terang. “Hei!” Suara seorang pria memecah kesunyian, membuat Diana mendongak dari ponselnya. Diana tersenyum saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. “Bagas! Lagi ngapain di sini? Mau dinner juga?” tanyanya riang, senyum manis tak lekang dari bibirnya. Bagas tersenyum tipis, mengangkat bahunya. “Ini restoran punya orang tuaku, Diana. Lupa?” Ada nada tawa di suaranya, seolah merasa aneh bahwa Diana tak menyadari hal itu. Diana menolehkan kepalanya, menatap bangunan restoran mewah di belakang mereka, lalu tertawa kecil, meringis sedikit saat tangannya menggaruk kepala. “Oh, iya! Aku nggak ngeh kalau Uncle Sean bawa aku ke sini. Maaf ya!” jawabnya canggung. Bagas tertawa pelan. “Nggak apa-apa, kok. Oh, kamu pergi sama Om Sean, ya? Aku pikir tadi kamu datang sama Sesil.” Diana menggelengkan kepala, senyumnya sedikit melebar saat mendengar nama sahabatnya. “Nggak, Sesil lagi sibuk pacaran. Kamu sendiri, lagi ngapain di sini?” tanyanya penasaran, matanya berbinar dengan kehangatan. “Mau jemput Papa,” jawab Bagas sambil menghela napas. “Mama masuk rumah sakit lagi. Besok rencananya mau kemoterapi lagi.” Diana mengangguk pelan, nada suaranya berubah menjadi lebih serius. “Oh… semoga cepat sembuh, ya, untuk mamanya. Nanti aku dan teman-teman kalau ada waktu, bakal jenguk ke rumah sakit.” Bagas tersenyum tipis, mata yang biasanya ceria kini tampak sedikit redup. “Terima kasih, Diana. Itu akan sangat berarti buat Mama.” Tak lama, Sean muncul dari dalam restoran, wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi yang jelas. Ia berjalan mendekat, tatapannya sedikit dingin saat melihat Bagas. Diana yang paham dengan sikap pamannya langsung menarik tangan Sean, berusaha menghentikan interaksi yang mungkin bisa berujung canggung. “Baru selesai bayar, Bagas. Kalau gitu, kita duluan ya,” kata Diana cepat, sebelum menarik Sean menuju mobil. Setelah masuk ke dalam mobil, suasana hening sejenak, hanya terdengar suara mesin yang dihidupkan. Sean mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang, melintasi jalan malam yang diterangi lampu-lampu kota. “Golden Resto itu punya papanya Bagas, Uncle,” ucap Diana, mencoba mencairkan suasana. “Dia tadi bilang mau jemput papanya karena mamanya masuk rumah sakit lagi.” Sean menoleh sedikit, wajahnya tetap datar, tapi kali ini ada sedikit ketertarikan. “Oh, sakit apa mamanya teman kamu itu?” tanyanya, nadanya masih terjaga tenang. “Leukemia,” jawab Diana dengan nada sendu. Sean diam sejenak, kemudian menghela napas kasar. “Cukup parah. Semoga lekas sembuh.” Diana mengangguk, “Iya. Besok katanya mau kemo lagi. Mungkin pulang kuliah, aku dan teman-teman, ada Sesil juga, mau jenguk Tante Hani ke rumah sakit. Boleh, kan?” Sean menghela napas lagi, kali ini lebih dalam, seolah berusaha menahan sesuatu. “Ya, boleh saja. Namanya jenguk orang sakit, itu salah satu ibadah. Aku nggak pernah melarang kamu untuk jenguk siapa pun.” Lalu, dengan nada yang sedikit lebih tegas, dia menambahkan, “Asalkan jangan sampai berlebihan, apalagi sampai nemenin anaknya nemenin mamanya.” Diana mengerucutkan bibirnya, sedikit tersinggung oleh ucapan Sean yang seolah menyimpan maksud tersembunyi. Pandangannya lurus ke depan, meski pikirannya penuh dengan pertanyaan. Akhirnya, ia beranikan diri untuk bertanya, meski nadanya pelan, “Dari sekian banyak teman-temanku, kenapa Uncle kayak nggak suka sama Bagas?” Sean meliriknya sekilas, tatapannya tajam meski tetap tenang. “Diana, dari lima orang teman dekat kamu, hanya Bagas yang melihat kamu bukan sebagai sahabat. Dia melihat kamu sebagai perempuan.” Diana menatapnya bingung, tak paham maksud ucapan Sean. Sean melanjutkan, “Aku pernah ada di posisinya, mencintai kamu secara diam-diam. Itulah kenapa aku tahu, Bagas punya rasa suka padamu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD