Jazlyn berada di hutan dengan cahaya samar. Pohon-pohon tinggi menjulang di sekitarnya, sementara semak-semak dan tumbuhan liar nyaris menenggelamkan kakinya yang telanj*ng.
Ini adalah malah hari. Angin terasa dingin, berhembus menembus kain tipis yang melilit tubuhnya. Zilka hanya mengenakan kain tipis semi sutra berwarna merah berpotongan sederhana. Rambut pirang emasnya tergerai bebas, menari di bawah cahaya rembulan yang menyusup di antara celah-celah pohon.
Hawa dingin terasa kian mencekam. Angin tak lagi berhembus, tetapi ada aura lain yang kini hadir. Aura yang mampu menekan keadaan di sekeliling Jazlyn dan membuat napasnya terasa berat dua kali lipat daripada sebelumnya.
Jazlyn menyentuh dadanya, merasakan debar yang tak menentu. Tekanan itu semakin kuat, membuat kepala Zilka rasanya seperti dipukuli puluhan palu. Keringat membanjir di pelipis. Hawa dingin semakin meningkat tajam, rasanya seolah sanggup membekukan udara. Jazlyn tak pernah tahu ada suhu seekstrim ini di dunia. Mungkin, ini setara dengan berada di kutub. Namun, anehnya tak ada es yang tampak di sekeliling. Dedaunan masih tampak hijau. Tanah masih belum berubah menjadi es beku. Langit juga tak menurunkan salju. Fenomena apa ini?
Saat Jazlyn merasa sudah di batas kemampuannya bertahan, sesosok berjubah merah darah dengan sulaman emas hadir mendekat ke arahnya. Dia sangat cantik dengan wajah lembut mempesona. Kulit wajahnya hampir seputih salju, tampak tak normal, tapi entah kenapa tidak mengurangi ketampanannya. Bibirnya merah, seperti iris matanya. Jazlyn terhenyak. Dia belum pernah melihat warna mata semerah itu, seperti tetesan darah yang hidup dan memiliki jiwa. Surainya sekelam malam, panjang mencapai pinggang. Saat Zilka menatap lelaki ini lebih lama lagi, ia baru menyadari satu hal. Dia laki-laki. Laki-laki paling cantik. Keangkuhannya, dominasinya, khas laki-laki.
Ya Tuhan.
Lelaki cantik dengan mata merah dan membawa aura dingin hingga ke tulam sumsum. Aura dingin yang … Jazlyn merasa kepalanya semakin berat, hampir menyerah dengan ketidaksadaran. Lelaki berjubah merah itu menaikkan tangan, kemudian menjentikkan jarinya cepat. Tiba-tiba aura yang menekan itu hilang. Hawa dingin berangsur-angsur berkurang. Napas Jazlyn perlahan stabil, kembali seperti semula. Kedua bahunya turun, merasa ketegangan yang menakutkan kini telah tersingkir.
Jazlyn menaikkan tatapannya, terkunci pada mata merah laksana darah. Sekuat apa lelaki itu sehingga tekanan auranya sangat besar? Sekuat apa lelaki itu sehingga jentikan jarinya mampu menghapus tekanan tak kasat mata?
"Lemah!" Suara lelaki itu terdengar merdu, seperti seruling di padang sahara. Jazlyn seolah terhipnotis oleh suaranya, sehingga untuk sejenak dia tidak memahami komentar tersebut. Setelah akal sehatnya kembali, ia baru sadar komentar tersebut ditujukan untuknya. Untuk kemampuannya.
Jazlyn dianggap lemah di mata lelaki itu. Tak memiliki kemampuan. Tak memiliki kekuatan. Seharusnya Jazlyn tersinggung, tetapi sayangnya, ia memahami situasi ini dengan baik.
Di dunia antah berantah di mana Jazlyn terdampar, ia tak lebih dari wanita lemah tanpa kemampuan apa pun. Tak ubahnya seperti bayi tanpa perlindungan.
"Siapa kau?" Suara Jazlyn nyaris seperti bisikan angin. Tapi tampaknya lelaki itu menangkap suaranya dengan sangat baik.
"Perjanjian darah itu kembali terhubung. Kau membawa darah dari perjanjian lama. Kali ini, kupastikan kau tak bisa lari. Tak ada tempat bagimu bersembunyi. Tak ada jalan bagimu menghindar."
Ada ketajaman dari suara laki-laki itu, membawa hawa dingin yang kembali menyerang Jazlyn. Wajah Jazlyn yang tadinya normal, kembali memucat. Kepalanya tertekan ribuan beban. Dahi dan punggungnya berkeringat dingin. Seluruh tulang-tulangnya seperti ditekan, dipaksa menjalani siksaan yang menyakitkan.
Jazlyn bergantung dengan oksigen yang rasanya semakin menipis. Dia menggapai udara sekeras mungkin, mengisi paru-parunya. Dia terbatuk-batuk hebat, menunjukkan kesakitan.
Lelaki berjubah merah tersebut melangkah mendekat ke arahnya, dan Jazlyn semakin merasa tekanan yang ia derita berkali-kali lipat lebih besar. Ia rasanya ingin pingsan, tetapi tubuhnya tidak mengijinkan. Ia ingin memejamkan mata dan menolak rasa sakit, tetapi ada kekuatan tak kasat mata yang menariknya kembali agar selalu tetap sadar.
Jazlyn menggigit bibir, menahan semua rasa sakit luar biasa. Tanpa sadar, dia berlutut ke tanah, menopang tubuhnya dengan tangan. Jazlyn tergoda untuk berguling-guling dan berteriak seperti orang gila. Tapi sisi warasnya masih menahannya agar tak melakukan hal itu. Rasanya, ada harga diri tinggi yang membuat Jazlyn tetap bertahan, menolak untuk diintimidasi.
"Bahkan di alam bawah sadar, kau masih menolakku!" Suara lelaki itu semakin dekat, dan d**a Jazlyn rasanya semakin sesak tak tertahankan. Gigi-giginya saling bergemeletuk. Dengan tiba-tiba, dia muntah darah dan pandangannya mengabur. Ya Tuhan. Mungkin memang lebih baik pingsan. Setidaknya, ia tak perlu mengalami semua ini.
Tangan dingin dengan jari-jari lentik menyentuh sisi wajah Zilka, membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Sakit. Sakit. Sangat sakit.
Dada Jazlyn berdetak menakutkan, darahnya mengalir tak teratur. Jazlyn seolah bisa mendengar detak nadinya sendiri yang saling berkejar-kejaran.
Saat sentuhan lelaki itu semakin merambat ke sisi wajahnya yang lain, Jazlyn kembali memuntahkan seteguk darah. Hawa dingin menyerang lebih kuat. Dia seperti disiksa di suatu tempat khusus dengan ribuan es dengan suhu minus puluhan derajat.
Lelaki itu memandang reaksi Jazlyn, tak melakukan apa pun. Jazlyn memberanikan diri mendongak, menatap sepasang mata merah sewarna darah. Lelaki itu mampu menyerangnya bahkan tanpa gerakan sama sekali. Tak ada pukulan. Tak ada serangan mantra seperti yang pernah ia lihat dari Agie, dan bahkan tidak ada gerakan khusus melemparkan kutukan sihir apa pun. Kekuatan apa yang dimiliki lelaki itu? Kenapa sangat dominan dan … gelap. Ya. Gelap. Seolah-olah ini sihir gelap yang menyerang organ dalam seseorang bahkan tanpa peringatan.
"Apa yang kau … inginkan? Mem-membunuhku?" Jazlyn hampir tak mempercayai suaranya sendiri yang kini terdengar serak dan berat. Kain merah yang melilit tubuhnya kian lengket, menyatu dengan darah tanpa banyak mengubah warna.
Jantung Jazlyn rasanya diserang sesuatu. Ada yang meremasnya kuat, membuat jantungnya bekerja lebih berat. Lagi-lagi, Jazlyn memuntahkan darah. Kali ini, warna darahnya lebih pekat. Lebih kental.
"Membunuh? Penolakanmu sendiri yang membuatmu terluka! Alam bawah sadarmu membuat benteng pertahanan, menolak kehadiranku. Kau membuat perlindungan sedemikian rupa tapi aku tetap mampu menembusnya. Jadi perlindungan itu menyerangmu sendiri!"
Perlindungan? Jazlyn semakin tak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Dia tak pernah melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya sendiri demi lelaki tersebut. Lelaki asing yang bahkan namanya saja tidak ia ketahui. Bagaimana bisa seseorang membuat pertahanan gila-gilaan dari lelaki tak dikenal?
"Apa maumu, brengs*k?!" Jazlyn menggertakkan gigi-giginya, marah karena tak berdaya dan merasa dijebak tanpa tahu alasan yang melatarbelakanginya. Dia tak mengenal lelaki itu! Kenapa ia harus menderita karena orang yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya?
"Cepat atau lambat, kau akan datang padaku! Tidak ada tempat bagimu untuk berlari!" Jemari dingin mengusap darah Zilka yang masih tersisa di dagu, dan membelai kulit wanita itu dengan lembut. Dia mengibaskan tangannya yang bebas, kemudian berbalik pergi.
Jazlyn merasa tubuhnya membaik seketika. Kibasan tangan lelaki itu melemparkan cahaya samar kemerahan, masuk ke pori-pori tubuhnya, kemudian menenangkan saraf-sarafnya yang tegang, menormalkan pembuluh darahnya, dan mengembalikan fungsi jantungnya dengan baik. Tak ada lagi rasa sakit seperti sebelumnya. Tak ada beban menyesakkan seperti sebelumnya. Seolah-olah apa yang baru saja terjadi adalah fantasi liar Jazlyn belaka. Tapi sudut mulutnya terasa asin beraroma darah. Kain yang membalut tubuhnya juga beraroma anyir. Apa yang baru saja terjadi bukanlah khayalan Jazlyn. Bukan karena dia delusi. Bukan juga karena halusinasi.
Semuanya nyata.
Tubuh Zika terpuruk, merasa lemah luar biasa. Dia kemudian memejamkan mata, terbaring lemah di atas daun-daun hutan yang berserakan. Cahaya rembulan masih mengintip malu-malu. Angin malam kembali bertiup lembut, membuat dahan-dahan pohon mengangguk-angguk.
Saat Zilka bangun, dia mendapati dirinya terbaring di sebuah ruangan dengan dua tiang di sisi ranjang. Hari telah siang. Cahaya matahari menyentuh permukaan meja kayu berpelitur rumit. Di dinding ruangan, terdapat lukisan tiga dimensi dengan garis-garis keemasan.
Jazlyn mengerjap-ngerjapkan matanya dengan linglung. Ia kembali ke kamarnya. Kamar yang Agie sediakan untuknya semenjak ia terdampar di tempat ini.
"Putri! Oh ! Anda sudah bangun!" Seorang pelayan yang menyadari kondisi Jazlyn berteriak penuh rasa senang. Jazlyn mengerutkan keningnya, bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya yang telah terjadi.
"Putri Agie sangat khawatir dengan keadaan Anda. Biarkan saya memanggilnya lebih dulu. Dia pasti bahagia mendengar Anda telah sadar!"
Sadar? Jazlyn menatap bingung pada pelayan muda yang berlari ke luar ruangan dengan langkah-langkah cepat. Sadar dari apa? Bukankah dia tertidur dan … Ya Tuhan. Mimpi. Dia baru saja bermimpi buruk didatangi seorang lelaki asing bermata merah dan membuatnya muntah darah berkali-kali.
Jazlyn mengusap wajahnya dengan perasaan lega luar biasa. Akhirnya … semua itu hanyalah mimpi. Mimpi buruk yang hadir di dalam tidurnya dan kini sudah berhasil ia singkirkan. Jazlyn tak bisa membayangkan andai ia bertemu langsung dengan lelaki seperti itu. Membawa aura dingin dan mendominasi. Bahkan udara pun sanggup menyusut jika berada di dekatnya. Tidak. Demi apa pun juga, Jazlyn tak bersedia bertemu langsung lelaki seperti itu.
"Jazlyn!" Suara lembut milik Agie berhambur ke arahnya. Wajah cantik wanita itu tampak khawatir. Dia meraih tangan Jazlyn, meremasmya penuh kelegaan.
"Apakah kau selalu menyambut orang yang baru saja bangun tidur seheboh ini?" Jazlyn mengusapkan sebelah tangannya ke wajah, menyadari ia sedikit lemas. Apakah sudah sesiang ini? Mungkin tubuhnya perlu asupan nutrisi.
"Tidur? Kau lebih dari sekadar tidur. Kau lama tak bangun dan aku membawa sesepuh klan ke sini. Da mengatakan kau mengalami serangan Ilusi melalui mimpi paling kuat dan sulit ditarik kembali. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali menunggumu sadar!"
"Ilusi tidur? Memangnya, berapa lama aku tertidur?"
"Dua belas hari!"
"Dia belas … apa? Apakah kau sedang membuat suatu lelucon untukku?"
"Tidak. Demi Tuhan. Kau tak sadar selama dua belas hari. Katakan padaku! Ilusi apa yang kau alami?"
"Maksudmu, mimpi?"
"Ya. Itu bisa seperti mimpi!"
Jazlyn menggelengkan kepalanya dengan lemah, tak menyangka ia baru saja tertidur selama dua belas hari. Pantas tubuhnya terasa lemas. Tetapi hanya itu yang ia rasakan, tidak lebih. Secara nalar, bukankah orang yang tanpa minum dan makan selama dua belas hari bisa dikategorikan tak normal? Di dunia modern, seharusnya Jazlyn mendapatkan perawatan khusus dan langsung dibawa ke ruang IGD. Sayangnya, di dunia asing ini, selain merasa lemas, ia bisa dikatakan baik-baik saja. Jelas semuanya mulai tak normal.
"Aku bertemu dengan lelaki bermata merah!"
"Oh Tuhan. Oh!" Putri Agia mengangkat tangan menutup mulutnya, mencoba mengendalikan keterkejutannya.
"Kenapa 'oh Tuhan'?"
Lama putri Agie terdiam, merapalkan sesuatu yang terdengar seperti mantra. Dia kemudian mengusap lembut dadanya sendiri, mencoba mengontrol emosi.
"Hanya ada satu orang di dunia ini yang memiliki warna mata merah. Dia sering menggunakan jubah merah bersulam benang emas membentuk naga. Rambutnya sangat hitam, kulitnya terlalu putih!"
"Kau mendefinisikan dia dengan sangat akurat. Siapa dia?"
"Kaisar Alastair!" Putri Agie berbisik.
"Kaisar … yang …." Jazlyn terpana, tak bisa berkata apa-apa.
"Kaisar yang dulu pernah menjadi calon suami nenek buyutmu, tetapi nenek buyutmu memilih pergi ke dunia atas dan menikah dengan orang lain."
Jazlyn terhenyak diingatkan kembali tentang masalah ini. Putri Agie berkata di dunia khusus ini, sistem hukum diturunkan pada keturunan. Jika ada generasi sebelumnya melakukan kesalahan dan belum sempat diadili, maka konsekuensi itu akan ditanggung oleh anak cucunya. Dengan kata lain, generasi sekarang menanggung dosa generasi sebelumnya. Sistem hukum yang menurut Jazlyn tak adil, tetapi nyatanya menjadi hukum yang sangat kuat di sini. Orang-orang percaya bahwa darah yang sama menanggung nasib dan keberuntungan serupa dari nenek moyang. Begitu pun sebaliknya dengan kutukan dan aib.
"Itu artinya, orang yang aku lihat dalam mimpi, benar-benar nyata? Bukan sekadar mimpi dan bunga tidur belaka?"
"Tidak. Dia pasti sedang sibuk melacak posisimu. Karena dia tidak tahu keberadaanmu, dia hanya bisa mendatangimu lewat mimpi."
"Untuk apa? Apakah ia ingin memperingatkan aku akan dosa nenek moyangku yang bahkan tidak kuketahui?"
"Apa kauingat apa saja yang dia katakan?"
"Ya.Beberapa. Dia hanya mengatakan hal-hal seperti, 'Aku tidak akan pernah bisa berlari lagi darinya. Tak ada tempat untuku bersembunyi! Cepat atau lambat, aku pasti akan datang padanya!' Apakah itu semua ancaman?" Jazlyn bergidik ngeri, tak pernah menyangka seseorang bisa mendatanginya lewat mimpi.
Putri Agie pucat pasi. Akhir-akhir ini dia memang terlihat kurang baik. Peristiwa yang Jazlyn alami saat ini membuat kondisi putri Agie semakin tampak buruk.
"Dia akan membuatmu membayar atas dosa nenek moyangmu karena meninggalkannya!"
"Ah pers*tan! Tapi kan bukan aku yang membuat masalah itu. Kenapa aku harus menanggungnya?"
"Beginilah hukum di sini!"
"Di mipi itu, aku merasa tertekan atas keberadaannya. Aku bahkan berkali-kali muntah darah!"
"Tidak heran. Kekuatannya tak ada tandingannya. Tak ada yang pernah bisa mengukur kekuatan Kaisar Alastair sebelumya!"
"Tapi dia bilang dia tidak berniat menyakitiku! Alam bawah sadarku membuat perlindungan dan berusaha menolaknya. Karena itulah aku tersiksa dengan keberadaannya!"
"Aku cukup yakin itu! Nenek moyangmu pasti menciptakan perlindungan sihir tersendiri agar keberadaannya tak bisa ditembus Kaisar Alastair saat ia melarikan diri. Pasti perlindungan itu diturunkan ke anak cucunya, jadi wajar jika kau memiliki perlindungan tersebut. Namun karena perlindungan itu diwariskan turun temurun, kekuatannya pasti melemah sehingga Kaisar Alastair mampu menembusnya dengan mudah. Wajar jika berefek buruk bagi dirimu!"
"Tapi itu semua mimpi, bukan? Hanya sekadar mimpi?"
"Tidak. Mimpi biasa tak memiliki kekuatan seperti itu. Kaisar Alastair mendatangimu melalui dimensi mimpi. Jadi, apa yang terjadi di sana kurang lebih sama dengan apa yang akan kauhadapi di dunia nyata!"
"Apa? Apa maksudmu aku juga akan muntah darah dan tertekan oleh keberadaannya jika bertemu dengannya secara langsung?"
"Bahkan bisa lebih parah!"
"Ya Tuhan. Ini sungguh kacau! Apa yang bisa kulakukan?"
"Melatih kekuatanmu! Aku dan guru akan melatihmu secepat mungkin!"
…