Jazlyn berada di lahan rumput yang cukup luas di belakang kediaman Istana Putih. Istana Putih seperti namanya. Terbuat dari batu bata putih dengan bagian atas melengkung dan berlantai marmer berwarna serupa. Bangunan ini cukup besar daripada bangunan biasa, tetapi sebenarnya jika disebut Istana terdengar kurang tepat. Sebagai istana, bangunan ini tampak sederhana dan jauh dari kemewahan. Jazlyn tak tahu apakah di dunia ini standar istana seperti ini, atau memang Istana Putih menjadi pengecualian.
Di belakang istana, ada hamparan padang rumput yang sangat luas. Padang rumput ini berbatasan dengan hutan, yang sering kali dibuat sebagai ajang pelatihan dan uji coba kemampuan generasi muda. Pagi ini suasana mendung. Jazlyn menatap langit yang tampak sama dengan langit milik dunianya dulu. Berwarna biru, memiliki awan, dan bahkan sinar mentari. Ya Tuhan. Bagaimana bisa ada dua kehidupan yang berbeda tetapi sama? Dua dimensi yang berbeda tetapi mirip? Logika Jazlyn masih sulit menerima ini semua. Terlebih lagi, mengingat ini adalah dunia bawah laut yang seharusnya penuh air, berwarna gelap, dan bertekanan besar. Untuk meraih kedalaman ini saja sulit. Tapi uniknya, Jazlyn bisa berada di sini, bernapas dengan bebas, dan melihat beberapa tumbuhan nyata yang tak berbeda jauh seperti dunianya dulu.
Tempat ini lebih tepat disebut imitasi dunia milik Jazlyn dengan gelembung perlindungan yang membatasinya dari dunia luar. Yang masih belum Jazlyn ketahui adalah, seluas apa dunia ini sebenarnya? Apakah seluas satu kota? Satu negara? Satu benua? Atau sama dengan luas permukaan bumi? Itu adalah pertanyaan yang tampaknya tak mungkin mendapat jawaban kilat.
"Jazlyn! Apa kau baik-baik saja?" Putri Agie mulai khawatir. Dia menatap ke sekeliling, merasa semuanya baik-baik saja. Jadi … apa yang membuat Jazlyn merasa terganggu?
"Baik. Aku hanya sedang mempelajari duniamu!"
Senyum Putri Agie merekah kecil. "Ini adalah dunia yang indah! Kau pasti akan menjelajahinya perlahan-lahan dari satu tempat ke tempat lain!"
"Jadi, bagaimana posisi Kerajaan Putih sesungguhnya di dunia ini?" tanya Jazlyn, tak bisa menyimpan rasa ingin tahunya lebih lama.
Terdengar desahan berat. Putri Agie tampak merana. Dia memandang Istana Putih yang sederhana, pikirannya mulai kalut.
"Dunia sihir dibagi menjadi tiga wilayah secara kasar. Wilayah rendah, tengah, dan atas. Wilayah rendah adalah wilayah yang memiliki aura sihir paling rendah. Semakin ke atas, aura sihirnya semakin kental dan besar!"
"Di mana posisi Klan-mu?"
"Bukan klan-ku, tapi klan kita. Kau memiliki darah klan yang sama denganku!"
"Baiklah. Kau sudah menjelaskannya padaku masalah itu. Jadi bagaimana posisi klan kita?"
"Negeri Putih berada di wilayah paling rendah!"
"Paling rendah?" Jazlyn terkejut.
"Ya. Paling miskin, dan paling tersudut!"
Oh bagus. Jazlyn rasanya ingin menampar Putri Agie. Dia ditarik dari dunia miliknya sendiri yang aman dan mewah, hanya untuk hidup di dunia asing antah berantah dan berada di tingkatan paling rendah. Paling miskin. Paling tersudut. Tidak bisakah Putri Agie melakukan hal lain yang lebih menyiksa lagi?
"Pantas. Aku sudah menilai istanamu sederhana!"
"Ah! Ya. Jika kau melihat istana milik yang lain, kau akan tahu perbedaannya. Istana putih adalah istana yang mengayomi tiga klan. Klan Putih, Klan Mawar Kuning, dan Klan Air Tenang. Namun, akhir-akhir ini ada konflik intern sehingga Klan Putih mudah disudutkan bahkan oleh klan rendah lainnya."
"Mengagumkan sekali. Kau menceritakan ini semua denganku!" Suara Jazlyn menunjukkan sarkasme.
Dia pergi berlibur dengan kapal pesiar, menginginkan kesenangan untuk dirinya sendiri. Nayatanya, liburan ini berakhir menjadi tragedi.
"Jangan terlalu membenciku karena aku menarikmu ke sini. Klan ini juga tanggung jawabmu. Jika aku meninggal dan tidak lagi menjadi penguasa Istana Putih, klan Putih hanya akan ditindas dan dibinasakan. Karena itulah kau harus menggantikanku!"
Wajah Jazlyn semakin gelap. Prospek menjadi pelindung klan dengan kesetiaan penuh membuat dirinya bergidik. Tuhan. Bisakah dia terbebas dari semua ini? Jazlyn dulu sering mendambakan petualangan. Namun bukan berarti petualangan menyedihkan seperti ini.
"Kurasa, klan putih lebih mungkin binasa di tanganku daripada di tangan orang lain!" Senyum sinis Jazlyn mengandung keputusasaan.
Menjadi penyelamat suatu klan jelas bukan visi hidupnya. Yang dia inginkan adalah bekerja, mengambil peran, bersenang-senang, mencari kekasih yang hebat, dan jika beruntung, berkeluarga. Tapi kenyataan sering kali tak sesuai dengan ekspektasi.
"Tidak akan! Aku yakin denganmu!"
"Bisakah kau membantuku membuka … apa itu istilahnya? Gerbang dimensi? Bisakah kau? Aku berharap suatu hari nanti aku bisa kembali ke dunia atas." Jazlyn meraih lengan Putri Agie, menggoyang-goyangkannya seperti anak kecil.
"Bisa. Tapi kau harus memiliki kekuatan yang cukup besar dulu!"
"Oh Tuhan. Satu-satunya kekuatan yang aku miliki adalah bermain peran!"
Jazlyn ingin pingsan rasanya. Andai dia tahu suatu hari nanti ia akan terjebak di dunia aneh ini, mungkin ia akan membekali dirinya setidaknya transkip-transkip kuno tentang sihir. Mungkin itu bisa membantunya memiliki kekuatan tambahan. Sayangnya, Jazlyn hanyalah putri konsultan bisnis yang memilih karir menjadi artis, ibunya konsultan pernikahan, kakak laki-lakinya copywriter hebat, dan neneknya adalah penyanyi seriosa. Dari mana gen sihir ada dalam darah keluarganya? Semuanya semakin tak masuk akal.
"Jazlyn! Tahukah kau? Klan Putih dulu adalah klan utama dan klan inti dari wilayah atas. Tapi karena pengkhianatan yang dilakukan nenek moyangmu dua ribu tahun lalu meninggalkan Kaisar Alastair, Klan Putih dibuang ke wilayah rendah. Kami disudutkan, ditekan, dianggap membela pengkhianat. Kaupikir, kenapa kami menjadi merosot di sini? Karena kami menanggung dosa nenek moyangmu!"
Putri Agie sebenarnya tak terlalu suka menjelaskan keadaan ini pada Jazlyn. Meskipun di sini menerapkan hukum generasi muda menanggung dosa generasi sebelumnya, pada dasarnya Putri Agie tak terlalu setuju. Jazlyn tak tahu banyak tentang kesalahan-kesalahan yang dilakukan nenek moyangnya. Tidak seharusnya Jazlyn terjebak dalam kerumitan dan rasa bersalah. Tetapi apa yang bisa Putri Agie lakukan saat ini? Semua pilihan terbatas. Jika ia tidak menanamkan rasa bersalah dan rasa tanggung jawab baru pada Jazlyn, masa depan klannya terancam punah.
"Bukankah kau belum lahir saat itu?" Jazlyn heran.
"Belum. Tapi bukan berarti aku tidak tahu semua kejadian itu!"
Jazlyn hanya bisa menatap langit pagi dengan pandangan nanar. Semua sebab akibat mulai terkait dan mau tak mau ia terjebak dengan kerumitan ini.
"Baiklah! Aku akan mencoba semampu yang kubisa. Lagi pula, bukankah aku sudah ada di sini? Kenapa aku tidak mencoba seluruh kemungkinan yang ada?"
Semua jalan keluar toh tak banyak tersedia. Mau tak mau Jazlyn harus menerima semua ini dengan baik.
Tak berapa lama kemudian, seorang pemuda berusia sekitar tiga puluh tahun datang ke arah mereka dengan membawa sebuah bola kristal berwarna putih seperti kabut seukuran satu telapak tangan. Lelaki itu cukup menawan dengan rambut panjang, celana kain, dan kemeja panjang menyentuh lutut. Jazlyn sedikit heran. Dia kira semua lelaki di sini mengenakan jubah. Rupanya tidak semua orang konvensional. Setidaknya celana kain terlihat memiliki sentuhan modern.
"Agie!" Suara lelaki itu penuh rasa sayang. Putri Agie tersipu malu, mengangguk cepat-cepat. Kedua pipinya merona merah. Lelaki itu bahkan memanggil Putri Agie dengan namanya langsung. Itu seharusnya bisa menunjukkan seberapa besar kedekatan mereka.
Ah. Rupanya ini penyebab Putri Agie menolak pernikahan dengan Pangeran Dryas. Karena hatinya tertambat pada lelaki tampan ini.
"Guru, selamat datang!"
Guru? Wow. Seorang murid jatuh cinta pada gurunya sendiri. Jadi, di dunia ini, ada juga skandal seperti ini. Lumayan menghibur juga.
"Apakah ini wanita yang kauceritakan memiliki hubungan darah denganmu? Wanita yang kaupanggil dari dunia atas?"
"Tentu saja! Wanita ini bernama Jazlyn!" Dengan enggan, Jazlyn memperkenalkan dirinya sendiri. Apakah sopan santun di sini mengalami degradasi? Objek yang dibicarakan ada di sini jadi kenapa lelaki itu harus bersikap seolah-olah ia benda dan membicarakannya dengan Putri Agie seperti itu?
"Jazlyn! Bahagia rasanya bertemu denganmu!" Lelaki itu mengangguk kecil, tanpa mengulurkan tangan atau pun mencium punggung tangan Jazlyn. Mungkin beginilah adat di sini.
"Aku adalah Delios, guru Agie. Karena kau berasal dari dunia luar, pertama-tama, kau harus menyembunyikan identitasmu! Akan menarik perhatian yang tidak diinginkan nantinya jika mereka tahu siapa kau sesungguhnya. Jarang dunia ini dimasuki orang luar begitu saja!"
Jazlyn mengangguk paham. Agie telah menjelaskan hal itu sejak ia pertama kali sadar. Hanya ada beberapa pelayan terpercaya Putri Agie yang mengetahui asal muasal Jazlyn. Jika saatnya nanti Jazlyn diperkenalkan ke publik secara resmi, mereka sepakat akan mengatakan Jazlyn adalah putri rahasia Klan Putih yang keberadaannya baru ditemukan di wilayah Tengah. Garis darah yang sama akan membuktikan kebenaran kata-kata tersebut.
"Baik, Guru!"
Delios mendesah lega. Delios tahu keadaan semakin sulit bagi Klan Putih semenjak Putri Agie diracun. Jazlyn adalah harapan satu-satunya agar Klan tetap selamat.
"Untuk mempelajari sihir, pertama-tama kau harus menguji kekuatan alam apa yang digunakan sihirmu. Ini adalah kristal sihir. Jika kau menggunakannya, kristal ini akan berubah warna sesuai dengan sumber alam yang mampu kau ambil!"
"Sumber alam?" Jazlyn tak mengerti.
"Sihir menjadikan alam sebagai sumber kekuatan. Ada yang mengambil kekuatan sihirnya dari tumbuh-tumbuhan, karena itu kristal sihir akan menunjukkan warna hijau. Ada yang mengambil kekuatan dari tanah, berwarna cokelat. Ada yang dari udara, berwarna seperti kabut. Ada dari logam, berwarna hitam. Ada yang dari air, berwarna biru. Ada yang dari api, berwarna kuning."
"Kupikir api seharusnya berwarna merah!"
"Tidak. Api berwarna kuning. Merah … adalah sumber kukuatan sihir juga, tapi bukan kekuatan utama!"
Jazlyn teringat akan profil Kaisar Alastair yang hadir dalam mimpi. Saat lelaki itu mengibaskan tangan untuk menghilangkan tekanan yang diderita Jazlyn, sempat ada pendar cahaya berwarna merah dari kibasan tangannya. Jika merah bukan sumber kekuatan sihir utama, lantas apa?
"Dalam mimpiku semalam, aku melihat lelaki yang Putri Agie curigai sebagai Kaisar Alastair. Aku ingat dia memiliki cahaya merah dari kibasan tangannya!"
Putri Agie dan Delios saling menatap lama dan tampak tak nyaman. Mereka terlihat bimbang. Setelah jeda cukup lama, Delios akhirnya menjelaskan dengan enggan.
"Kaisar Naga—"
"Kaisar Naga?"
"Itu adalah sebutan lain dari Pangeran Alastair!" Putri Agie menjelaskan. Jazlyn mengangguk ke arah Delios, memintanya untuk melanjutkan penjelasannya kembali.
"Kaisar Naga tadinya … ehm," Delios berdaham, mencari kata-kata yang tepat. "dikenal memiliki warna sumber sihir khusus, tetapi … itu mengalami perubahan!"
Wajah Putri Agie tampak tak menyenangkan. Tangannya sedikit gemetar. Dia menepuk bahu Jazlyn kuat, mengembalikan fokus mereka pada tes awal yang sesungguhnya.
"Ayo lakukan tes awal! Jangan membuang-buang waktu lebih lama lagi!" Putri Agie segera menyarankan. Jazlyn mengangguk setuju dan berjalan mendekat ke arah Delios.
"Aku harus mengingatkan kalian. Tolong jangan kecewa jika kristal itu tidak menunjukkan reaksi apa pun padaku! Jangan terlalu meletakkan harapan besar!" Jazlyn meringis ragu-ragu. Andai ia bisa, ia tak ingin mengecewakan banyak harapan orang lain.
"Jangan terlalu tertekan. Lakukan saja, Oke?" Putri Agie memahami tekanan yang dirasakan Jazlyn dan mencoba menghiburnya. Memanggil Jazlyn adalah sebuah pertaruhan. Putri Agie sendiri sebenarnya masih tak yakin sejauh mana kemampuan Jazlyn mampu dieksplor. Dia hanya mengandalkan insting dan firasatnya sendiri. Jika kali ini instingnya salah, sudah seharusnya Putri Agie menerima konsekuensinya. Bukan hanya Putri Agie. Jazlyn akan menerima konsekuensi yang lebih buruk.
"Ngomong-ngomong, kau sendiri memiliki sihir sumber apa?" tanya Jazlyn, mulai mengamati saat Delios metakkan sebuah kain tipis berwarna putih ke atas tanah. Kain itu meskipun tipis, tapi memiliki nilai khusus dilihat dari ukiran rumit yang mengelilinginya. Delios melafalkan mantra, kemudian meletakkan kristal kecil itu di tanah dengan hati-hati. Kristal itu berubah terang seperti lampu, kemudian redup seperti biasa lagi. Jazlyn melirik fenomena ini dengan tercengang. Ah. Sihir memang benar-benar ada.
"Aku kuning!" Putri Agie berjalan ke arah Jazlyn, memberi petunjuk melakukan tes awal. "Jazlyn! Gigit salah satu jarimu dan teteskan darahmu ke arah kristal. Benda itu akan menilai bakat sihir bawaanmu!"
"Kukira aku hanya harus menyentuhnya!" Jazlyn meringis.
"Tidak. Kristal itu membaca melalui darah!"
"Ah. Baiklah!"
Jazlyn menggigit ujung jari telunjuk kanannya, kemudian menekan ujung jari tersebut higga meneteskan darah. Dengan pelan, Jazlyn mengarahkannya ke kristal di tanah tanpa menginjak kain aneh yang menjadi alasnya.
Tidak ada reaksi apa pun saat darah itu menetes ke atas permukaan kristal yang lembut. Jazlyn meringis, hatinya melengos. Hasil seperti ini seharusnya sudah ia prediksi. Justru aneh rasanya jika ia memiliki bakat bawaan sihir, mengingat latar belakangnya seperti apa.
Saat Jazlyn hendak berbalik, tiba-tiba fenomena unik terjadi. Secara samar, ada cahaya hijau di kristal yang nampak mempesona. Jazlyn terhenyak di tempat. Warna hijau? Mungkinkah ia memiliki bakat sihir dari sumber tumbuh-tumbuhan?
Warna hijau perlahan memenuhi kristal, kemudian semakin menipis dan menjadi satu garis hijau tajam yang seolah berusaha memberontak keluar dari kristal. Belum hilang keterkejutan Jazlyn, tiba-tiba muncul warna cokelat yang saling bertautan. Jazlyn membelalakkan mata. Pasti ada kesalahan. Kenapa harus ada warna cokelat juga?
"Oh Ya Tuhan!" Putri Agie terkejut, menutup kedua mulutnya.
Jazlyn hanya bisa meringis kecil. Bukan salahnya kan jika test ini mengalami kegagalan?
Warna kristal kemudian dilapisi aura seperti kabut. Jazlyn terhenyak. Apa-apaan ini. Apakah benda itu berfungsi dengan baik? Pasti ada kerusakan. Kristal itu mungkin sedang mempertimbangkan apakah Jazlyn memiliki kekuatan atau tidak, sehigga warnanya muncul satu demi satu.
Sekarang, tiga warna terjalin menjadi satu. Kedua mata Putri Agie membelalak lebar. Dia bahkan tak sadar telah mengeluarkan erangān samar. Sementara Delios, lelaki itu hanya bisa terpaku, mencoba mencerna apa yang tengah terjadi.
Saat Putri Agie mulai bisa menyadari apa yang terjadi, dia menarik napas panjang, ingin menyampaikan sesuatu. Tetapi tiba-tiba ada warna lain lagi yang datang. Hitam, disusul biru.
"Oh Tuhan. Tidak mungkin. Ini … ini …." Delios hampir pingsan.
Nah kan. Kristal itu rusak. Jazlyn rasanya ingin luruh di lantai dan meminta maaf. Ini bukan salah dirinya, bukan? Mungkin darah orang luar sepertinya membuat kristal itu rusak parah. Hanya saja, sepertinya itu bukan kristal sembarangan. Yakinlah. Kristal yang bisa berubah warna hanya karena kita meneteskan darah pasti kristal dengan harga yang amat sangat mahal. Bagaimana jika kristal itu rusak karena dirinya? Jazlyn jelas tak bisa mengganti rugi dengan pantas. Dia bahkan tak tahu alat penukar di sini dalam bentuk apa. Bagaimana ia bisa membayar kompensasi jika ia sendiri miskin?
Jazlyn mulai bisa membayangkan kehidupan ke depan pasti akan sulit. Semuanya bermula dari kristal terkutuk itu.
Belum selesai Jazlyn berduka untuk dirinya sendiri, terjadi fenomema mengejutkan lagi. Ada cahaya kuning muncul, bertaut bersama warna-warna lain dengan sangat kuat. Kini, ada enam benang warna berbeda saling terjalin, bergerak dengan dinamis ke segala penjuru kristal seperti petir kecil, dan mencoba keluar dari kristal. Satu menit berlangsung hingga akhirnya semua warna itu pudar. Tapi seiring pudarnya semua warna, muncul cahaya keemasan dari kristal. Perlahan, cahaya itu bersinar semakin kuat, membuat mata Jazlyn silau seketika. Warna emas semakin kaya, membesar, bahkan keluar dari kristal membentuk kabut emas, berpijar layaknya kunang-kunang berjumlah ribuan, dan beterbangan ke arah Jazlyn.
Sinar keemasan ini melingkupi Jazlyn, mengitari Jazlyn dengan kecepatan tinggi, kemudian …
BANG
Kristal uji itu meledak, hancur berkeping-keping. Cahaya keemasan yang melingkupi tubub Jazlyn lenyap seketika.
Dengan cemas, Jazlyn menatap kristal yang kini hancur di depannya.
Tamat sudah riwayatnya. Dia baru saja menghancurkan kristal mahal.
…