Putri Agie dan Delios menatap Jazlyn tak berkedip. Mulut mereka terbuka lebar, lebih dari cukup untuk memasukkan satu buah telur ayam ke dalamnya. Jelas mereka syok.
Namun, rasa syok yang mereka alami tak sebesar yang Jazlyn rasakan. Tidak ada yang lebih takut dari tersangka itu sendiri. Jazlyn merasa entah bagaimana ia telah melakukan kesalahan. Tidak seharusnya kristal uji pecah begitu saja, bukan?
"Ini bukan salahku. Aku bahkan tak tahu benda itu akan pecah. Mungkin kristal itu telah lama digunakan jadi semakin aus. Bisa saja 'kan?" Jazlyn mencoba membela diri. Kristal itu terlalu rapuh. Jika pecah saat Jazlyn mengunakannya, apakah Delios benar-benar akan membuat perhitungan pada Jazlyn? Ya Tuhan. Semua yang terjadi pada Jazlyn adalah kesalahan. Dia datang ke sini adalah kesalahan. Menjadi keturunan dari nenek moyang yang melarikan diri dari perjanjian pernikahan adalah kesalahan. Kini, masih belum cukup, ia memecahkan kristal uji. Seberapa banyak nanti Jazlyn akan menciptakan kesalahan terus?
Melihat Putri Agie dan Delios tak menanggapi pertanyaannya, semakin membuat Jazlyn gelisah.
"Maafkan aku! Mungkin ini memang salahku! Aku tak berniat mengacaukan semuanya!" Jazlyn rasanya ingin menyusut, masuk ke dalam lubang tanah dan tak pernah ingin keluar lagi.
"Ya Tuhan. Ya Tuhan. Ya Tuhan. Kau … kau memiliki warna emas!" Delios setengah berlari ke arah Jazlyn, mulutnya berbusa mengeluarkan banyak kejutan yang hatinya rasakan.
"Warna emas? Apakah itu cahaya yang tadi datang padaku? Apakah itu yang membuat kristal uji pecah? Aku tidak sengaja melakukannya, oke?" Jazlyn merana.
Dunia aneh yang tidak bersahabat. Di hari pertama latihan, sepertinya Jazlyn telah mengacaukan sesuatu.
Delios menatap ke sekeliling mereka, memastikan tak ada orang yang melihat fenomena sebelumnya. "Seharusnya tidak ada pihak lain yang melihat kejadian ini!" Delios berbisik lirih.
"Tidak. Seharusnya tidak. Aku tidak merasakan aura lain yang hadir!" Putri Agie menimpali dengan sungguh-sungguh. Dia menatap Jazlyn, matanya menunjukkan rasa kagum dan ketidakpercayaan.
"Ayo kita ke ruang rahasia! Pembicaraan ini terlalu rentan jika dilakukan di sini!" Delios segera menarik lengan Jazlyn dengan paksa. Dia menatap Putri Agie, kemudian mengatakan sebuah perintah. "Bersihkan kekacauan di sini!"
Cahaya kuning segera menyebar di telapak tangan Putri Agie, kemudian melompat dari tangannya ke arah serpihan-serpihan kristal yang masih tersisa. Dalam sekejap, serpihan itu lenyap, tanpa memberikan bekas apa pun di rumput. Tidak ada bau terbakar, gosong, atau apa pun. Semuanya bersih. Seolah-olah api itu tak pernah ada. Hebat. Satu rumput pun tak ada yang ikut terbakar, seolah-olah api itu memiliki jiwa dan kehendak sendiri. Hanya objek yang ia inginkan yang akan terbakar.
Setelah serpihan kristal dibersihkan, Putri Agie mengambil kain yang menjadi alas kristal dan memberikannya pada Delios. Mereka semua segera menyeret Zilka ke sebuah ruang paling belakang, di mana pintunya memiliki pola kuncian unik dengan menekan batu bata di sekelilingnya.
Jazlyn tak banyak bertanya dan mengikuti mereka semua ke dalam ruang sederhana berukuran lima kali enam meter. Ada satu set kursi kayu anyaman dengan pola mawar yang unik. Lukisan tiga dimensi berupa kuda yang siap keluar dari dalam dengan kaki bergerak-gerak. Samar-samar, ada suara derap kaki kuda dari lukisan tersebut. Jazlyn mendesah berat. Dia harus terbiasa dengan semua kegilaan ini.
"Jazlyn! Kau … kau … kau memiliki potensi… sumber kekuatan …. kekuatan yang amat … amat amat sangat besar!" Delios berkata terputus-putus, tak sekali pun mengalihkan pandangannya dari Jazlyn.
"Kekuatan besar?! Ini pasti lelucon! Kristal itu tak berfungsi dengan baik. Benda terkutuk itu menunjukkan banyak warna dan saling menyatu dengan aneh. Belum cukup semua itu, warna-warma hilang dan berubah menjadi emas. Kemudian, BANG! Pecah. Hancur. Semua selesai!"
"Itu adalah kristal uji. Tidak akan pernah mengalami kerusakan meskipun kau banting seribu kali!"
"Tapi serpihan itu bisa lenyap di bawah api milik Putri Agie!"
"Itu karena kristal tersebut sudah terlanjur hancur. Jika tidak, bahkan seribu orang kuat pun tak akan ada yang bisa menghancurkannya!"
"Jadi? Kau mulai menyalahkanku di sini?"
"Tidak tidak! Bukan itu! Kau adalah … adalah … generasi agung klan ini!"
Generasi agung? Jazlyn menahan keinginan untuk merutuki nasib Delios hingga delapan belas keturunan.
"Setiap orang di dunia ini, memiliki bakat bawaan sumber sihir yang beraneka ragam. Aku misalnya, memiliki api. Tapi ada beberapa orang beruntung yang memiliki dua sumber sihir, bahkan tiga. Orang-orang khusus ini hanya bisa ditemui puluhan tahun sekali dan mungkin, jumlahnya hanya ada segelintir di seluruh wilayah." Giliran Putri Agie yang menjelaskan. Suaranya mantap dan terkendali. Wanita ini sepertinya memiliki kontrol diri daripada Delios yang berubah gagap dalam sekejap.
"Namun, ada suatu keajaiban yang sangat besar. Tujuh ribu tahun yang lalu, ada seorang anak yang memiliki semua warna sumber sihir. Dia mampu mengambil sumber sihir dari mana pun yang ia inginkan! Potensinya tak terbatas. Dari cerita yang aku dengar, saat semua warna-warna sumber sihir muncul satu per satu dan saling terkait, maka semua warna itu akan lebur. Hilang. Lenyap. Berubah menjadi warna emas!"
"Warna emas?" Kali ini, giliran Jazlyn yang syok.
"Ya. Warna emas adalah eksistensi tertinggi dari bakat dunia ini. Warna emas adalah warna suci di tempat ini. Di gerbang dimensi, pantai berwarna emas. Itu karena pantai bersinggungan langsung dengan garis batas dimensi yang warnanya serupa, meski kadang warna ini tersembunyi dari mata telanjang kita. Gerbang dimensi adalah salah satu tempat terkuat di dunia ini dan banyak warna emas di sana!"
Jazlyn terhenyak. Dia menggeleng-geleng lemah, sulit mempercayai fakta ini. "Dengan kata lain, aku … aku …."
"Ya. Kau memiliki semua sumber kekuatan sihir. Kristal uji itu hancur bukan karena kesalahan, tetapi karena ia tidak kuat menahan kekuatan emas yang kau hasilkan untuknya. Karena itulah warna itu keluar dan menjadi cahaya yang menyelimutimu. Kau … adalah orang kedua yang memiliki potensi besar. Orang kedua yang setara dengan legenda di masa lalu. Bahkan, masa kini. Jika kau giat berlatih, kupastikan! Kau memiliki kesempatan membawa klan ini naik ke atas, dan bisa melindungi diri dari jutaan bahaya!"
Putri Agie tanpa sadar menitikkan air mata. Waktu hidupnya mungkin tak akan lama lagi. Dia bisa menekan racun ini, tetapi ia yakin suatu hari nanti pasti ada waktunya ia kalah dan menyerah. Keputusan membawa Jazlyn ke sini adalah keputusan paling benar yang pernah ia lakukan. Dari awal, saat ia menyadari aura familier Jazlyn di dunia atas, kekuatan miliknya seolah langsung berambisi menarik wanita itu ke sini. Ternyata, firasatnya benar. Dia telah menarik wanita hebat yang pastinya lebih dari mampu melindungi klan. Klannya. Klan nenek moyangnya.
"Kau yakin ini bukan suatu kesalahan?" Jazlyn tak ingin Putri Agie menggantungkan harapan padanya hanya untuk dikecewakan begitu saja. Wanita itu terlalu lembut dan terlalu baik. Sungguh kasihan jika harapannya berujung hampa.
"Kristal uji tidak pernah salah!" Delios mengangguk kuat-kuat. "Tidak pernah salah!" Ia kembali meyakinkan.
"Kau bilang aku adalah orang kedua yang memiliki sumber sihir campuran. Siapa orang pertama yang memilikinya? Apakah dia masih hidup? Ataukah dia sudah meninggal?"
Raut muka Putri Agie menggelap. Kedua tangannya bergerak tak nyaman, rasanya ingin menghindari pertanyaan ini. Jadi dengan bijak, Delios-lah yang menjawab.
"Kaisar Naga!"
Hening.
Ruangan yang tadinya sepi, semakin terasa mencekam Bahkan angin saja memilih tak bergerak.
Butuh waktu lama bagi Jazlyn untuk mencerna semua fakta ini. "Kaisar Naga alias Kaisar Alastair?"
Delios dan Putri Agie mengangguk bersamaan.
"Kau bilang orang itu lahir tujuh ribu tahun yang lalu!" Jazlyn tak terima. Dia merasa dibodohi. Namun, lagi-lagi Delios dan Putri Agie mengangguk.
"Bagaimana bisa usia lelaki terkutuk itu tujuh ribu tahun lamanya. Dan lelaki yang ada dalam mimpiku dikatakan refleksi dari dirinya. Bukankah lelaki berusia tujuh ribu tahun seharusnya wujudnya seperti mumi?" Jazlyn meradang dalam hati. Ah. Sialan. Otaknya bisa cepat gila jika terus begini.
"Mumi?" Delios merasa asing dengan istilah itu.
"Maksudku. Seharusnya lelaki berusia tua seperti dia sudah mati di dalam tanah. Dikubur. Dikebumikan!" Dengan bahasa lain yang lebih mudah dipahami, Jazlyn menjelaskan pikirannya.
"Sudah kukatakan dunia ini memiliki rentan hidup yang lama. Semakin besar sihir dan kemampuan seseorang, semakin sulit ia menua. Bahkan, bisa dikatakan hampir tak pernah menua setelah menginjak usia dua puluh tahun!"
Jazlyn lagi-lagi terhenyak. Jika orang-orang di sini memiliki rentan kehidupan yang lama, bukankah itu artinya tempat ini seharusnya dipenuhi miliaran spesies karena lahirnya generasi baru? Angka kematian sangat rendah. Bayi seharusnya menjadi lonjakan spesies yang membahayakan. Atau jangan-jangan, angka kelahiran juga rendah? Otak Jazlyn mulai dipenuhi berbagai pertanyaan.
"Ngomong-ngomong tentang melahirkan, apakah jumlah bayi di dunia ini banyak setiap tahunnya?" Jika benar begitu, hanya menunggu waktu singkat, akhirnya dunia aneh ini akan hancur karena kelebihan spesies.
"Jarang ada bayi!" Putri Agie tersenyum masygul. Mimik mukanya menunjukkan kepedihan. "Rata-rata wanita di sini banyak yang tidak bisa memiliki anak. jika pun punya, kadang mereka melahirkan satu bayi sepanjang hidup mereka. Tapi dari sepuluh pernikahan, yang gagal memiliki bayi ada delapan. Probablitas sangat kecil."
Setiap wanita selalu berharap memiliki anak. Namun, hal ini tidak mudah terjadi di sini. Kebanyakan dari pernikahan harus puas tanpa kehadiran bayi. Karena itu jika terhadi momen melahirkan, seluruh klan akan bersuka cita menyambutnya, dan menganggap mereka sebagai kaum paling beruntung. Bayi menjadi hal paling mewah di dunia ini.
Dengan bijak, Jazlyn memahami hal ini. Alam memiliki cara untuk menyeimbangkan segala sesuatu. Karena rentan usia di sini sangat panjang, maka mungkin kelangkaan anak menjadi suatu pertahanan tersendiri agar dunia ini tidak hancur oleh lonjakan jumlah manusia secara tiba-tiba. Dunia selalu adil dengan caranya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bisakah aku mengembangkan kekuatanku?" Jazlyn kembali membahas topik penting tentang dirinya.
"Ya. Aku … aku akan mencari guruku. Dia lebih mampu untuk mengarahkanmu daripada diriku!" Delios menatap lantai dengan malu. Memiliki murid berpotensi besar seperti Jazlyn akan sangat sia-sia jika hanya dibimbing oleh Delios saja. Jazlyn harus dipertemukan dengan orang hebat, seseorang yang mampu mengarahkannya.
"Baiklah! Aku akan menerima semua pengaturan yang menurut kalian baik!" Sadar tak bisa membantah, Jazlyn memutuskan bersikap bersahabat.
"Tapi sembari menunggu aku memanggil guruku, aku akan memberikanmu buku mantra dasar. Seperti mengangkat benda, menyingkirkan benda, menghancurkan benda, hal-hal seperti itu!"
Lagi-lagi, Jazlyn mengangguk kecil. Dia kemudian berkata sambil lalu. "Kupikir aku tak perlu belajar hal-hal seperti mantra. Tapi jika itu harus kulalui, baiklah!"
Sejak Jazlyn kecil, ia selalu tertarik pada kaum Gipsi dan Roma. Tak pernah ia sangka akhirnya kini ia memiliki kesempatan mempelajari mantra. Hanya saja, ia tak yakin apakah ia mampu melakukannya.
"Setiap orang harus melalui tahapan pembelajaran sihir, meskipun kau memiliki potensi yang unik. Pertama-tama, kau perlu mempelajari mantra. Jika instingmu sudah kuat, kau bisa menggerakkan sesuatu bahkan tanpa mantra. Semakin kuat seseorang, semakin ia bisa melepaskan mantra dan hanya menyalurkan keinginannya ke suatu objek." Delios menjelaskan. Jazlyn baru mencapai dunia sihir. Dia tak ingin wanita itu melakukan kesalahan dari awal. Akan sangat disayangkan jika bakat unik seperti dirinya mengambil arah belajar yang salah.
"Aku akan meninggalkan buku-buku dasar sihir sederhana pada Agie. Karena kau mampu mengambil kekuatan sihir dari banyak sumber, tak masalah kau akan mengambil mantra yang mana!"
"Jadi, untuk satu jenis tujuan, ada banyak mantra berbeda?"
"Tentu. Sesuai dengan sumber sihir yang ingin kaugunakan. Itulah pentingnya menguji sumber sihir. Tapi denganmu, mantra apa pun jadi, tak peduli sumber mana yang akan kauambil!"
Belum-belum, otak Jazlyn rasanya sudah kusut. Dia ingin memukulkan kepalanya ke dinding. Dia tak pernah suka menghapal materi pelajaran saat sekolah dulu. Itulah kenapa ia berlari menjadi artis. Karena satu-satunya yang bisa ia hapalkan dengan mudah adalah teks naskah dan adegan. Selain itu, Jazlyn harus mengakui pada dirinya sendiri ia bisa dikatakan lemah alias tidak terlalu cerdas. Terlebih jika harus menghapal rumus aritmatika dan aljabar. Bisa dijatakan, otaknya pasti akan kacau dalam hitungan detik.
"Jazlyn! Bakatmu adalah sesuatu yang amat langka dan besar. Luar biasa besar. Kau tahu hal buruk apa yang akan mengikuti orang dengan bakat besar? Orang lain akan merasa terancam dengan keberadaanmu, sehingga mereka akan berusaha mati-matian melenyapkanmu saat kau dalam tahap pertumbuhan. Jadi, selama kau belajar banyak hal, jagalah rahasia kekuatanmu! Jangan sampai ada yang tahu jika kau memiliki bakat luar biasa, kecuali kau siap menjadi ajang perburuan tanpa akhir. Saat sayapmu semakin kuat dan mampu terbang ke langit bebas, barulah bakatmu tidak lagi berbahaya untuk diketahui banyak orang. Kau paham maksudku, bukan?"
Bakat besar selain memiliki manfaat, juga menimbulkan potensi bahaya. Jadi akan ada banyak orang yang tak suka atas kemunculan bakas seperti milik Jazlyn. Jika tidak hati-hati, Jazlyn hanya akan berakhir buruk.
"Aku paham. Tetapi bicara masalah bakat, bukankah Kaisar Alastair sendiri memiliki bakat besar? Bakat itu diketahu banyak orang, bukan?"
"Ya. Setelah orang-orang mengetahui bakatnya, Kaisar Alastair disembunyikan oleh orang tuanya, Kaisar dan ratu terdahulu, ke tempat yang tak terjangkau orang-orang. Seratus tahun kemudian, dia kembali dan kekuatannya sudah sangat luar biasa sehingga cukup kuat untuk melindungi diri sendiri dari banyak tekanan!"
Jazlyn mengangguk-angguk, memahami keseluruhan cerita dengan baik. Dia kemudian berdiri, dan menepuk-nepuk gaun sederhana berwarna kuning yang ia pinjanm dari Putri Agie. Mulai sekarang, Jazlyn harus menguatkan tekad untuk belajar. Otaknya kali ini harus mau diajak bekerja sama. Apa pun yang terjadi.
"Apakah ada pertanyaan sebelum aku memberikanmu buku sihir dasar?" tanya Delios, sangat sabar menghadapi Jazlyn.
"Kaubilang Kaisar Alastair tadinya memiliki semua sumber energi sihir. Tapi kenapa sekarang ia memiliki warna merah?"
Terdengar suara hembusan napas berat. Agaknya Delios dan Putri Agie tak terlalu menyukai pertanyaan ini. Jika Jazlyn tidak salah lihat, ada sorot ketakutan di mata Putri Agie.
"Kenapa? Apakah pertanyaanku menyinggung kalian?"
Putri Agie menggeleng lemah. Dengan berat hati, ia menjawab menggantikan Delios.
"Sejak seribu lima ratus tahun yang lalu, orang tua Kaisar Alastair dibantai dan dibunuh. Kaisar Alastair saat itu sedang melakukan pelatihan penting sehingga tak bisa diganggu, atau akibatnya akan fatal. Jadi tak ada yang mengganggunya dengan menyampaikan kabar ini padanya. Musuh itu pintar karena memanfaatkan waktu itu untuk membantai Kaisar dan Ratu terdahulu!"
"Dan?"
"Setelah Kaisar Alastair keluar dari pelatihan, dia murka mendengar orang tuanya dibunuh. Jadi dia melakukan pembantaian kejam. Pembantaian kejam yang sangat menakutkan. Banyak orang yang yang mati di tangannya saat itu. Sangking banyaknya pembantaian, Kaisar Alastair disebut sebagai Kaisar Maut. Terlalu banyak darah yang membasuh tangannya. Kekuatan emasnya akhirnya berubah menjadi kekuatan darah. Warna emas yang ia miliki hilang. Dia tak lagi memiliki hati nurani. Yang masih tersimpan dalam jiwanya hanyalah kebencian dan hasrāt membunuh!"
…