Buku Mantra

2055 Words
Jazlyn membawa sebuah buku mantra dan mulai mempelajari beberapa mantra dasar. Buku yang ia pegang adalah buku mantra dari sumber api. Karena Putri Agie memiliki sumber api, jadi akan lebih mudah bagi Jazlyn memulainya dengan sihir api dulu. Dengan begitu, jika ia mengalami kesulitan, ia bisa langsung menanyakannya pada Putri Agie secara langsung. Buku mantra ini tertulis dengan huruf aksara khusus dengan banyak lengkung dan tarikan-tarikan garis miring. Namun yang lebih mengejutkan dari semua itu, Jazlyn dengan mudah membacanya, seolah-olah ia telah mengenal aksara itu sepanjang hidupnya. Huruf-huruf aneh itu seperti sebuah ingatan lama yang sudah lama terkubur di alam bawah sadarnya, dan hanya butuh pemicu sedikit saja untuk mengaktifkannya kembali. Putri Agie sama terkejutnya dengan Jazlyn. Dia yang tadinya bersiap memberi pelajaran dasar tentang cara membaca mantra-mantra ini, jadi mengurungkan niatnya. Putri Agie berspekulasi pengetahuan dadakan ini adalah efek dari darah murni yang telah dibangkitkan oleh gerbang dimensi. Darah sihir Jazlyn telah aktif. Dia hanya perlu memanfaatkannya dengan baik. Keterkejutan Jazlyn tak berhenti di situ saja. Yang lebih sulit diterima nalar, Jazlyn membaca mantra satu demi satu, sementara otaknya dengan ajaib menyimpan ingatan tersebut secara sempurna. Seolah-olah Jazlyn membaca sebuah teks dialog adegan dan tanpa banyak kesulitan, dia menghapalnya dengan mudah. Dalam satu hari ini, Jazlyn berhasil menyelesaikan satu buku mantra dasar yang paling tipis dan mempraktekkannya dengan arahan Putri Agie. "Apakah aku bisa dikatakan berhasil?" tanya Jazlyn, mempertahankan lukisan melayang dua meter dari tanah dengan arahan jari telunjuknya. Lukisan itu bergerak ke kanan dan ke kiri, menyesuaikan ke mana arah jari Jazlyn menunjuk. Dengan hati-hati, Jazlyn meletakkan kembali lukisan tersebut di tempat semula. Putri Agie menatap Jazlyn dengan mata nanar. Dia tak pernah mengira wanita yang ia panggil ke dunia ini berubah menjadi monster. Apa sebutannya bagi penyihir pemula yang satu hari bisa menamatkan satu buku sihir dan mempraktekkan sebagian besar mantra dengan mudah? Tidak ada sebutan yang lebih sesuai selain monster. Jelas Jazlyn bukan manusia normal. Dia pasti mendapat keberuntungan tak kasat mata dari nenek buyutnya dulu. "Putri Agie! Apakah mulutmu menjadi bisu tiba-tiba?" Jazlyn baru saja menarik jarinya, membiarkan cahaya kuning pudar di sekitar tangan. "Bisakah kau berhenti pamer di depanku?" Putri Agie tampak merana. Putri Agie dianggap menjadi wanita yang cukup jenius. Dia satu dari segelintir orang yang mampu membuka gerbang dimensi. Namun, dihadapkan pada perkembangan luar biasa Jazlyn hanya dalam satu hari, mental Putri Agie telah jatuh ke titik terendah. Tidak ada manusia normal yang memiliki perkembangan mencengangkan seperti Jazlyn. Belajar sihir dengan mudah seolah-olah ia seperti makan dan minum yang tak perlu banyak usaha. "Pamer? Siapa yang pamer di depanmu? Aku hanya menunjukkan hasil belajarku hari ini!" Jazlyn tampak sumringah. Dia tak sadar darahnya memiliki ketertarikan pada sihir lebih daripada yang ia sadari. Belajar sihir ternyata semudah membalikkan telapak tangan. Ah. Mana letak tantangannya kalau begini? "Tidak ada orang yang langsung bisa mempraktekkan mantra sihir dan menamatkan satu buku mantra hanya dalam satu hari!" Putri Agie ingin sekali memukul kepala Jazlyn, memasukkannya ke dalam air, dan menyuruhnya berlutut meminta maaf pada Dewi Sihir karena tidak bersyukur dengan layak atas berkah yang diterimanya. Agaknya Jazlyn tak pernah sadar ia memiliki keistimewaan sehingga hatinya terlalu sempit dan lupa bersyukur dengan layak. "Tidak ada? Memangnya berapa lama mereka mampu mempraktekkan mantra setelah belajar dari buku? Setengah hari? Apakah aku lebih lambat dua kali lipat dari mereka?" tanya Jazlyn, raut mukanya tanpa rasa bersalah sama sekali. Saat-saat seperti inilah Putri Agie benar-benar ingin membakar Jazlyn hidup-hidup. Mulut wanita itu terlalu sembrono. Pada umumnya, penyihir pemula perlu waktu tiga hingga empat minggu untuk mempraktikkan mantra dari pelajaran teori yang mereka jalani. Itu saja, tidak ada jaminan berhasil dalam percobaan pertama. Bahkan ada yang dua bulan baru berhasil mempraktekkan mantra dengan baik. Jazlyn hanya butuh satu hari untuk itu, dan dia masih beranggapan dirinya cukup lambat. Bagaimana cara Putri Agie menghukum wanita yang tidak tahu malu itu? Tunggu sampai Delios kenbali ke sini. Lelaki yang telah memuja Jazlyn setelah melihat dia memiliki warna emas, pasti akan berubah penuh kebencian melihat kesombongan Jazlyn saat latihan. Lihat saja nanti. "Bisakah kau lebih rendah hati? Tidakkah kau merasaa kasihan kepada jantungku yang terus saja kau buat terkejut hari ini?" Putri Agie tak bisa menoleransi Jazlyn lebih lama lagi. Dia meletakkan setumpuk buku mantra lainnya, kemudian pergi dengan kutukan dan sumpah serapah. Jazlyn yang ditinggalkan seorang diri di ruang latihan, hanya bisa menatap kepergian Putri Agie dengam bingung. Apa yang salah dari dirinya? Kenapa sepertinya entah bagaimana Putri Agie marah padanya? Apakah hasil latihan ini kurang memuaskan? Baiklah. Seharusnya Putri Agie bilang saja terus terang. Dengan begitu, Jazlyn akan lebih tekun belajar lagi. Rupanya belajar mantra tidak terlalu membosankan. Seolah-olah mantra-mantra ini adalah sesuatu yang sudah terhubung dengan dirinya di masa lalu. Jazlyn meraih setumpuk buku yang ditinggalkan Putri Agie, menghirup aroma kertas dengan penuh kerinduan. Ya Tuhan. Aroma ini seperti aroma kenangan. Rasanya di suatu waktu dulu ia pernah menghirup kertas-kertas ini, menyesap wangi kayu-kayuan dan wangi tinta yang sangat khas. Ah. Aroma ini sungguh membuat Jazlyn merasa dipeluk oleh kawan lama. Kawan yang selalu setia menemani hidupnya. Jazlyn kembali meletakkan buku-buku mantra ini, menatap benda mati itu dengan penuh hasr*t. Ya Tuhan. Kenapa ini? Buku-buku aneh itu berhasil memunculkan minatnya dengan cara tiba-tiba. Mungkinkah kewarasannya mulai terganggu sekarang? … Jazlyn menatap seorang wanita yang tampak seperti dirinya sendiri. Bedanya, wanita itu mengenakan gaun berlapis-lapis berwarna merah merona, dengan banyak payet-payet. Sebuah gaun yang pastinya tidak akan pernah Jazlyn pakai dalam keadaan normal, karena ia tidak suka warna mencolok seperti itu. Pernah beberapa kali ia mengenakan gaun seprti itu, tapi itu karena tuntutan peran. Wanita itu menatap sebuah cincin emas yang melingkar di jari manis. Cincin yang sisi bawahnya memiliki sentuhan warna hitam dan tampak hidup. Tiba-tiba cincin itu bersinar, kemudian redup kembali. Dengan perlahan, wanita itu memutar-mutar cincin tersebut, menyadari ada tiga kata di permukaan cincin yang diukir dengan indah. Cinta. Kesetiaan. Keabadian. Sejenak Jazlyn membeku. Dengan jelas dia dapat membaca tiga kata tersebut seolah-olah ia berdiri persis di sisi sang wanita. Kata-kata itu diukir dengan goresan indah, seolah-olah pengukirnya menuangkan seluruh perasaannya pada cincin tersebut. Wanita itu menarik cincin, mencoba untuk melepaskan benda mungil tersebut dari jari-jemarinya untuk kedua kalinya. Namun, semakin sering sang wanita melakukannya, cincin itu semakin menyatu, menolak bergeser sedikit pun dari tempatnya. Jazlyn menatap bingung. Bagaimana ada cincin yang menolak untuk dilepaskan? Fenomena yang cukup aneh. Apakah cincin itu disematkan bertahun-tahun yang lalu sehingga kini lingkar jari sang wanita lebih besar dari semula? Wanita itu meringis, kemudian merutuk pelan. Dia menatap benda melingkar di jarinya dengan penuh kebingungan. "Cincin itu memilih pemiliknya sendiri. Kau adalah orang kedua yang ia pilih selain aku. Setelah berada di jari yang tepat, dia akan menyatu dengan jiwa pengguna, menjadi bagian dari dirinya secara utuh." Jazlyn menatap seorang lelaki berjubah merah dengan mata ungu yang menawan. Mata Jazlyn mengerjap beberapa kali. Dia mengamati rambut lelaki itu yang berkibar tertiup angin, menari indah seperti sutra hitam paling lembut dan paling menawan. Lelaki itu adalah lelaki yang mendatangi dirinya di mimpi sebelumnya. "Alastair?" Sang wanita menatap lelaki itu dengan bingung. Alastair? Dugaan Jazlyn tidak salah rupanya. Lelaki itu adalah Alastair. Hanya saja, ada satu hal yang berbeda dari lelaki yang mendatangi Zilka melalui mimpi beberapa waktu yang lalu. Mata Kaisar Alastair tidak lagi berwarna merah. Namun, justru ungu. Seperti mata wanita itu. Seperti mata Jazlyn. Warna ungu yang amat menawan. Jazlyn mengambil satu langkah ke depan, mengamati kedua orang di hadapannya dengan lebih cermat. Tak ada seorang pun yang menyadari keberadaan Jazlyn. Mungkinkah dirinya entah bagaimana terjebak di dimensi lain lagi? Sebuah dimensi yang jiwa dan ruhnya tak dapat disadari oleh orang lain. Selain keberadannya tak disadari, sepertinya keberadaan Kaisar Alastair tak mempengaruhi dirinya terlalu jauh. Tidak ada rasa sesak di d**a. Tidak ada rasa tertekan. Tidak ada napas yang berat. Semuanya baik-baik saja. "Ya. Ini aku." Lagi-lagi, suara Kaisar Alastair masih sama. Seperti musik paling medu yang indah di tengah musim semi. Seperti suara aliran sungai yang menyegarkan. Seperti suara kicau burung di pagi hari. Jemari Kaisar Alastair menyusuri wajah cantik sang wanita, mengagumi garis wajah yang sempurna di depannya. Jazlyn bergidik ngeri. Mata wanita itu berwarna sama dengan miliknya. Bibirnya melengkung indah, tulang pipi tinggi, hidung mancung, dan bulu mata yang panjang dengan lengkungan nyaris setengah lingkaran sempurna. Rambut wanita itu pirang madu berikal, panjang hampir menyentuh lutut. Ya Tuhan. Hampir tak ada yang berbeda dari wanita ini dengan dirinya sendiri. Bagaimana ada dua orang dengan kemiripan seratus persen? Putri Agie dan Jazlyn sendiri memiliki kemiripan yang hampir serupa, tetapi bahkan dengan Putri Agie pun ada perbedaan yang sangat menonjol. Rambut Putri Agie putih, sementara bentuk wajah Jazlyn lebih oval, dan bibir Putri Agie lebih tipis dari miliknya. Dengan wanita asing ini, Jazlyn tak menemukan satu perbedaan pun kecuali panjang rambutnya. Sialan. Kegilaan apa lagi yang sedang ia alami saat ini? "Kau ... untuk apa kau ke sini?" Wanita itu melangkah mundur, sinar matanya dipenuhi ketidakyamanan dan … apakah itu rasa takut? Tidak heran sebenarnya wanita itu ketakutan. Siapa yang tidak takut dengan lelaki yang suka mendominasi seperti Kaisar Alastair? "Untuk mengingatkanmu agar kau tidak lagi mencoba melepaskan cincin itu dari jarimu! Cincin itu memiliki jiwa. Dia telah memiliki setengah jiwaku, dan kini memilih menggabungkannya dengan dirimu!" Lelaki itu kembali mendekat ke arah sang wanita, tetapi usahanya tak berhasil karena sang wanita memilih berbalik, setengah berlari dari tempat itu. Jazlyn merasakan kabut asap menariknya, kemudian ia seperti melewati kilas balik banyak peristiwa yang tidak ia pahami dengan baik. Tiba-tiba, ia terlempar ke tempat lain. Kali ini ia berdiri di dekat hutan, dengan banyak pohon-pohon besar menaunginya. Jazlyn mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kemudian tatapannya berhenti pada sosok wanita yang mirip dengan dirinya. Lagi. Wanita itu masih tampak sama seperti terakhir kali ia melarikan diri dari Kaisar Alastair. Rambutnya sepanjang lutut, wajahnya juga menawan dengan kulit seindah kristal. Wanita itu tengah berdiri di atas meja kayu yang tampak kokoh, membiarkan jari manis tangan kirinya terpapar di pinggiran meja. Tangan kanan sang wanita menggenggam pedang. Cara tangannya menggenggam senjata tersebut tampak tegas, seolah-olah ia terbiasa menggunakan benda tajam itu dalam berbagai kesempatan. Apa yang coba dilakukan wanita itu? Rasa penasaran membuat Jazlyn mendekat, mencari tahu pikiran wanita tersebut dengan segera. Melihat wanita itu yang tanpa reaksi, Jazlyn menyimpulkan bahwa keberadaan dirinya masih cukup aman. Mungkin saat ini Jazlyn hanya sekadar roh yang tak memiliki wujud. Bukan hanya transparan. Bahkan mungkin eksistensi dirinya tak bisa ditunjukkan secara fisik. Perlahan, wanita itu mengangkat pedang tipis dengan mudah dan menggunakan seluruh kekuatannya untuk mendorong pedang tersebut ke arah jari manisnya. Jari manis yang tampak cantik dengan cincin emas dengan sedikit sentuhan hitam. Jazlyn syok melihat tindakan yang diambil wanita itu. Tidak mungkin wanita itu bermaksud …. CLANG!!! Sisi tajam pedang itu mengenai jari manisnya, memotong jari tersebut persis di bawah cincin. Jari itu terputus, membawa cincin yang sebelumnya tak pernah bisa dilepaskan olehnya. Tak ada ekspresi kesakitan di wajah wanita tersebut. Bahkan matanya tak berkedip ketika melihat jarinya sendiri terpotong. Ya Tuhan. Wanita seperti apa yang rela memotong jari manisnya sendiri hanya untuk membebaskan diri dari cincin yang tidak ia inginkan? Wanita macam apa yang bahkan tidak merasakan kesakitan sama sekali saat jarinya terlepas karena tindakannya sendiri? Sialan. Sialan.Sialan. Jazlyn pikir psikopat hanya terjadi di dunia miliknya. Ternyata ia salah. Bahkan di dunia antah berantah ini, ada juga benih-benih karakter psikopat. Jazlyn sedang sibuk mengamati wanita aneh dengan wajah mirip dirinya saat tiba-tiba awan kabut mengelilinginya dengan tiba-tiba, dan melemparkannya ke tempat lain. Jazlyn membuka kelopak matanya dengan berat. Ke mana lagi ia dikirim pergi saat ini? Cahaya matahari samar masuk menyusup ke balik gorden kamar. Langit-langit ruangan tampak familier. Ini adalah … kamarnya. Ruangannya sendiri. Jazlyn mengitarkan pandangan ke sekeliling, mendapati ada tiga orang yang mengelilingi dirinya. Putri Agie. Delios. Dan lelaki asing yang tampak berusia enam puluhan tahun dengan wajah penuh kerutan. Baguslah. Di tempat antah berantah ini, masih ada orang tua yang tersisa. Sebelumnya Jazlyn mengira mungkin tempat aneh ini hanya dipenuhi kaum muda yang umurnya mungkin ratusan tahun, hingga ribuan. Tak disangka ada yang tua juga. Dengan begini, setidaknya tampak lebih normal. "Jazlyn!" Putri Agie bertanya dengan khawatir. "Apakah kau dan gurumu sekarang memiliki kebiasaan menunggu orang tidur?" Jazlyn merasa terganggu dengan keberadaan mereka yang tiba-tiba. Percayalah. Tak ada wanita waras yang suka ditunggu di sisi ranjang selama ia tidur di malam hari. "Kau tidur selama dua puluh empat hari kali ini. Bagaimana aku tidak khawatir?" …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD