Setelah berunding, akhirnya kedua orang tua Alaia dan Erick sepakat untuk bertemu.
Alaia dan Erick sudah mengatakan bahwa mereka hanya akan berkenalan saja.
"Mama pake baju apaan coba ke sana?" Desy sudah lelah membongkar lemari pakaiannya.
"Pake aja yang simple. Semi formal" ujar Hadi santai.
"Pakai yang rapih dan sopan" imbuhnya lagi.
"Iya Ma" ujar Cantika yang masuk ke dalam kamar orang tuanya.
"Aku aja pakai yang ini Ma" Cantika memperlihatkan sebuah dress santai namun tetap terlihat semi formal.
"Nah coba pake yang modelan kayak Cantika aja" ujar Hadi.
Desy hanya mengangguk-angguk dengan apa yang disarankan oleh suaminya itu.
****
Gina repot sendiri di rumahnya.
"Mbak itu ruang tamu udah di sapu belum? Terus rumput di depan udah di pangkas belom? Mobil parkirnya yang rapih biar pas dateng parkirnya di dalem rumah" Gina begitu cerewet untuk urusan kerapihan rumah hari ini.
"Maa, santai aja" ujar Alaia yang masih dengan piyama tidurnya.
"Ya tapi tetap harus rapih dong!" ujar Gina.
"Mama mau ke dapur dulu, lagi siapin makanan. Kamu buruan doang mandi terus bantuin Mama! Calon mertuanya mau dateng juga" omel Gina.
Alaia pun kembali ke kamarnya.
Alaia melirik iPad miliknya.
Bagaimana bisa dirinya dan Erick melangkah sejauh ini.
Ada rasa bersalah yang terselip di hati Alaia.
Ia tidak tega membayangkan kekecewaan kedua orang tuanya dua tahun lagi jika mengetahui dirinya dan Erick memutuskan untuk bercerai.
Perceraian Alaia yang kedua.
Tapi rasa dendam dan tidak terima pada mantan suaminya menggerogoti Alaia.
Ia tidak bisa terima dirinya di duakan begitu saja. Alaia benar-benar menjaga diri dan hatinya selama berada di Perancis.
Tidak sedikit pria yang mencoba mendekatinga bahkan merayu Alaia, namun ia tetap pada pendiriannya.
Tidak habis pikir bagaimana mantan suaminya itu menduakannya.
Alaia berjalan menuju meja nakasnya dan mengambil ponsel, maksud hati ingin menghubungi Erick.
Namun ia mengurungkan niatnya.
Ia tidak ingin mengganggu Erick yang mungkin saja saat ini tengah berada di ruang operasi.
Kejadian kemarin seperti tamparan untuknya.
Alaia memilih untuk mandi dan membantu orang tua dan pembantu rumah tangganya yang sibuk sendiri di lantai satu, mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk menyambut kedatangan keluarga Erick yang akan datang hari ini ke rumahnya.
****
"Cantika ini bener rumahnya?" tanya Desy di kursi belakang yang menatap tidak percaya kediamaan rumah orang tua Alaia.
"Kalo dari alamat yang kakak kasih sih, bener Ma. Yang ini alamatnya" ujar Cantika sambil mencoba untuk mencocokan alamt yang di berikan oleh Erick dengan nomor rumah Alaia.
Desy benar-benar tidak percaya calon besannya ini datang dari keluarga berada.
Tidak habis pikir bagaimana Erick bisa bertemu dan akhirnya memutuskan untuk serius dengan Alaia.
Besar juga nyali putranya ini.
"Yaudah kita turun aja" ujar Hadi.
Cantika pun mengarahkan mobilnya ke pagar rumah megah orang tua Alaia.
Seorang satpam menghampiri mereka.
Cantik pun membuka jendela mobilnya dan mengutarakan maksud kedatangannya.
Satpam itu segera membuka pagar rumah.
Desy dan Hadi benar-benar takjub dengan pemandangan yang mereka lihat ketika pagar rumah terbuka begituu megahnya.
"Anak kita nyalinya gede juga Ma" ujar Hadi dengan mata yang tetap melihat ke depan.
Hadi, Desy dan Cantika pun turun dari mobil.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapih terlihat berdiri hendak menyambut mereka di depan pintu utama rumah tersebut.
Jika tidak mengingat ia sedang bertamu ke rumah calon besannya, Desy pasti sudah takjub sendiri mellihat rumah ini.
"Selamat pagi" wanita tersebut menyambut kedatangan Hadi dan keluarganya sambil mengulurkan tangannya.
Hadi menerima uluran tangan tersebut dan bersalaan dnegan sopan.
Gantian Desy yang menerima jabatan tangan tersebut.
"Saya Desy, Mamanya Erick, Ini Papanya dan ini Cantika, adiknya Erick" Desy memperkenalkan keluarganya pada calon besannya.
"Saya Gina Mamanya Alaia" ujar Gina dengan ramah.
"Ayo silahkan masuk dulu" ujar Gina mempersilahkan Hadi dan keluarga untuk masuk ke dalam rumahnya.
Baru beberapa langkah masuk ke dalam rumah, Yudha datang dari dalam rumah.
Pria paruh baya yang usianya kurang lebih sama dengan Hadi datang dan menyambut keluarga calon besannya.
"Ini Papanya Alaia" ujar Gina dengan ramah.
Hadi dan Desy begitu terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya.
Bekad bener sih punya anka deketin anak pejabat begini batin Desy.
Keduanya mencoba untuk terlihat santai melihat kaget setengah mati.
Yudha menjabat tangan ketiga orang yang ada di hadapannya dengan ramah.
"Sialhkan duduk dulu. Sebentar ya, Alaia masih sibuk di dapur" Gina meninggalkan Yudha bersama Hadi, Desy dan Cantika.
"Gimana perjalanan kesini? Susah gak? Macet gak?" tanya Yudha.
"Oh enggak kok. Gak gitu susah kok, kami juga rumahnya di kompleks" ujar Hadi.
Ya iyalah gak pusing, gue yang nyetir batin Cantika dalam hatinya.
"Aya!!" pekik Gina ketika sudah memasuki area dapur.
"Apaan?" teriak Alaia yang sibuk dengan kue lapis yang baru saja matang itu.
"Kamu udah mandi belom?" tanya Gina.
"Udah dong!" jawab Alaia sewot sambil tetap fokus dengan kue buatannya itu.
"Kok belom siap-siap?" protes Gina lagi.
"Ya kan lagi bikin kue" sahut Alaia sibuk.
"Udah sana biar mbak aja yang urusin. Itu udah dateng!" ujar Gina panik.
Alaia langsung menoleh dengan ekspresi kaget yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Udah sana kamu buruan ganti baju!" ujar Gina yang langsung mengambil alih loyang yang tengah di pegang oleh putrinya itu.
Alaia segera berlari menuju lantai dua untuk segera mengganti pakaiannya.
Disinilah Alaia berada.
Di apit kedua orang tuanya, berhadap-hadapan dengan kedua orang tua dan adik perempuan Erick.
"Ayo silahkan di tambah lagi cemilannya" ujar Gina sambil membukakan toples cemilannya lagi.
"Maaf loh sebelumnya, Ericknya gak ada" ujar Desy.
"Gak apa-apa kok. Erick juga harus fokus kuliah dulu. Yang penting kita sudah ketemu sama anaknya" ujar Yudha.
Pada pertemuan keluarga ini, Yudha telrihat lebih santai dibanding biasanya.
Tidak ada kesan seorang pejabat yang keras, yang terlihat hanyalah sosok seorang ayah untuk putri tunggalnya.
"Cantika sekarang masih kuliah?" tanya Gina dengan ramah pada gadis cantik yang duduk di sebelah Hadi.
"Iya Tante" jawab Cantika semanis mungkin pada calon mertua kakaknya.
Hitung-hitung melatih dirinya bertemu dengan calon mertuanya kelak.
"Sekarang lagi magang, mudah-mudahan abis ini langsung skripsi" ujar Desy.
Kedua calon pasangan besan itu membicarakan banyak hal untuk lebih mendekatkan diri.
Hadi dan Desy diam-diam sangat kagum karena baik Yudha maupun Desy tidak membicarakan urusan pekerjaan dan memamerkan apapun tentang kepemilikan mereka.
Keduanya hanya fokus membicarakan tentang hal-hal seperit hobi di usia senja mereka, kegiatan sehari-hari dan cerita masa lalu ketika anak-anak mereka masih kecil.
"Jauh juga jaraknya Erick sama Cantika" ujar Gina.
"Awalnya kami rencananya mau kasih Erick adik kalo umurnya sudah lima tahun, tapi karena dulu sibuk Papanya pindah tugas sana sini, jadinya waktu Erick kelas lima SD baru punya adik" ujar Desy.
"Enak ya, repotnya cuman sekali aja" ujar Desy.
"Gak juga. Namanya juga anak. Pasti ada ajalah repot-repotnya, bandel-bandelnya waktu masih kecil ini mah. Namanya juga anak" ujar Gina sambil menepuk pelan paha putrinya itu.
Kedua pasang calon besan itu larut dalam pembicaraan mereka.
"Eh, sudah waktunya makan siang. Yuk makan dulu"
****
"Jadi gimana?" tanya Erick sambil menenggak minumannya di sebrang sana.
"Berhasil" ujar Alaia sambil membersihkan riasannya.
Setelah acara pertemuan kemarin, malamnya Alaia langsung kembali ke apartemennya.
"Awalnya emang agak sedikit canggung sih, tapi lama kelamaan ngalir gitu aja" ujar Alaia.
Erick menjawabnya dengan dehaman.
"Sori ya kemaren aku gak bales chats kamu. Aku sibuk operasi sama harus belajar juga" ujar Erick.
"Iya, gapapa. Santai" ujar Alaia santai lanjut mencuci wajahnya.
"Kalo dipikir-pikir, kita keluarganya sama-sama kecil ya" ujar Alaia.
"Sama-sama keluarga kecil?" Gimana?" tanya Erick.
"Iya. Aku anak tunggal, kamu cuman berdua sama adik kamu" ujar Alaia.
"Ohhh" sahut Erick.
"Sukurnya Mamaku gak minta cucu yang banyak. Kayaknya dikasih satu atau dua udah seneng" ujar Erick.
"Mamaku gak ngomong apa-apa. Kayaknya lebih terserah aku aja mau punya anak berapa" sahut Alaia.
Seandainya aja Mama tau ini semua cuman bertahan dua tahun kedepan batin Alaia.
"Jadi abis gimana lagi?" tanya Alaia.
"Kalo bisa ya ajakin Mama kamu sama Mamaku jalan bareng biar makin deket. Aku lagi coba buat urus cuti lagi supaya biar meyakinkan" ujar Erick sambil melihat-lihat kalender miliknya.
"Kamu sering cuti gitu apa gak apa-apa?" tanya Alaia.
"Kan cutinya gantian. Makanya aku bilang gak bisa terus-terusan cuti" ujar Erick.
"Berarti gantian sama temen kamu?" tanya Alaia lagi.
Erick menjawabnya dengan dehaman.
"Rencana aku, gak perlu lama-lama lagi. Secepetnya aja abis itu kita langsung nikah aja" ujar Erick.
"Surat perjanjian kita gimana? Aman?" tanya Erick memastikan.
"Aman kok. Pengacara aku udah setuju, pengacara kamu juga udah setuju, tinggal kita tanda tangan aja" ujar Alaia dengan santai dan bersiap untuk tidur.
"Bagus" ujar Erick.