Bab 12 - Saya Minta Maaf, Na

1864 Words
"Maaf, gue refleks lempar ke muka lo," ucap Una, merasa bersalah. "Tidak apa-apa," jawab Jeka yang mengambil buket tersebut, setelah itu memberikan buket pada Una lagi. "Tadi niat saya hanya bercanda saja. Mungkin lain kali saya tidak akan mengajakmu bercanda seperti barusan. Maaf kalau buat kamu kurang nyaman.” Una tersenyum tipis dan memilih menerima buket bunga itu tanpa berkata apa-apa. Setelahnya, dia membiarkan Jeka memundurkan motor sembari memakai helm. Ini yang dia mau sejak tadi, pulang ke rumah. Una sudah tidak betah berlama-lama dengan Jeka. "Na, sebelum pulang bisa temani saya ke apotek sebentar?" Astagaaa, baru saja Una berkata begitu dalam hati … ada lagi hal lain yang membuat dia harus meluangkan sedikit waktu berharganya untuk menemani si pria menyebalkan tersebut! Huh. "Oke." Una ikut Jeka masuk ke dalam apotek dan memutuskan duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di sana. Sementara Jeka langsung menebus obat dengan memberikan resep dokter pada penjaga apotek. Tadi di perjalanan Jeka bercerita kalau dia membeli obat untuk sang papa. Papa memilih dirawat di rumah oleh istri dan dibantu seorang suster. Jika ingin kontrol mengenai perkembangan atau penyakitnya kambuh, baru papa datang ke rumah sakit. Una juga sempat bertanya sakit apa dan bagaimana keadaan papa sekarang. Setelah mendengar jawaban Jeka, gadis berambut sebahu itu mengangguk dan bilang pantas saja Jeka menggantikan posisi papa di perusahaan. Perempuan yang mengenakan dress biru kini memperhatikan punggung lelaki yang tengah berinteraksi dengan penjaga apotek. Dia teringat dengan ucapan lanjutan Jeka. “Tadinya saya tidak berniat sama sekali meneruskan perusahaan papa, tetapi jika tidak mengambil keputusan itu … saya pasti tidak akan bertemu dengan kamu lagi seperti sekarang, Aruna.” Yang dia dengar tadi, nada bicara Jeka tidak terdengar menyebalkan seperti biasa. Namun saat mengingat-ingat lagi perlakuan Jeka di awal pertemuan mereka setelah sekian lama, Aruna kembali kesal dan memilih menatap ke arah lain. *** Hari Senin. Una terbangun dari tidurnya tadi pagi dan sedikit menyesal mendapati fakta bahwa dirinya masih menjadi sekretaris Jeka. Lelaki itu tidak berhenti menyuruh ini-itu di luar jobdesc yang sudah ada. Kemarin Jeka menyuruh lewat telepon untuk membeli roti tawar kupas, selai coklat, rumput laut, dan beberapa keperluan rumah seperti sabun, sampo, bahkan pembersih wajah segala. Una bergegas pergi ke supermarket dan membeli apa yang bosnya mau. Dia meminjam motor sang adik dan pergi ke sana setelah adiknya pulang pukul setengah delapan malam. Setelah memoto struk, Jeka langsung mentransfer uang ganti lebih dari yang seharusnya. Emosi Aruna seketika mereda. Una berlari kecil ke dalam gedung setelah turun dari ojol dengan tangan menenteng dua totebag besar berisi belanjaan Jeka yang dibelinya kemarin. Seperti biasa, melihat gadis berambut sebahu yang merupakan sekretaris baru Pak Jeka ... satpam yang mengemban tugas jaga malam sigap membantu membawa totebag tersebut. "Bawa apa sih, Mba? Repot banget kayanya," ucap Pak Satpam yang berbasa-basi saat Una mengambil dua kantung plastik besar yang lelaki paruh baya itu taruh di meja resepsionis setelah dia memasukkan kartu absen ke mesin yang tersedia. "Belanjaan bos. Duluan, Pak." Una berjalan terburu-buru setelah menjawab pertanyaan satpam dan men-tap kartu agar bisa masuk ke dalam gedung. Dia sudah dapat kartu akses sendiri, Jeka yang memberikan kemarin. "Pagi, Mister," ucap wanita yang rambutnya agak berantakan dengan napas terengah. Dia langsung masuk ke ruangan Jeka tanpa menaruh tas dan merapikan penampilan dulu. Tidak punya waktu untuk merapikan rambut atau menatap kaca sebentar saja. Jeka sempat menatap Una dari atas sampai bawah, kemudian dia melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. "Sekarang jam enam lewat dua menit. Itu tandanya apa?" "Saya terlambat, Mister." "Pintar," jawab Jeka sembari mengangguk. "Squat jump lima kali," perintahnya langsung tanpa ada rasa kasihan. Una yang pagi ini masih mengenakan flatshoes—dia selalu memakai itu dan baru akan mengganti dengan heels jika sudah sampai meja kerja—langsung mengangguk tanpa berkata apa-apa. Dia menaruh kantung plastik di masing-masing tangan kanan dan kiri ke lantai, kemudian melakukan apa yang Jeka perintahkan. "Kenapa kamu pakai alas kaki semacam itu di kantor? Kamu tidak niat bekerja, Aruna?" tegur Jeka di saat Una sudah kembali berdiri, mencari-cari kesalahan bawahan. "Maaf, Mister. Saya sangat berniat bekerja di sini." "Kamu tahu kan sepatu apa yang wajib dipakai sesuai standar perusahaan?" "Tahu, Mister. Karena saya takut terlambat jadi ...." "Sudah, saya tidak mau dengar alasan apa pun," potong Jeka yang duduk di kursi kebesarannya sedari tadi. "Akui saja kalau kamu memang salah." "Baik, Mister." "Jangan kamu pikir kamu bisa bersikap seenaknya di sini. Jika sudah masuk ruangan saya tolong jangan berpenampilan seperti ini lagi." “DUHHHH, REPOT BANGET? INI JUGA GARA-GARA LO NYURUH GUE DATENG PAGI-PAGI BUTA. BAHKAN HANTU AJA BARU PADA KABUR JAM SEGINI, JEKAAAAA,” dumel Una yang lagi-lagi hanya bisa dia utarakan dalam hati. "Sekali lagi saya minta maaf, Mister," ucap Una yang kini menunduk, berbanding terbalik dengan isi hatinya. Jeka sempat menatap gadis di hadapannya kemudian bersandar di kursi. Setelah itu dia kembali bersuara, "Bawa belanjaan itu ke sini." "Baik, Mister." Una yang kini tidak memiliki keberanian untuk membangkang perintah Jeka, memilih menuruti apa mau laki-laki itu. Semua dia lakukan supaya tidak menganggur karena lebih pusing menghadapi ocehan mama di rumah dibanding menghadapi bos menyebalkannya sekarang. Una menaruh kedua totebag besar di meja Jeka, kemudian mengeluarkan struk belanja dari salah satu kantung plastik sembari menyerahkannya pada lelaki itu. "Totalnya 530.800, dua ratusnya dipakai untuk donasi, Mister," jelas Una sedetail mungkin. "Berisik, saya sudah tahu. Kemarin kan kamu sudah foto struknya,” sewot Jeka yang membuat Una ingin menendang kursi kebesaran milik Jeka. Namun, Una berusaha bersabar dan menahan emosi dengan menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Jeka mengecek sekilas semua belanjaan yang ada di dalam totebag, lalu berkata, "Bawa ke dalam, bereskan sesuai tempatnya. Mm, kamu juga seperti biasa bereskan kamar dan ruangan ini, ya? Saya lebih percaya kamu untuk membersihkan ruangan." “Bukan percaya, tapi emang sengaja nyuruh gue! Lo pikir gue gak bisa baca niat jelek lo?” batin Una, tetapi yang bisa dia lakukan adalah mengiyakan ucapan Jeka. "Buatkan saya teh hangat dulu. Hari ini teh biasa dengan satu sendok gula, ya?" Una mengangguk dan memilih untuk membawa totebag belanjaan Jeka ke kamar. Sebelum perempuan itu pergi, dia sempat melihat sekitar ruangan. Dia baru sadar ternyata di pojok kiri ada CCTV yang terpasang. Astagaaa ... pantas saja Jeka tahu kelakuan Una di belakangnya! Una bahkan baru menyadari benda kecil yang sama menyebalkannya dengan Jeka itu tertempel di sana. Setelah makan siang, Jeka mengajak Una untuk ikut dengannya pergi ke kantor cabang di daerah Bogor. Jeka membiarkan Bu Raisa mengerjakan tugas di kantor saja dan tidak perlu ikut mereka karena tidak ingin membuat wanita hamil itu kelelahan. Jeka membawa mobil sendiri dan Una duduk di samping kursi kemudi. Dia seperti melihat sosok berbeda dari Jeka sesampainya di kantor cabang. Hampir separuh hari dia habiskan untuk marah-marah. Ada beberapa orang yang dipanggil ke ruangannya dan ditegur karena kinerja maupun kesalahan mereka, Una juga melihat langsung ada senior yang sudah bertahun-tahun bekerja di sana dipecat saat itu juga karena menggelapkan dana perusahaan. Meski nominalnya di bawah lima puluh juta, tetap saja rugi. Una lebih banyak diam dan duduk manis di sofa ruangan karena tidak tahu harus berbuat apa. Paling jika Jeka menyuruhnya ini-itu baru dia lakukan. Bahkan untuk pergi ambil minum atau ke toilet saja dia sungkan. Ternyata di kantor cabang juga ada ruangan untuk bos meski tidak sebesar di kantor utama. Memang kalau untuk di sini paling akan didatangi sebulan dua kali ... jadi tidak dibutuhkan ruang yang terlalu besar. Selesai dengan urusannya, Jeka menyandarkan punggung di kursi dan mengembuskan napas lelah. Lelaki itu mengusap wajahnya dan mendongakkan kepala ke atas, memejamkan mata dan mengatur emosi yang masih menguasai dirinya. Masih dengan mata terpejam, Jeka mengendurkan dasi yang melingkar di leher sambil bicara, "Tolong ambilkan saya air mineral di kulkas, Aruna." "Baik, Mister." Sekretaris fresh graduate ini langsung berjalan menuju kulkas berukuran kecil di atas meja yang berisi full minuman kemasan milik Indodrink. Di kantor utama juga ada kulkas dengan isi yang sama. Bahkan di tempat Mba Raisa dan Aruna juga ada kulkas yang sama. Mereka bebas mengambil produk itu dan jika sudah habis nanti akan dibawakan lagi. Una menyerahkan botol air pada laki-laki yang sudah membuka mata dan kembali menegakkan tubuh. "Dibukakan sekalian, kamu itu tidak ada inisiatif," tegur Jeka yang membuat Una langsung membuka segel air mineral beserta tutupnya. Jeka mengambil botol mineral itu dari tangan Una dan meminum sampai habis. Setelah puas, dia kembali menyerahkan botol kosong ke arah gadis berambut sebahu ini lalu memerintahkan Una untuk membuangnya. Tanpa sadar, Una berdecak sebal dan mengambil botol dari tangan Jeka agak kasar. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Mister?" tanya Una agar dia tidak lagi dikata tidak punya inisiatif. "Pijat kepala saya, rasanya pusing sekali." Una menghampiri Jeka yang duduk di kursi, kemudian berdiri di belakang lelaki itu. Jeka refleks mendongak dan memejamkan mata, membiarkan Una memijat kepalanya. "Lebih kencang, dong! Bagaimana sih?" Lagi-lagi, Una juga jadi kena sasaran kemarahan Jeka. Bilang saja laki-laki itu masih emosi karena belum puas memaki, makanya Una yang jadi pelampiasan atas emosi yang menumpuk milik bosnya. Una berusaha menambahkan tenaganya agar dia berhenti mengomel. "Jangan terlalu kencang juga, kamu sengaja ya mau membuat saya cedera?" bentak Jeka yang mendadak membuka kembali kedua kelopak mata hingga Una kaget karena langsung bertatapan. "Maaf, Mister." "Saya bisa merasakan kalau kamu cuma bekerja setengah hati di sini," ucap Jeka dengan nada yang lebih rendah daripada barusan. "Mau saya pecat juga seperti orang tadi?" "Tidak, Mister." "Kamu bilang sangat ingin bekerja di sini, tetapi sikap kamu sama sekali tidak menunjukkan begitu." Astaga ... harus bersikap bagaimana lagi dia di hadapan bosnya? Dia selalu menuruti kerewelan laki-laki itu, baik di jam kerja atau bukan. Namun kenapa Jeka malah mengatakan hal semacam itu? "Saya minta maaf kalau saya bersikap seperti itu di mata Mister." "Saya muak dengar kamu mengumbar maaf," kata Jeka. "Berhenti saja, ya? Masih banyak orang yang lebih kompeten dari kamu yang benar-benar ingin bekerja di sini." "Saya harus bagaimana lagi, Mister? Saya sudah merasa melakukan semua pekerjaan dengan baik. Kalau masih ada yang salah atau kurang, tolong dijelaskan salah saya di mana. Saya akan coba perbaiki semampu saya." Jeka yang masih menatap wajah Una dari bawah, menarik satu sudut bibirnya ke atas. "Umurmu sudah bukan di usia muda lagi, Aruna. Kamu sudah bukan lagi anak kecil yang harus diberitahu di mana letak salahnya baru kemudian minta maaf. Kalau saya tidak tegur kamu, kamu tidak akan sadar dan merasa kalau kamu punya salah?" Una mendadak diam saat Jeka bicara begitu. Tangannya dia jauhkan dari kening Jeka, kemudian gadis itu bersuara, "Saya boleh ijin ke toilet sebentar?" lirihnya pelan. "Ya." Una bergegas masuk ke dalam toilet yang ada di ruangan Jeka dan menutup pintunya rapat. Gadis yang memakai kemeja dan rok hitam selutut ini menarik tisu toilet dan langsung mengelap airmata yang tiba-tiba muncul tanpa diundang. Una rasanya ingin berhenti. Dia tidak mau terus-terusan diinjak-injak oleh Jeka seperti itu. Andai saja waktu bisa diulang, Una tidak akan datang untuk melamar pekerjaan di kantor iblis ini. Di luar toilet, Jeka kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sadar ucapannya sudah menyinggung Aruna. Namun, dia tidak bisa mengendalikan emosi ketika melihat Una menunjukkan sikap yang tidak Jeka sukai ketika gadis itu diperintah olehnya barusan. Saya minta maaf, Na. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD