Bab 13 - Samsak Tinju Muka Jeka

1483 Words
Setelah Una keluar dari toilet, Jeka langsung menyuruh gadis itu bersiap karena mereka akan kembali ke Jakarta. Jam sudah menunjukkan pukul lima sekarang. Tidak akan kembali ke kantor utama, tetapi langsung mengantar Una pulang setelah pergi makan. Aruna tidak banyak bicara. Dia berjalan membuntut di belakang bos menuju parkiran sambil mengatur diri supaya terlihat baik-baik saja. Suasana di dalam mobil tampak hening. Una yang duduk di sebelah Jeka sedari tadi memilih menatap ke sebelah kiri dan melihat ke arah luar. Dia tidak ingin Jeka mengetahui kalau dirinya habis menangis, walau nyatanya dengan menatap mata Una sekilas saja sudah membuat Jeka paham. Ah, sepertinya Jeka mengetahui banyak hal tentang Una dibanding hal tentang dirinya sendiri. *** Jakarta, 2013 "Una, kamu kenapa?" tanya Jeka, menghampiri gadis berseragam putih abu-abu yang tengah menangis sendirian di halte. Saat itu pukul lima sore, Jeka sejujurnya sudah memperhatikan Una dari jauh dan cukup lama dari pos sekolah. Laki-laki bertubuh gempal ini akhirnya menghampiri saat dia sudah memastikan tidak ada lagi orang yang melihat mereka. Una tidak suka kalau ada yang tahu mengenai hubungan mereka. "Gak usah kepo!" ketus Una yang menggeser sedikit tubuhnya dari Jeka. "Lo ngapain masih di sini? Kan gue bilang, gak usah anter gue balik lagi!" "Aku pulang kalau kamu udah ada yang jemput." "Ngapain sih lo masih peduliin gue, hah? Mau gue ada yang jemput atau gak, atau tidur di halte, sama sekali bukan urusan lo!" "Aku kan pacar kamu. Kalau kamu ada masalah apa-apa, cerita aja. Aku pasti dengerin, kok," kata Jeka yang membuat Una menoleh ke arah laki-laki bertubuh gendut dan wajah yang penuh jerawat itu. "Leo nolak gue pas dia tahu gue pacaran diem-diem sama lo," ucap Una yang kembali menangis dan membuat Jeka membuka sedikit mulutnya. "Dia bilang dia jijik sama gue karena seleranya cowok rendahan kaya lo," lanjut Una lagi dengan gamblangnya dan membuat Jeka terdiam. "Gue juga gak tahu kenapa bisa-bisanya gue nerima lo jadi cowok gue? Padahal gue sayangnya sama Leo." "Terus Una maunya gimana?" "Berhubung lo tanya, ya gue mau putus! Kita putus aja deh." "Tapi kita baru jalanin hubungan beberapa hari, seminggu juga belum." "Leo bilang, dia mau nerima gue kalau gue putus dari lo." "Aku gak mau putus, Na. Aku sayang banget sama kamu. Aku rela lakuin apa aja yang penting hubungan kita tetap bertahan," kata Jeka, memelas. "Aku tahu Leo jauh lebih segala-galanya dari aku, Na. Tapi kamu sendiri yang bilang mau kasih kesempatan ke aku." "Ya itu karena gue kasihan sama lo! Bahkan Santi yang paling nerd dan aneh di kelas gue aja gak mau dijodoh-jodohin sama lo," ucap Una kelewat jujur yang membuat Jeka merasa sakit "Kalau si Santi tahu gue pacaran sama lo, bisa-bisa dia gantian yang nge-bully gue." Jeka menelan ludah. "Kamu bisa gak lebih ngehargain aku? Mm, aku tahu sih mungkin ucapan kamu ada benarnya, Na. Tapi aku juga manusia biasa, rasa sakit itu pasti ada kalau kamu selalu ungkit fisik aku." Una berdecak sebal dan menatap Jeka dengan malas. "Mau dihargain berapa duit sih lo? Belagu banget jadi orang. Makanya lo berubah cakep dulu, baru bisa dihargain orang," ketus Una. "Eh tapi mana mungkin lo jadi cakep? Mimpi kali ah." "Kalau seandainya suatu saat aku bisa berubah, gimana?" "Kalau suatu saat lo bisa berubah ...." ada jeda dalam ucapannya. "Gue rela jadi babu lo, deh. Gak diupah setahun. Lo cari aja nanti Aruna Puteri Pertiwi yang paling cantik satu SMA, eh tapi itu juga kalau gue belum nikah sama Leo dan hidup bahagia sih, ya." *** "Kamu mau makan apa?" tanya Jeka akhirnya untuk memecah keheningan. Di sepanjang jalan sama sekali tidak ada percakapan apa-apa sejak tadi. "Saya tidak mau makan. Kalau memang sudah tidak ada lagi kerjaan di kantor, saya ingin langsung pulang," jawab Una dengan suara bergetar tanpa repot menatap Jeka. Lelaki itu sempat terdiam sebentar, lalu berucap, "Kamu habis menangis?" "Tidak," jawab Una cepat. Dia tidak mau kelihatan lemah di hadapan Jeka. "Kamu tidak bisa membohongi saya, Na,” batin Jeka. Namun, lelaki itu tidak mengucapkan sepatah kata lagi. Dia memilih untuk diam dan memutar lagu di radio agar suasana tidak terlalu sepi. Walau Una tidak mau makan, Jeka tetap membawanya ke salah satu tempat makan yang berada tidak jauh dari sana. Sejak tadi mereka belum mengisi perut dengan makanan, Jeka sih tidak masalah karena dia sudah biasa ... tetapi lain halnya dengan Una. Yang lelaki itu tahu, Aruna punya penyakit maag. Dia takut Una kenapa-napa jadi Jeka memutar otak supaya sekretarisnya mau makan. "Pesan saja makanan yang kamu mau. Saya tidak akan membiarkan kamu pulang dengan perut kosong,” kata Jeka sembari menyodorkan buku menu. Una tidak menyentuh buku itu sama sekali. Keduanya saat ini duduk di salah satu meja yang kosong. "Saya pesan teh manis hangat saja, Mister. Sedang tidak ingin makan." "Kalau kamu tidak mau makan, kita tidak akan pulang." Belum sempat Una mengucap sesuatu, Jeka mengangkat tangan hingga seorang pelayan menghampiri. Dia menanyakan mereka ingin pesan apa, dan Jeka langsung menyebutkan pesanan. "Soto ayam dua porsi, sate ayam satu porsi, teh manis hangat satu, es teh manis satu," ucap Jeka. "Ada lagi yang kamu mau?" "Hah?" Una yang memang bingung, sekarang menatap Jeka. "Saya belum pesan." "Saya sudah pesankan soto dan sate satu porsi untuk kamu. Ada yang kamu inginkan lagi, tidak?" "Tidak, cukup itu saja," kata Una. "Mau tambah dengan nasi?" tanya Jeka lagi yang membuat Una menggeleng. "Sudah, Mas, itu saja," ucap Jeka, kembali menatap laki-laki yang tengah mencatat pesanan mereka. Dia mengulang apa saja yang dipesan, kemudian pergi setelah sudah mengonfirmasi pesanan. "Besok saya ke Bandung, mungkin dua hari," ucap Jeka langsung ketika lagi-lagi tidak ada obrolan antar mereka. Aruna fokus dengan ponsel. "Kamu ikut saya, ya?" Una yang tengah mengirim pesan balasan pada teman, lantas menatap lelaki itu dengan mata bulatnya. "Menginap di Bandung?" "Ya." Jeka mengangguk. "Saya ingin mengunjungi kebun teh milik papa yang ada di sana. Rencana juga akan ada perluasan lagi mengingat bertambahnya produksi teh milik Indodrink." "Jam berapa?" tanya gadis yang kini memilih meletakkan ponsel ke atas meja. "Sehabis meeting kita jalan, kamu sudah persiapkan bahan presentasi besok, kan?" *** Mobil Jeka baru sampai di depan rumah Aruna pukul sembilan malam. Una sudah tertidur pulas. Gadis itu sepertinya tidak kuat menahan kantuk, sejak makan dia sering menguap. Ingin membangunkan dia tetapi tidak tega. Biar Jeka antar Aruna sampai kamar saja. Jeka keluar dari mobil lebih dulu lalu memencet bel rumah. Tidak lama kemudian, ada seorang wanita yang keluar dan membuka pintu pagar. Tidak lain tidak bukan adalah mama dari Aruna. "Malam, Bu," sapa Jeka seraya menunjukkan senyum lebar ke arah wanita yang ada di hadapannya. "Malam, Nak Jeremy," jawab sang mama. "Tadi Aruna bilang dia ke Bogor sama kamu?” "Iya. Saya mengantar Una, Bu," sahut Jeka sopan. "Tetapi dia tidur di mobil saya, jadi saya minta dibukakan pintu pagarnya agar saya lebih mudah membawa dia ke dalam." "Astagaaa, kenapa gak dibangunkan aja? Gak perlu dibopong kaya anak kecil." "Tidak masalah, Bu," kata Jeka sembari terkekeh. Jeka kembali ke mobil dan membuka pintunya. Dia mengangkat tubuh Una dari dalam sana, sementara sang mama mengambil tas anaknya dan menutup pintu mobil Jeka. Wanita paruh baya ini mengikuti langkah Jeka di belakang setelah menutup pagar. Setibanya di kamar Una, ternyata pintu dikunci. "Saya baru ingat, akhir-akhir ini dia selalu mengunci pintu kamarnya. Sebentar." Wanita itu membuka resleting tas milik Una, mencari kunci kamar yang terdapat gantungan kelinci. Sang mama langsung memasukkan ke lubang kunci setelah menemukan kunci di bagian kecil tas anaknya. Sejak dua hari lalu, dia selalu mengunci pintu sebelum pergi. Setelah menaruh tas di atas meja rias, mama langsung keluar … entah ke mana. Jeka membawa tubuh Una ke dalam kamar dan membaringkannya di ranjang. Kamar Una didominasi dengan warna pink. Jeka hampir saja terkagum dengan kamar perempuan itu yang rapi dan wangi sampai akhirnya perhatian Jeka terarah pada samsak tinju yang ada di dekat tempat tidur Una. Jeka tidak masalah kalau seandainya itu hanya sebuah samsak tinju biasa. Yang menjadi masalah adalah di sana ada cetakan fotonya yang di-print dan dibuat berkumis serta berjenggot panjang. Di atas kepalanya juga ada dua tanduk merah yang seolah melambangkan jika Jeka adalah sosok setan. Ditambah dengan foto Jeka yang tengah tersenyum lebar—yang Jeka yakin Una mengambilnya dari sosial media—menambah kesan yang makin menyeramkan. Una menggunakan samsak tinju dengan muka Jeka yang ditempel di sana untuk melampiaskan emosi jika kesal dengan sikap lelaki itu yang semena-mena padanya. Dia akan memukul wajah Jeka berulang kali kalau sudah sangat kesal. Jeka mengeluarkan ponsel, kemudian memoto samsak tinju itu beberapa kali sebelum akhirnya kembali memasukkan ponsel ke dalam saku. Suara wanita yang memanggil namanya membuat Jeka menoleh dan tersenyum ke arah sang mama yang kembali muncul di depan pintu. "Bapak jangan pulang dulu, saya sudah buatkan teh hangat. Minum dan duduk sebentar, ya?" "Oh … iya, Bu. Terima kasih." Jeka sempat menyelimuti tubuh Una kemudian menyunggingkan senyum satu sudut. Setelahnya dia keluar dari kamar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD