Bab 7 - Merasa Dejavu

1599 Words
Una bisa bernapas lega karena sampai sore hari Jeka tidak lagi mengganggu. Lelaki itu tidak berada di kantor sejak makan siang berakhir. Entah ke mana, dia tidak diberi tahu apa pun. Mungkin Mba Raisa tahu? "Mba, memangnya Pak Jeremy sudah gak ada jadwal lagi hari ini?" tanya Una yang tengah sibuk mengambil alih tugas Mba Raisa setelah memerhatikan wanita yang mengajarinya banyak hal baru hari ini. 80% Una sudah mulai mengerti mengenai alur kerja yang akan dia lakukan setiap hari. "Untuk siang sampai sore ini kosong Na, tapi nanti dia ada janji makan malam dengan klien." "Malam?" Alis Una bertaut, jarinya yang menari lincah di atas keyboard kini berhenti, dia menatap Mba Raisa. "Iya. Nanti kamu ikut sama dia buat ketemu klien-nya." Hah? "Aku, Mba?" Gadis berambut sebahu ini memastikan lagi dengan mengulang kalimat Mba Raisa menjadi pertanyaan. "Ya iya dong, Say." Mba Raisa tampak terkekeh saat Una terlihat shock. "Sekretaris Pak Jeremy kan sekarang kamu, jadi pasti kamu yang harus siap sedia diajak ke mana pun untuk urusan pekerjaan." Omong-omong kenapa Jeka tidak berkata apa-apa padanya seperti menyuruh Una prepare? Apa dengan pakaiannya yang saat ini dikenakan tidak akan jadi masalah di hadapan klien? Kalau tahu akan pergi lagi kan dia bisa membawa satu pakaian lagi. "Kalau ikut makan malam itu biasanya kita ngapain, Mba?" "Kamu dengarkan saja mereka ngobrol, untuk jaga-jaga bawa notes kecil dan pulpen. Kalau ada yang penting bisa dicatat," jelas Mba Raisa. "Jangan lupa nanti minta kartu nama klien-nya. Untuk dimasukkan ke dalam data pelanggan tetap di form yang sudah Mba kasih tahu tadi kalau seandainya dia ada deal dengan Pak Jeremy," jelas Mba Raisa yang membuat Una mengangguk dan mengingat pesannya. Jam setengah lima sore, Jeka kembali ke kantor. Lelaki itu membawa paper bag yang bertuliskan salah satu toko pakaian ternama dan langsung masuk ke dalam tanpa melirik ke arah meja sekretaris sama sekali. Kalau sedang serius begitu, dia kelihatan jauh lebih baik. Saat telpon kantor berdering, Una langsung mengangkatnya. Belum sempat bersuara, terdengar perintah dari laki-laki menyebalkan bernama Jeka itu. "Bu Raisa, ke ruangan saya sekarang. Terima kasih." Setelahnya, sambungan terputus tanpa ada kata apa-apalagi. "Mba dipanggil Pak Jeremy ke ruangan," kata Una setelah menutup telpon. Mba Raisa yang tengah membereskan arsip kini menoleh dan mengangguk. "Oke,” sahutnya. Dia memasukkan arsip yang sudah rapi ke loker paling bawah, kemudian bergegas menghampiri Pak Bos. Setelah Mba Raisa keluar, seperti biasa ternyata Jeka memperbolehkan dia untuk pulang karena kebetulan kerjaan Mba Raisa juga sudah selesai. Sementara Una tetap di sini untuk jadi badut Jeka. Hah, lucu. Setelah Mba Raisa pergi, lagi-lagi dering telpon kantor berbunyi. Una mengangkat panggilan itu dan mendengar suara Jeka untuk kedua kali. "Kamu sedang apa di luar?" "Mengerjakan pekerjaan saya, Pak." "Apa?" "Eh, maaf, Mister." Una memukul pelan mulutnya yang salah menyebut panggilan depan Jeka. Lidahnya masih belum terbiasa menyebut si menyebalkan dengan panggilan seperti itu. "Masih lama?" "Sebentar lagi, saya mau kirim dokumen ke email, Mister." "Baik, waktumu lima menit, saya tunggu." Una buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan menghampiri Jeka yang sudah menunggu di dalam. Saat dia sudah menemukan Jeka yang tengah duduk di sofa sembari menyeruput teh hangatnya, Una langsung melepas heels dan melakukan squat jump tanpa diperintah sebanyak lima kali. Jeka mendadak tersedak melihat kelakuan sang mantan, dia sampai terbatuk karena kaget. "Bagus, saya suka melihat kamu inisiatif seperti itu," ucap Jeka yang menarik satu sudut bibir ke atas ketika Una selesai melakukan hukuman atas rules yang sudah ditetapkan. Dalam hati dia menahan diri untuk tidak terbahak sekarang juga. "Terima kasih, Mister." Kini, Una mengenakan heels-nya lagi. "Kemari, ada yang mau saya bicarakan dengan kamu." Una menurut dan duduk di sebelah Jeka, namun masih menjaga jarak dengan laki-laki itu. "Ada apa?" "Kamu sudah tahu jadwal saya nanti malam?" "Sudah, Mister. Tadi saya tanya Bu Raisa." Jeka mengangguk dan kembali menatap Una sebentar, kemudian bersuara, "Good, kita langsung saja ke sana." "Tapi saya harus ganti pakaian dan siap-siap di rumah, Mister." "Tidak akan cukup waktunya, Na. Jam tujuh kita harus ada di sana." Jeka melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri, menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit. "Kamu bersihkan diri dan bersiap-siap di sini saja." "Maksud Mister?" "Saya sudah menyuruh office girl untuk membelinya tadi," ucap Jeka, mengedikkan dagu untuk menunjukkan tempat di mana paper bag yang tadi dia bawa berada. "Di sana ada semua keperluanmu, jangan khawatir. Dia punya selera berpakaian yang baik walau hanya bekerja sebagai office girl," jelas Jeka. "Nanti kamu lihat sendiri saja. Saya tidak memeriksanya lagi. Kalau ada sesuatu yang kurang, panggil saya saja di luar. Biar saya menyuruhnya membelikan sesuatu yang kamu butuhkan." "Baik, terima kasih, Mister." Pukul setengah tujuh kurang, Una sudah rapi dan bersiap untuk pergi. Dia tidak mengenakan dress formal, lebih ke tipe-tipe pakaian santai. Celana bahan hitam tanggung—tinggi celana sejengkal di atas mata kaki, kemeja berwarna mocca yang dimasukkan ke dalam, dan sepatu berwarna sama dengan kemeja. Untuk apa Jeka repot-repot membelikannya seperti ini? Apa dia tidak merasa rugi membelanjakan banyak uang untuk sekretarisnya yang baru bekerja dua hari? "Pakaian kotormu tidak perlu dibawa, Aruna. Taruh saja di lemari kerjamu. Jangan lupa dikunci," ucap Jeka yang membuat Una mengangguk. Perempuan yang sudah lebih fresh setelah mandi dan mengenakan make-up, kini berjalan keluar dari ruangan Jeka dan menaruh paperbag berisi pakaian kotornya di sana. Mereka berdua berjalan ke parkiran tetapi Una tidak menemukan mobil yang terparkir satu pun di sana. Hanya ada sebuah motor keluaran terbaru dengan harga yang lumayan mahal karena adik laki-lakinya pernah membahas mengenai merk motor tersebut. Sepertinya harus bekerja bertahun-tahun dulu tanpa memakai uangnya sepeserpun agar bisa membeli motor itu. "Kita naik apa ke sana, Mister?" "Motor," jawab Jeka singkat yang berjalan di sampingnya. "Motor? Serius?" "Ya, kenapa? Kamu tidak suka kalau kita pergi pakai motor?" tanyanya sembari menatap Una yang dibalas gelengan gadis itu dengan cepat. "Bukan begitu, Mister." "Lalu?" Una diam, tidak menjawab apa-apa lagi. Lelaki itu mengambil satu helm yang ada di motornya kemudian menyerahkan pada sang mantan. “Mau saya bantu pakai atau kamu bisa sendiri?” Una menerima helm itu sambil menyahut, “Bisa sendiri, Mister.” “Baik.” Setelah memakai helmnya juga, Jeka naik ke atas motor lebih dulu, kemudian disusul dengan Una. Gadis itu seketika jadi ingat kejadian tujuh tahun lalu, di mana dia dibonceng Jeka untuk pertama kali. Una kira, itu juga akan jadi kali terakhirnya. Namun malam ini, dugaannya terpatahkan karena dia seperti merasa dejavu. "Kamu kebagian tempat duduk, kan?" tanya Jeka, mengingatkan Una pada kata-katanya yang dulu pernah dia lontarkan pada lelaki itu. Ternyata Jeka masih ingat. "Ya," lirih Una sambil menatap ke arah spion yang posisinya dibetulkan oleh Jeka. "Kamu jangan khawatir, Una. Saya sudah tidak lagi bau seperti dulu. Jadi saya tidak akan membuatmu mual di sepanjang perjalanan." Sepertinya, Tuhan sengaja menghadirkan Jeka lagi dalam hidup Una untuk mengingatkan dosa-dosa dan kesalahan Una di masa lalu pada laki-laki itu. *** Jakarta 2013 "Ini gimana gue mau dibonceng, ya? Nih motor satu aja cuma muat sama lo doang, gendutttt!" kesal Una yang marah-marah pada Jeka karena motor matic-nya terlihat hanya menyisakan sedikit space. Sebenarnya Una bukan marah dengan itu, dia hanya cari alasan karena tidak mau dibonceng Jeka. Namun, Jeka memaksa agar bisa mengantar pulang sang pacar. "Bisa kok, Na, aku majuan, nih," kata Jeka yang sekarang menggeser badan gempalnya hingga menyisakan ruang yang lebih besar dari yang tadi. Meskipun duduknya jadi kurang nyaman karena terlalu ke depan. "Makanya, punya badan tuh jangan gendut-gendut, boros tau gak!" bentak Una yang sekarang naik ke atas motor pacar—yang diterima karena kasihan—nya dengan wajah tertekuk. "Ihhh, lo udah berapa hari gak mandi, sih? Badan lo bau kambing banget." Selalu saja ada hal yang Una komentari dari Jeka. "Aku mandi kok." "Lo mending beli deodoran kek atau apa pun itu. Sumpah, terganggu banget gue! Mual, mau muntah kalau deket-deket lo." "Maaf, ya. Besok aku beli deodoran sama pakai parfum banyak biar kamu gak kebauan lagi," ucap laki-laki bertubuh besar dan memakai kacamata minusnya. "Duhhh banyak omong dehhh, cepetan jalan … gak betah gue lama-lama sama lo!" Jeka mengangguk dan mengendarai motornya menjauh dari area sekolah yang sudah sepi karena orang-orang sudah pulang sejak tadi. Una malu menerima Jeka jadi pacar dia, makanya perempuan itu baru mau diantar pulang saat teman-temannya sudah pulang lebih dulu. Una ingat, saat itu adalah hari pertama mereka berpacaran. Tanpa ada yang tahu. Hanya mereka saja. Sesampainya di rumah, Una langsung turun dari motor Jeka sembari menutup hidungnya. Sejak tadi Jeka tahu Una menghela napas terus-menerus, tetapi tidak ada yang bisa lelaki itu lakukan selain menyalahkan diri sendiri. "Na, besok aku jemput lagi, ya? Kamu jam berapa biasa berangkat sekolah?" Meski begitu, Jeka masih berharap Una mau diantar-jemput olehnya seperti kebanyakan pasangan remaja lain. "GAK! Gue gak mau dijemput atau dianter lo lagi, ngerti?" tegas perempuan yang memakai pakaian sekolahnya sambil berkacak pinggang. "Karena badan aku bau, Na?" "Ya." Jeka tersenyum tipis, kemudian mengangguk. "Kalau badan aku udah gak bau, kamu mau aku bonceng lagi?" "Mungkin." Una mengedikkan bahu, menjawab asal. Una pastikan itu tidak akan mungkin terjadi, dia tidak akan mau lagi satu motor dengan Jeka. "Udah ah, sana lo pulang! Ngapain sih lama-lama di sini? Gak akan gue tawarin masuk juga!” "Oke." Jeka lagi-lagi tersenyum, hanya itu respons yang bisa dia tunjukan di hadapan perempuan yang dia sukai. "Aku pulang dulu, Na. Sampai ketemu besok. Aku sayang kamu." Mendengar itu, Una bergidik geli dan memukul helm yang dikenakan Jeka sebelum akhirnya lari membuka pagar rumah dan masuk ke dalam. Huh, kalau bukan karena kasihan, Una gak mau nerima cowok itu jadi pacarnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD