Una dan Jeka tiba di salah satu restoran yang ternyata tidak terlalu jauh dari kantor. Sekitar lima belas menit perjalanan. Perempuan bertubuh pendek dari Jeka ini turun dari motor dan melepas kaitan helm. Una merapikan helaian rambut sebahunya yang agak berantakan. Jeka sendiri turun dari motor setelah melepas helm yang dikenakan dan menaruhnya di salah satu spion. Dia sempat mengacak rambutnya yang mulai panjang, kemudian menyuruh Una untuk mengikuti dirinya ke dalam.
Saat mereka ada di pintu masuk, Jeka refleks merangkul pinggang sang mantan ketika ada beberapa anak kecil yang berebutan ingin keluar dan hampir menyenggol tubuh gadis itu. Di dalam sana, wanita paruh baya yang Jeka yakin adalah mama dari anak-anak itu, memarahi mereka agar tidak bersikap seenaknya. Dia sempat minta maaf pada Una dan Jeka, yang dibalas senyuman keduanya.
"Kamu tidak apa-apa, Na?" tanya Jeka.
"Tidak, Mister," jawab Una penuh kecanggungan karena tangan Jeka masih berada di pinggangnya. Entah kenapa, dia merasa nyaman dan aman secara bersamaan.
"Tidak perlu panggil saya begitu. Kita sudah di luar jam kerja."
"Lalu panggil apa? Mm, panggil Pak?"
"Ya, itu saja." Jeka mengangguk setuju.
Mereka berdua yang masih berjalan berdampingan—dengan tangan Jeka yang merangkul pinggangnya—melangkah menuju salah satu meja yang ada di sana. Jeka tersenyum saat melihat seorang laki-laki yang memakai kacamata berdiri dan mengulurkan tangan lebih dulu.
"Senang bertemu dengan kamu lagi, Jeremy," ucapnya dengan senyum lebar setelah jabatan tangan mereka terlepas. "Gadis di sebelahmu, pacarmu?" Dia sempat menatap Aruna yang dibalas senyum manis perempuan itu.
"Saya sekretaris Bapak Jeremy.” Una langsung mengulurkan tangan ke arah laki-laki itu. "Aruna Puteri Pertiwi, bisa dipanggil Una."
"Saya Erlangga, salam kenal Mba Una." Lelaki itu mengangguk. "Silakan duduk dan pesan makanan lebih dulu."
"Terima kasih," ucap Jeka dan Una yang tanpa sadar mengucapkannya bersamaan dan setelah itu saling menatap satu sama lain.
Mereka duduk bersebelahan, lalu masing-masing membuka buku menu. Una memilih untuk memesan makanan berat karena dia sangat lapar, sementara Jeka memesan salad sayur dan jus buah.
"Bapak tidak makan?" tanya Una sambil fokus membaca menu yang lain.
"Tidak, saya menghindari nasi saat sudah malam," jawabnya yang membuat Una mengangguk.
Sepertinya dia trauma jadi gemuk. Padahal Jeka lebih baik kembali seperti dulu agar dia tidak bersikap semena-mena dan menindasnya begini. Semenjak dia berubah 180 derajat, Jeka jadi tidak sadar diri.
Pembicaraan dimulai saat mereka menunggu makanan datang. Awalnya sang pemilik restoran yang bernama Erlangga ini menanyakan mengenai kondisi Papanya Jeka yang sedang sakit. Lama kelamaan mulai membahas soal hal utama. Una ikut menyimak meski lebih banyak diam. Dia bahkan sudah menyimpan beberapa hal yang sekiranya nanti perlu dia catat ke dalam notes.
"Kamu mau tambah sesuatu?" tanya Jeka saat melihat Una sudah menghabiskan makanannya. Pak Erlangga lebih dulu pamit meninggalkan mereka berdua saat sudah selesai dengan urusannya sekitar lima menit lalu. Dia menyuruh Jeka dan Una untuk tidak terburu-buru pergi dan menikmati makanan mereka.
Una sempat menatap Jeka, kemudian menggeleng. "Tidak, Pak."
"Kalau ingin tambah juga tidak apa-apa, kita makan gratis kok di sini."
"Serius?"
Mengingat harga makanannya yang lumayan terbilang mahal—dengan menu sederhana dan porsi sedikit—tentu saja Una memilih untuk makan lagi di rumah saja nanti. Jiwa pejuang pundi-pundi rupiahnya menjerit melihat harga-harga di buku menu.
Jeka mengangguk. "Pesan lagi saja kalau kamu masih lapar," ucapnya. "Saya tahu kalau porsi itu terlalu sedikit untuk kamu."
***
Jakarta 2013
"Eh, ini serius cuma segini isinya?" tanya Una saat Jeka membelikan sebuah makanan setelah Una mengirim SMS padanya. Saat itu tidak ada orang di rumah, Una sendiri malas pergi ke mana-mana karena cuaca mendung. Jadi, dia memutuskan untuk menyuruh Jeka saja karena lelaki itu pasti tidak akan menolak permintaannya.
Aruna melihat kantung plastik bening yang digunakan untuk membungkus sayur dan lauk yang dia pesan, entah kenapa ada saja yang membuat Una ingin selalu marah-marah pada Jeka.
"Iya, Na," jawab Jeka dengan polos. Lelaki itu tengah tidur siang, saat dengar bunyi SMS masuk dia langsung terbangun. Dia selalu senang kalau ada notifikasi pesan berbunyi karena itu pasti dari Aruna.
"Berapa harganya?"
"Dua puluh ribu."
"Gila. Mau aja lo dikibulin! Ini gue beli biasanya ceban." Una marah-marah untuk yang kesekian kali. Dia merogoh uang di kantung celananya dan melempar uang berwarna hijau itu ke muka Jeka. "TUH, AMBIL DUITNYA!" bentak gadis itu yang selalu jadi antagonis setiap kali melihat sang pacar. "AMBIL, GENDUT! LO GAK BUTUH? UDAH KAYA LO?"
Jeka tersenyum, kemudian membungkuk dengan sedikit susah karena tubuh gempalnya. Dia mengambil uang dua puluh ribu yang dilempar Una dan kembali menegakkan tubuh. Jeka lihat, Una menatapnya sinis dengan kedua tangan terlipat ke d**a.
"Nih, Na, uangnya aku kembaliin." Jeka kembali menyerahkan uang itu. "Aku traktir kamu hari ini."
"GAK USAH! NTAR LO GAK BISA JAJAN LAGI GARA-GARA GAK ADA DUIT."
Setelah mengatakan itu, Una langsung kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pagar dengan kencang. Meninggalkan Jeka yang terdiam di depan dengan motor matic hitamnya.
Saat itu, Una tidak tahu siapa Jeka. Yang Una tahu, Jeka adalah laki-laki gendut, jelek, bau dan jerawatan yang selalu saja mengirim surat cinta padanya setiap hari sampai Una bosan. Dia tidak tahu kalau Jeka adalah anak dari pemilik Perusahaan Indodrink yang sangat terkenal sejak lama karena Jeka memang sama sekali tidak pernah menunjukkan kalau dirinya adalah orang berada.
***
Una kembali memesan satu porsi lagi dengan menu yang sama karena dia sangat menyukainya. Saat makanan ronde kedua datang, mata perempuan itu tampak berbinar.
Suasana makan lebih banyak didominasi dengan keheningan. Sesekali, Jeka melirik ke arah gadis berambut sebahu di sampingnya. Menahan senyum yang hendak mengembang saat dia tahu kalau sekarang Una bisa berada di dekatnya lagi setelah sekian lama. Kali ini, gadis itu tidak mengeluh bau atau menghina fisik Jeka lagi, tidak seperti tujuh tahun lalu.
Saat Una tersedak dan batuk-batuk, Jeka langsung menyodorkan minum milik perempuan itu.
"Terima kasih, Pak," ucap Una sembari menepuk d**a pelan beberapa kali dengan tangan menerima gelas yang airnya tersisa setengah.
"Pelan-pelan, Aruna. Nanti kalau kamu kenapa-napa, siapa yang mau saya suruh-suruh lagi di kantor?" tanya Jeka sembari menyuap salad sayur terakhir di sendoknya.
Una ingin sekali melempar sendok di tangannya ke muka Pak Bos, tetapi diurungkan niat karena tidak ingin dianggap brutal dan membahayakan.
"Iya, Pak."
"Minum kamu sudah habis, tuh. Tidak mau tambah?" Belum saja Una selesai bicara karena tengah mengatur napas, Jeka sudah mengangkat tangannya dan menyuruh seorang pelayan mendekat. "Lemon tea-nya satu lagi," ucap Jeka singkat yang diangguki lelaki muda itu.
"Terima kasih, Pak,” kata Una yang masih berusaha bersikap sopan.
Jeka menjawab sama-sama dan tanpa sadar mengelus rambut sebahu Una sambil tersenyum hingga membuat gadis itu menatapnya tidak percaya. Mereka sempat bertatapan beberapa detik sebelum akhirnya Jeka memukul kepala karena salah tingkah.
"ADUH!"
"Maaf, ta-tadi ada nyamuk di rambut kamu," gagap Jeka berbohong yang dibalas tatapan kesal Una sambil mengusap-usap kepalanya. "Kamu tadi pakai sampo, tidak? Mungkin rambutmu bau, tuh," tuduhnya yang membuat Una melotot.
Apa? Dia ngatain rambut Una bau?Dasar laki-laki menyebalkan!
***