Pria itu menatap Shanin lurus-lurus tanpa berkedip, sepasang matanya memancarkan sorot yang dingin dan utuh. Shanin mendadak mematung. Jantungnya berdesir hebat, menghantam dadanya begitu keras hingga napasnya terasa tertahan di tenggorokan. Bravendra menyunggingkan senyum tipis, tetapi matanya memancar tanpa kehangatan sedikit pun. Pria itu menurunkan pandangannya, memperhatikan jemari Shanin yang mengepal kaku di dekat meja kerja. “Sedang apa di situ, Shanin?” tanya Bravendra dengan suara rendah dan serak khas orang baru bangun tidur, tetapi nadanya penuh penekanan yang menuntut. Shanin menarik tangannya kembali secara perlahan, memaksakan dirinya untuk melangkah mendekati tempat tidur dengan gerakan sekaku kayu. “Aku … aku cuma mau minum, Mas.” Shanin menyusun alasan tercepat yang m

