Bravendra sama sekali tidak memberikan celah bagi Shanin untuk bernapas. Sebelum runtunan kalimat ketakutan meluncur dari bibir istrinya yang bergetar, jemari kokohnya menyusup kasar ke sela-sela rambut panjang sang istri, meremas akarnya tanpa ampun, lalu menyentakkan kepala wanita itu ke belakang hingga leher jenjangnya tertekuk kaku. “Mas, sakit—!” rintih Shanin, matanya membelalak lebar diselimuti rasa cemas yang membakar. Plak! Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Shanin, menimbulkan suara desakan udara yang memecah kesunyian kamar. Kepala wanita tersebut terlempar ke samping. Sudut bibirnya yang tipis seketika pecah, menyisakan rasa asin dan anyir darah yang langsung merebak di dalam mulutnya. Sengatan panas melingkupi wajahnya, membuat penglihatannya mendadak berkuna

