LIMA

1189 Words
Kalau bukan karena ke pepet uang, aku tidak bakalan mau jadi pembantu di sini. di rumah ... tidak tahu siapa om itu,aku lupa namanya. lupa,apa di lupakan? Jawabannya tidak tahu! "Non mau masak apa untuk Den Zulfan?" aku dikagetkan sama bi Sami. "Ga tahu Bi, aku juga bingung. Lagian Bi, makanan apa yang di sukai Om itu?" di akhir kalimat aku rada berbisik, takut itu om datang tak di undang, pulang tidak di antar. Ya ampuuuun emangnya jelangkung apa! sadar Laeeee... dia itu udah nolong kamu dari kata bangkrut uang jajan "Bibi juga tidak tahu apa yang di sukai Den Zulfan Neng." kata bi Sami , geleng kepala. "Ya elah Biiiiii, terus kita mau masak apa? emmhh... kalau gitu mah terserah yang aku mau dah! bodo amat, mau dimakan mau enggak aku tidak perduli. bener tidak, Bi?" Bi Sami cuma senyum mungkin karena bahasaku. Setelah itu aku berkutat dengan kompor dan penggorengan untuk memasak nasi goreng yang di campur dengan sayuran dan udang juga di tambahkan telor ceplok di atasnya, sekarang aku tinggal mandi buat pergi sekolah. "Mau kemana kamu?" tidak tahu sejak kapan tuh orang datang, tahu-tahu sudah ada di meja makan saja. "Kamar. mandi!" kataku berlalu dari hadapannya. "Jangan lama-lama, saya tunggu di meja makan" katanya sambil melihat jam di tangannya "30 menit saya tunggu, kalau telat saya tinggal" katanya lagi. "Tinggal, tinggal kemana? bukannya saya di antar jemput sama supir ya!" "Makan bareng dan berangkat sekolah" katanya singkat banget "Tap___" "Tinggal 25 menit lagi" "APAAAAA!!!!! dasar Om tak punya hati!" aku terus saja mengomel sambil berlalu. Di kamar mandi, aku pun tidak henti-hentinya mengomel. Dengan cepat aku mandi dan memakai baju. Rambut pun akhirnya, aku biarkan terurai karena masih basah. "Ayo makan dulu!" katanya ketika aku sudah duduk di meja makan. "Kenapa__" "Berisik! Saya sedang makan!" katanya dan membuatku langsung terdiam. Galak juga ternyata! lagian kenapa aku ini, ko malah jadi bawel banget sih! Kemana julukan si gadis es kutuuuub! Ak pun ga tahu kemana tuh sifat! dalam hati sambil sedikit memberenggut. "Kamu saya antar. karena supir kamu baru masuk satu minggu lagi." "APAAAA....seminggu!!!! aku naik ojek onlen saja gitu mah. Supaya tidak merepotkan juga," kataku lesu. sebenarnya males dan merasa tak nyaman bila harus satu kotak kendaraan bersamanya. Itu membuat aku tegang. "Jangan membantah karena kamu sekarang tanggung jawab saya" aku cengo dan melotot tanggung jawab saya, apa maksudnya? apa dia ... Peletak! "AWWWW!!!" aku menggosok kening yang di sentil "Sakiiit!" kataku lirih. "Makanya, jangan mikir yang macam-macam! kamu sekarang tinggal di rumah saya, jadi secara otomatis kamu tanggung jawab saya." katanya ketika sudah ada di dalam mobil dan membawanya keluar dari garasi "Kamu pulang jam berapa?" katanya dalam perjalanan kesekolah. "Tidak tentu. Kalau tidak ada les tambahan, dan tidak ada keperluan, yaaa pastinya jam 13:30 kalau ada acara kira-kira jam 4 sore. Malahan bisa sampai magrib!" kataku bicara apa adanya. "Kamu pulang setelah magrib!" katanya sambil melotot. "Ya iyaaa, memangnya kenapa?" "Tidak, tidak apa-apa." katanya sambil memberhentikan mobil karena sudah sampai "Kalau begitu, sudah dulu ya Om, aku___" "Jangan panggil Om, Mas saja!" protesnya "Baik Maaa--sak!" "Saaav! Saya mendengarnya!" katanya sambil melihatku. Aku tertegun "SAV__" kataku melongo "Kenapa, bukannya nama kamu Laela Savita?" katanya sambil melihatku. Apa ayah yang bilang namaku sama dia? "Saya tahu dari kartu pelajar kamu ketika saya lapor ke pak RT." jelasnya sambil tersenyum. Anjiiir! senyumnya membuat hatiku meleleh kaya gula kepanasan. Mau pegang pipinyaaa. Sadar Lae! kamu tidak boleh begitu sama cowok lain. Ingat statusmu. Kamu itu istri orang yang entah di mana rimba nya suamimu. "Heeey ... malah bengong. Cepetan pergi sana! kesiangan tahu rasa nanti." Ak gelagapan karena ketahuan mengaguminya, dan aku pun ketakutan karena pelajaran pertama Pak Nonom. Guru yang paling galak nauzubilah. Kalau sampai kesiangan "Aku pergi dulu" kataku, menarik tangannya untuk salim. Terlihat dia kaget setengah mati atas kelakuanku, tapi aku tidak menghiraukannya. Bodo amat! karena ayah dan umi tidak ada, dan yang ada hanya dia jadi dialah yang aku salami. Aku berlari meninggalkannya dengan sangat cepat menuju kelas dan aaah ... untung belum masuk "Dari mana kamu! tumben kesiangan, aku denger-denger kamu pindah rumah ya?" Ya Allaaah ... punya temen atu-atunya, cerewetnyaaa minta ampun. tidak tahu apa, kalau aku masih cape karena kesiangan. "Laee ...kenapa kamu malah melamuuun?" katanya masih terus bertanya. "Aku cape! udah ada guru lagi tuh." kataku sambil duduk yang bener Naya tidak berani bicara lagi. *** Bel pulang sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Tapi aku masih diam di gerbang sekolah nunggu Mas Zulfan jemput. "Iiih ... lama banget sih! mana udah sepi lagi di sekolah" gerutuku. Tadinya mau pesan ojek onlen saja dari pada nunggu lama. Tapiiii, aku tidak tahu alamat rumah yang sekarang aku tempati sekarang. iiih ....sebel deh aku! Tiii ... Aku melihat kearah mobil yang memberi klakson dan itu ternyata mobil Mas Zulfan yang baru datang. "Maaf Sav, dijalan macet." katanya sambil membukakan pintu mobil untukku. Anjiiir! kaya ratu aku, atau bisa jadi kaya pacarnya? Hehehe ... sampai di bukain pintu mobil segala. "Jangan melamun, nanti kepala kamu bisa kejedot pintu." aku yang baru nyadar buru-buru masuk tanpa bicara. "Kita sekarang ke supermarket dulu. Belanja buat masak di rumah" katanya tanpa melihat ke arahku. Aku hanya iya ya saja, kan dia yang mau bayar kenapa aku harus nolak, iyakan! butuh waktu 15 menit sku dan Om nyampe di supermarket. Kami langsung saja belanja buat keperluan di rumah. "Ini apa?" kata Mas Zulfan ketika kamu tengah ada di kasir. "Camilan aku. Bolehkaaan!" kataku memegang tangannya dengan wajah memohon. "Boleh, boleh banget! Nanti potong dari gajih bulanan kamu saja, gampang kan!" katanya enteng. "APAAA! Ya sudah lah ..." kataku pasrah. Sekarang mending aku diam, dan tidak memperpanjang masalah, walaupun kesel. Dari pada jadi omongan, lagian itu memang punya dan untukku, jadi ya harus aku yang bayar. Ku lihat Mas Zulfan tertawa ketika melihatku pasrah dan diam tak banyak omong. "Sudah kan? Ayo kita pulang, aku sudah lapar." "Ok. Aku juga sudah lapar" kataku sambil mengekor dari belakang. Tidak tahu kenapa, aku sudah mulai merasa akrab dengan Om. Apa mungkin karena pembawaan dia yang begitu baik dan perhatian banget samaku, jadi aku merasa dia sebagai kakak yang selalu melindungi.. Tapi Laeee awas, kamu harus tetep jaga jarak sama dia. Gimana kalau kamu malah jatuh hati lagi sama dia? itu bakalan jadi ribet nantinya. Kamu harus tahu dan ingat status lo Laeee! "Hey! Sudah sampai. Apa kamu tidak mau turun?" Mas Zulfan menyadarkanku. "Eh, ada, oh iya ya. aku mau turun" aku jadi gugup karena kepergok melamun. "Cepat masuk sana dan ganti baju. Barang ini biar saya dan Bi Sami yang membawa ke dapur" Aku hanya mengangguk dan pergi ke kamar untuk ganti baju dan kembali ke dapur untuk memasak. "Mau makan apa sekarang?" tanyaku ketika berpapasan dengan Mas Zulfan yang hendak masuk kamar. "Apa aja yang penting bisa dimakan dan bersih. terutamaaa... asal kamu yang masak. Pasti aku makan." katanya sambil mengedipkan sebelah mata dan tersenyum. Aiiih ... aku sampe gigit jari karena terlihat cakep banget tuh Mas Zulfan ketika tersenyum, ditambah genit lagi! Aku boleh peluk tidak Maaas. Buseeet ni otak jadi miring gini. Sadar Lae sadaaar! Aku menepuk pipi berulang kali dan cepat pada masakan lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD