Hari ini di sekolahku banyak banget kegiatan. Inilah, itulah, sampai aku harus mengeluarkan uang lebih dari saku. Padahal sebagian uangku sudah di belikan buku. Bisa-bisa makin tipis ini mah uang jajanku. Mana untuk dapat uang itu harus menunggu seminggu lagi, ah ... masa aku harus tidak jajan, sih!
Terus di sekolah, di suruh untuk mengumpulkan uang buat sumbangan anak yatim lagi.
Bagaimana aku dapat uang tambahan, aaah! Rasanya mau sedot lemak saja! Minta ayah, tidak akan dikasih ... uang bulananku kemarin sudah ayah berikan di waktu biasanya. Jadi, tidak mungkin minta lagi.
Aku bingung sendiri! Apa yang harus aku lakukan Ya Tuhaaan! lagi susah saja ingat sama tuhan, lagi senang mah diam saja. Itulah yang sering manusia lakukan terutama aku. Hehehe ....
"Anak umi, pulang sekolah malah cemberut gituuu, mana salamnyaaa?" Kata umi yang menggodaku ketika sudah sampai rumah. Itulah umi, kadang menegur anak dengan cara tidak biasa.
"Umi, mah! assalammualaikuuuum." kata aku sedikit marah dan salim.
Umi malah tersenyum "walikumsalaaaam. Makan dulu yuk! Sekalian kita makan bareng Mas Zulfan."
"Tapi miii," aku mau menolak karena tidak biasa makan bareng orang lain.
"Sayaaang, jangan begitu, ah! Makan bareng itu bagus, ayo makan siang bareng" kata umi sambil menyuruh aku bawa sayur asem ke meja makan.
Acara makan pun berlangsung cukup khidmat alias tanpa suara sedikit pun.
"Ayah, apa Lae bisa meminta uang jajan bulan depan, di berikan sekarang?" kataku ketika selesai acara makan bersama.
Ayah tidak menjawab, beliau hanya tersenyum dan mengangguk, "kita bicara nanti, sekarang kamu Shalat dulu dan ganti baju. Kalau sudah beres temui ayah di ruang keluarga."
Saking senangnya karena ayah merespons keinginanku, aku menari-nari dan tak ingat ada orang asing tepat depanku.
"ehem!' suara dehemannya menyadarkanku dari berperilaku konyol, karena malu, aku cepat-cepat berlari ke kamar menghindar. Tidak mau terlihat wajahku yang sudah seperti kepiting rebus malah lebih merah saking malunya.
Kedua orang tuaku hanya tertawa begitu juga dengan itu om-om, yang ___ tidak tahu sampai kapan ada di rumah, dan kapan dia mau pulang atau setidaknya keluar dari rumahku ini.
30 menit berlalu, aku kembali berkumpul di ruang keluarga.
"Sudah Shalatnya?" kata umi yang ku jawab dengan anggukan. "Sini duduk di samping umi." katanya lagi sambil menepuk kursi kosong sampingnya. Aku tidak banyak bicara menunduk saja, malu dengan kelakuan tadi setelah makan.
"Ayah bagaimana? bisa kan, Lae minta uang jajan bulan depan?" kataku tidak sabar. Sebab dikejar waktu untuk uang pembayaran disekolah, yang ayah dan umi tidak tahu.
"Ya ampuuun, masalah uang saja, yang kamu selalu tidak sabaran!" ayah mendengus kesal. soalnya baru saja ayah mendudukkan p****t, sudah aku berondong pertanyaan.
“Hehehe ... maaf ayah ....” kataku malu, mana depan orang lain lagi.
Lamaaa, banget! Ayah tidak kunjung bicara dan memberi jawaban, sampai m3mbuat aku kesal sendiri.
"Ayah mau minta maaf ___ “
DAM!
Pupus sudah harapan, untuk dapat uang jajan bulan depan. Akhirnya aku harus melarat karena di sekolah, aku harus berpuasa alias tidak bisa jajan. Hiks ...hiks ... hiks ....
"Tapi ayah punya solusi, untuk kamu sayang. Yaaa, itu pun kalau kamu mau dan setuju juga mau.” kata ayah sambil menatapku.
Akhirnyaaa, ada jalan juga. Ternyata Tuhan masih sayang aku, buktinya aku masih bisa jajan di sekolah.
"Apa ayah? Aku mau, asal ... gajihnya sebanding, saja." Tidak tahu kenapa, ayah tidak langsung menjawab malah melihat pada si om-om. Aku merasa akan ada sesuatu yang membuat hati ini hancur.
"Mas Zulfan akan pindah rumah, dan dia membutuhkan orang untuk masak. Jadiii, sebelum ayah mencari orang lain, apa kamu mau, Sayang?"
APA! aku harus jadi pembantu di rumah om ini! TIDAAAk!” ingin sekali aku berteriak, tapi di tolak, butuh uang. Hah .... membuang napas kasar. Ingat Lae, kamu itu sedang butuh uang! Ucap hati kecilku.
Kutatap Ayah, “ayah rela, kalau aku harus jadi pembantu di rumah orang lain?”
"Kamu jangan takut, karena di rumah itu, juga ada pembantu lainya yang bersih-bersih rumah. Kamu hanya harus membuatkan saya sarapan dan makan malam. Siangnya saya tidak akan pulang, jadi kamu tidak usah membuat makan siang, kecuali untuk sendiri.”
Ya Tuhan, ... suaranya si om, bikin hatiku meleleh. Padahal ini suara yang kedua kalinya aku mendengar, ini benar-benar buat aku meleleh dan aku baru sadar sekarang, hidungnya tinggi banget, aku jadi mau tarik hidung mancungnya.
Boleh tidak om? Ini dalam hati yaaa, hehehe ....
“Awh ...!”aku baru sadar setelah umi mencubit lengan. "Oh iya, tapi aku kan sekolah, masa harus ke sana pagi-pagi cuma buat bikin sarapan" aku memasang tampang es sama tuh om-om, supaya di bilang jual mahal dikit, mungkin saja gajihnya di tambah lagi.
"Kamu kan bisa tinggal di sana Lae, masalah sekolah, kamu pasti di antar jemput sama sopir, Mas Zulfan." kata ayah menatapku, tidak tahu kenapa, kesannya seperti maksa aku harus mau begitu.
Dan apa, tadi! Aku akan tinggal di sana? demi apa orang tuaku membiarkan, anak gadisnya tinggal sama om-om dalam satu atap tanpa pengawasan mereka berdua. Ya ampun Ayaaah, kamu mau jual aku!”
Bagaimana kalau sampai dia, AAA ... aku tidak mau melantur ke mana-mana dan terlalu jauh berpikir.
"Bagaimana Lae, lumayan loh, gajihnya, 1,5jt. Kamu bisa beli apa saja, yang kamu mau.” kata ayah kembali memerintahkan aku supaya mau.
Aku menatap tidak percaya dengan gaji yang akan di dapatkan. Pasalnya, gila, ya! gajinya lumayan gede banget! aku sebulan cuma di kasih gopek buat jajan disekolah doang. Ginimah tiga kali lipatnya!
"Bagaimana, Sayang, kalau kamu tidak mau, ayah mau mencari orang lain karena Mas Zulfan besok pagi harus mulai pindah ke rumahnya. Jadi, kalau kamu mau langsung di bawa olehnya saat ini juga."
"Apa tidak bisa di undur seminggu lagi, buat aku berpikir?" kataku sambil memberanikan diri melihat om itu.
"Maaf, saya sudah terlalu lama di sini. Pekerjaan saya tidak bisa saya tinggalkan lagi. Jadi saya minta keputusan kamu sekarang."
Aku diam, tidak bisa bicara. Jujur aku pusing harus gimana, tidak di ambil aku butuh uang, kalau di ambil, aku harus tinggal sama om-om ini.
"Sayang bagaimana, apa sudah punya keputusan?" kata umi sambil mengusap tangan aku sayang.
"Emmm ... tapi bagaimana kalu aku mau main, makan, dan aktivitas lainnya?" Apa ada larangan?”
"Kamu jangan takut, kamu bukannya akan saya penjarakan, ko. Jadi kamu bebas, mau bagaimana juga. anggap saja rumah sendiri."
"Tuh, sl udah di jawab sama Mas Zulfan" aku cuma bisa diam dengan apa yang terjadi
"Emmm ... kalau begitu, Lae mau!" Ucapku dengan sedikit sedih entak kenapa.
"Kamu tidak mau menolak olak, atau ada yang ingin kamu katakan atau juga inginkan begitu.
"Yaaa ... tidak ada. Aku siap!" kata aku sangat mantap sekarang.
"Kalau begitu, ok! tapi ingat, kalau kamu memutuskan ingin keluar, di tengah jalan, saya tidak bisa mengeluarkan kamu." katanya dengan nada dingin yang membuat aku takut juga
"Oooh, ok ... ok... aku tidak akan begitu." kata aku dengan mantap. Padahal dalam hati, aku getar getir juga takut kenapa-apa.
"Baiklah! dan ini uang muka untuk bulan sekarang." om itu menyimpan uang sebanyak 1,5jt sesuai dengan gajih aku satu bulan.
Aku senang banget dan langsung menyambar uang yang ada di meja. Asyiiilk aku bisa bayar uang sekolah, malahan bisa beli buku yang aga banyak.
Aku tersenyum senang. Sambil memperlihatkan uang yang baru aku dapatkan dari bekerja pada umi dan ayah.
"Sekarang kamu rapikan baju yang akan kamu bawa besok. karena besok pagi-pagi sekali, kamu akan berangkat sama saya. dan saya paling tidak suka dengan kata terlambat.” Katanya dengan perkataan tegas.
Aku hanya menganggukkan dan pergi sambil membawa bungkusan uang tadi.
***