Shereen mengintip ke dalam ruang kelas 11-IPA-1, mencari keberadaan Arka. Namun yang dilihatnya justru bisa membuat mulutnya terjun bebas ke lantai. Matanya melihat dengan jelas, beberapa cowok tengah berpose bak putri duyung kebanjiran di Jakarta.
Si putri duyung nyasar itu memakai ** dan sarung demi mempercantik dirinya. Kakinya dijulurkan dengan tangan yang memegang rambut dengan posisi seksi. Satu orang memotret sambil tertawa terbahak.
Seketika Shereen sadar, orang yang memotret itu adalah Arka.
“Arka?”
Suara Shereen yang bergema mencapai sudut ruang kelas membuat tawaan mereka terhenti. Shereen tidak menyangka bahwa dia akan melihat kelakuan teman-teman Arka yang konyol. Arka memang pernah menceritakan bahwa sahabat-sahabatnya di sekolah adalah orang-orang yang suka melakukan hal-hal gila.
Tapi, kan, nggak kayak gini juga, gerutu Shereen dalam hati.
“ARKA! Lo bilang di luar udah nggak ada siapa-siapa?!”
“Tadi gue liat udah sepi, Nyet.”
“Itu suara siapa? Setan?!”
“Gak tau lah gue.”
“g****k lo! Nurunin pamor gue aja!”
Shereen terkikik geli mendengar percakapan mereka. Gadis itu tidak menampakkan wajah saat memanggil Arka tadi. Dia hanya berdiri diam di balik pintu kelas yang tertutup rapat, menunggu Arka keluar ruangan.
Beberapa saat setelah terdengar makian serta u*****n dan barang-barang yang dibereskan secara terburu-buru, seorang cowok dengan rambut berantakan keluar dari ruangan. Matanya dan Shereen bersitatap.
Saat itu juga, Shereen tersenyum. “Arka-nya ada?”
“Oh—iya, ada kok dianya,” beberapa saat setelah berkedip, dia teriak. “ARKA! CEWEK LO NIH!”
Tak lama kemudian tiga orang cowok keluar dari kelas, berjalan beriringan dan menyapa Shereen singkat sebelum melengos pergi. Empat cowok itu saling bercanda, sesekali menonjok bahu dan tertawa.
Shereen senang melihat Arka memiliki sahabat yang baik.
Ketika menoleh, ia mendapati Arka tengah menutup pintu kelas dari luar dan berjalan mendahuluinya. Shereen mengerutkan kening, berlari kecil menghampiri Arka dan menarik seragamnya, meminta cowok itu untuk berhenti.
“Sayang, tungguin, sih,” gumam Shereen.
Arka memperlambat langkah, namun tidak berkata apapun.
“Kamu kok aku telepon gak angkat, sayang? Masih marah, ya?”
“Nggak, kok,” jawab Arka tanpa susah-susah menatap pacarnya.
“Beneran, Sayang?” Shereen masih ragu.
“Iya.”
Shereen cemberut. Ia mengeratkan pegangannya pada tali tas dan berjalan menunduk. Memperhatikan kaki mereka yang melangkah bersamaan. Entah kenapa, tiap kali Arka marah atau ngambek seperti ini, Shereen tidak pernah bisa marah balik lama-lama, meskipun ia tau bahwa Arka-lah yang salah.
“Aku minta maaf ya Sayang, beberapa hari ini jutek sama kamu,” Shereen bersuara.
Dia sadar bahwa membalas sikap cuek atau ambekan tidak jelas Arka dengan sikap yang sama bukanlah hal yang tepat. Tapi selalu berakhir seperti ini. Shereen yang meminta maaf. Sampai saat ini dia tidak mengerti kenapa Arka sering kali cuek. Apa cowok itu sudah tidak sayang lagi padanya?
Memikirkan hal itu saja rasanya ingin menangis.
“Kalo udah bosen sama gue, tinggalin aja,” ungkap Arka tiba-tiba.
Jantung Shereen seperti diremas ketika mendengarnya. “Aku masih sayang sama kamu.”
Shereen terpaku, berharap Arka akan menyadari langkahnya terhenti karena ingin membicarakan hal ini secara serius. Dirinya sangat ingin tahu mengapa Arka dengan mudahnya mengatakan hal seperti itu. Tapi nyatanya, cowok itu tetap melangkah tanpa memedulikan Shereen yang sejak tadi menatapnya dengan sorot berkaca-kaca.
Air mata Shereen tumpah ruah. Dia mengusap air matanya dengan kasar sebelum berbalik arah untuk menuju gerbang sekolah. Berlawanan arah dengan Arka yang ingin menuju parkiran motor.
Tanpa disadari oleh Shereen, Arka menoleh dan mendapati pundak gadisnya bergetar. Dia menghela napas, menyadari bahwa lagi-lagi telah membuat Shereen menangis. Dengan langkah cepat, Arka menuju parkiran dan mengambil motornya.
Tiba di samping Shereen, ia menghentikan motor dan menarik lengan gadis itu agar mata mereka bersitatap.
“Ayo, naik,” ucapnya tegas.
Shereen menunduk, menggelengkan kepala dengan bibir melengkung ke bawah. Melihat Shereen yang seperti ini membuat Arka seperti orang jahat, apalagi keempat temannya ternyata masih ada di ujung persimpangan jalan.
Memperhatikan Arka yang berusaha membujuk Shereen.
“Itu si Arka bikin Shereen nangis mulu,” gerutu Zacky.
Windo berdecak. “Emang si Shereen-nya aja kali yang cengeng.”
“Arka yang egois, Nyet. Si Shereen tuh anaknya penurut banget, pengertian pula,” tambah Lito. Salah satu diantara mereka yang sejak tadi terdiam akhirnya bangkit, namun segera ditahan oleh Lito. “Jangan campurin urusan mereka, Reza.”
“Penurut sama b**o bedanya gak jauh loh,” celetuk Windo.
Reza berdecak sebal melihat tingkah Arka yang seenaknya. Ia benar-benar tidak tahan kalau melihat ada seorang gadis yang menangis. “Rasanya gue mau nonjok Arka.”
Dari ujung mata, Arka bisa melihat Reza mengepalkan tangan sebelum benar-benar kembali duduk di atas motor. Arka sadar dia akan membangkitkan kemarahan sahabat-sahabatnya jika melihat Shereen yang seperti ini.
“Ayo dong, naik,” jeda Arka. “Aku minta maaf, ya.”
“Bener? Kamu nggak akan kayak gini lagi?”
Arka mengecup puncak kepala Shereen. “Nggak akan, Sayang. Yuk, pulang.”
Senyum kembali mengembang di bibir Shereen. Dengan semangat dia langsung duduk manis di jok motor Arka. Mungkin orang lain melihatnya mudah sekali dibujuk, tapi Shereen tidak peduli. “Nanti mau jenguk Papa? Kamu belum ketemu sama dia, kan, semenjak dia dirawat di rumah sakit?” cecar Shereen.
Tak ada jawaban apapun dari bibir Arka. Shereen hanya bisa tersenyum kecut, ada rasa senang dan sedih. Senang karena akhirnya bisa pulang bersama Arka, dan sedih karena Arka belum mau mendekati orangtua Shereen.
Bodohnya, pembicaraan serius yang seharusnya mereka bicarakan terlupakan oleh Shereen. Seolah sikap Arka yang selama ini selalu cuek bukanlah masalah yang harus mereka bincangkan.
Sampai mereka tiba di rumah Shereen, Arka langsung pulang tanpa menjenguk atau menanyakan bagaimana kabar ayahnya.
•UDHS-1•
“Shereen...”
Gadis yang tengah berguling-guling di kasur itu menghentikan aktivitas malasnya dan terduduk. Mendapati Adri mengintip dari balik daun pintu. Wajahnya menyunggingkan senyum dengan alis naik-turun beraturan.
“Apaan lo, Kak? Malesin banget mukanya.”
“Ada yang nyariin tuh...”
“Hah? Siapa?”
Shereen bangkit dari kasur dan menggulung rambutnya asal-asalan. Dia berjalan ke arah cermin, menatap penampilannya yang berantakan dan memutuskan untuk mencuci muka. Adri yang kini sudah duduk di kasur hanya cengar-cengir menggoda.
“Udah punya yang baru, nih?”
“Apaan, sih?”
“Tuh, yang dateng ke rumah, siapa?”
Kening Shereen berkerut. “Siapa?”
“Lah, gue nggak tahu. Dia nyariin elo. Pake kacamata.”
Shereen mengerutkan kening. Pake kacamata? Siapa? Dia segera bergegas turun ke ruang tamu. Saat menyadari kakaknya masih berada di dalam kamarnya, Shereen berbalik arah dan menegaskan satu kalimat yang membuat Adri menggelengkan kepala.
“Gue masih sama Arka. Jadi, siapapun yang dateng, nggak ada hubungan spesial sama gue,” tegas Shereen.
Kaki Shereen segera berderap, menjauhi kamar dan mulai menuruni tangga. Ia tak yakin siapa yang datang menghampirinya, padahal sudah jam lima sore. Setelah mendapati seorang cowok tengah duduk dengan seragam SMA yang masih melekat di tubuh, Shereen terbelalak kaget.
“Fallen? Eh astaga, gue pikir siapa.”
Fallen terkekeh dan berdiri sejenak untuk duduk kembali setelah Shereen terduduk di sofa di hadapannya. Gadis itu benar-benar tidak menyangka Fallen masih mengingat rumahnya.
“Ada apaan ke sini?”
“Gue mau jenguk ayah lo,” jeda Fallen. “Gimana keadaannya?”
Seperti tersengat listrik, jantung Shereen sempat berhenti berdetak dan terasa sangat sakit. Dia ingat dengan Arka yang tidak ada keinginan untuk menjenguk ayahnya. Padahal Fallen hanya sekedar teman, tapi kenapa dia perhatian?
“Oh, kalo mau jenguk ayo aja ke kamar dia.”
Fallen mengangguk, dengan agak gugup berjalan mengikuti Shereen dari belakang. Setelah mempersilahkan Fallen untuk masuk kamar ayahnya dan membiarkan mereka berbincang, Shereen memutuskan untuk membuatkan teh.
Ibu Shereen yang bekerja membuat Shereen dan kakaknya harus bertanggung jawab penuh atas ayahnya.
“Pacar lo mana? Kok belum jenguk Papa?” tanya Adri.
Shereen menghela napas setelah memasukkan beberapa sendok gula dan air panas. “Dia lagi sibuk, Kak. Banyak tugas katanya.” Jelas, Shereen bohong.
Adri hanya bisa menaikkan sebelah alis. “Gue pernah SMA, dan tugasnya nggak mampu bikin lo tenggelam atau nggak bisa gerak.”
“Yaudah, terserah.”
“Lo tuh, kalo di kasih tau nurut, dong.”
Shereen memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Adri. Sudah bukan rahasia lagi jika kakak dan orangtuanya tidak terlalu menyukai Arka. Dia yakin akan ucapan Arka tentang ‘kita yang jalanin, bukan mereka’ dan ‘suatu saat nanti mereka akan restuin kita’.
Tapi sampai sekarang, setelah menjalani hubungan dari kelas delapan sampai kenaikan kelas sebelas ini, keduanya masih belum disukai oleh keluarga pacar masing-masing.
Tapi demi Arka, Shereen akan bertahan.
Dia yakin cinta bisa mengalahkan apapun di dunia ini.