04 : Mengenal Harish Mayza

1245 Words
“Gue capek,” ungkap Shereen. Tama melirik sebentar lalu melengos. “Istirahat kalo gitu.” “Kalo istirahat artinya gue harus berhenti.” “Yaudah lakuin aja,” sahut Tama cuek. “Kalo gue lakuin, pasti nyesek dan gue nggak yakin bisa lupain dia.” “Lo ngomongin si Arka?” Tiba-tiba Tama jadi emosi. Shereen memandang Tama yang baru saja teralihkan dari gitar. Dia menatap Shereen penuh dengan kerutan dalam di dahi. Naura masih asik makan mie ayam, sedangkan Kayla sendiri heboh membersihkan seragamnya yang baru saja terkena tumpahan saus. “Gue bosen denger keluhan lo tentang Arka.” Shereen mengedikkan bahunya sekilas, tidak peduli dengan omongan Tama. “Biarin kenapa, namanya juga orang lagi galau. Harusnya lo dengerin dan membantu dia buat cari solusi, jangan kayak gitu,” terang Naura di sela kunyahannya. “Telen dulu, Singa, baru ngomong.” “Ish, ngeselin lu, Tam.” Kayla menghela napas dengan lega setelah seragamnya bersih dari noda. Dia mendongak, menatap Naura dan Shereen bergantian. “Masalahnya adalah, Shereen nggak mau ngelepas Arka. Gue yakin kalo lo putus hidup lo pasti bahagia.” “Kayla emang pinter!” “Dari dulu gue emang pinter, Tong!” Kayla menoyor kepala Tama dengan kesal. Melihat ketiga sahabatnya yang ribut dan saling menghina satu sama lain membuat Shereen menghela napas dan bangkit dari duduk. Ketiganya mendongak, dengan kening berkerut berkata bersamaan. “Mau kemana?” “Perpus.” Gadis itu hanya ingin sendiri, tenang. Dalam keadaan seperti ini, yang perlu dilakukan adalah mencari tempat sepi. Dan perpustakaan adalah tempat pertama yang terlintas di benak Shereen. Percuma jika dia mencoba bertanya dan meminta solusi dari orang-orang terdekatnya. Karena jawaban mereka hanya satu; putus dengan Arka. Jadi, mana yang harus diutamakan? Perasaannya, atau ketidaksukaan orang-orang terhadap hubungannya? •UDHS-1• Shereen berjongkok. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, memperhatikan deretan buku yang sebenarnya tidak ingin dibaca. Gadis itu hanya ingin mengambil satu buku untuk menutupi wajah atau sekedar ia buka lembarannya dengan asal. Ketika ia menemukan satu buku tebal, tanpa pikir panjang buku itu langsung ia tarik asal tanpa menyangka tubuhnya akan menabrak seseorang yang sedang berjalan di belakangnya. Punggung Shereen bertabrakan dengan kaki jenjang seorang cowok, yang langsung membuat gadis itu meringis kesakitan. Ketika mendongak, Shereen terkesiap kaget karena cowok itu ternyata Harish. “Eh, hai, Harish,” sapa Shereen canggung, “sorry, gue gak liat kalo ada orang di belakang gue...” Harish mengangguk samar, ia mengangkat Shereen hingga gadis itu kembali berdiri tegap. Meski mata mereka hanya bersitatap selama satu detik, namun mampu membuat Shereen salah tingkah. Harish, bukan cowok populer macam Tama. Dia cowok pendiam yang ternyata suka melakukan tindakan kriminal; Pemberi Harapan Palsu. Hanya itu yang Shereen ketahui tentang Harish. •UDHS-1• “Gue punya temen,” sahut Tama. “Hmm,” jawab Shereen sekenanya. “Anaknya pendiem,” sambung Naura. Shereen mulai menghela napas panjang. “Iya...” “Kayaknya dia cocok sama lo, deh,” Kayla bahkan ikut mempromosikan cowok ini. Sehebat apa sih, orang yang diomongin sama mereka? Shereen akhirnya mengangkat wajah, memperhatikan mereka yang menatapnya serius. “Pendiem ketemu pendiem? Mati aja mending,” celetuk Shereen tak peduli. “Lo pendiem dari mana?!” pekik Naura tak percaya. “Naura! Sadar diri, sadar!” Kayla mengguncang tubuh Naura yang kini tergeletak mengenaskan, menggelepar seperti ikan kekurangan air. Setelah mulutnya disumpal coklat, gadis itu terduduk. “Lebay lo!” Tama menempeleng Naura dengan keras. Membuat gadis itu cemberut, tapi sedetik kemudian dia kembali mengunyah. Ketiga pasang mata itu terfokus lagi pada Shereen. “Harish.” Saat itu juga, Shereen menghentikan pergerakannya. Pulpen di genggaman Shereen terjatuh, kaget karena satu kata yang terlontar dari mulut ketiganya. “Siapa kalian bilang?” “Harish Mayza. Masa lo gak kenal? Temen sekelasnya Tama.” Ibu jari Kayla menunjuk Tama yang kini sudah berpose ganteng. Kerah bajunya ia benarkan dengan gaya sok keren. Dengan senyum menggoda, Tama berbisik, “Gimana? Mau nggak sama Harish?” “Ogah! Ntar gue kena PHP kayak yang lain, gimana?!” Tama menghela napas dengan berat. “Dia bilang sekarang lagi nyari cewek.” “Terus? Lo mau ngorbanin gue? Kejam banget, Tam. Gue sahabat lo, bukan salah satu dari mantan-mantan lo.” “Kok jadi mantan, sih? Gak nyambung banget,” Tama menyentil kening Shereen. “Sakit, tau!” Naura dan Kayla hanya terkikik geli melihat kening Shereen yang memerah. Tama sendiri sibuk memainkan ponselnya, dan Shereen juga mengecek ponsel karena ada pesan dari Arka. “Pokoknya nanti malem lo harus chat sama Harish,” ujar Tama. “Gue masih punya Arka, dan kalopun single, gue nggak mau kenal sama Harish.” “Kenapa? Lo takut jatuh cinta?” Shereen memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Tama. Dia memilih untuk bangkit dan berjalan keluar kelas, bersama dengan Kayla dan Naura yang mengikutinya dari belakang. Tama sendiri hanya bisa menghela napas secara berlebihan. •UDHS-1• Shereen menimang ponselnya berulang kali, memperhatikan chat antara dirinya dan Arka. Arka: lagi apa? Shereen: lagi nonton aja nih Sayang, kamu lagi apa? Arka: lagi makan. Shereen: makan apa, Sayang? Makannya pelan-pelan ya, awas nanti keselek :* Arka: nasi, iya. Saat Arka membalas kata ‘nasi’, rasanya Shereen ingin sekali melempar ponsel ke dinding kamar lalu menguburnya hidup-hidup di halaman belakang rumah sambil berteriak, “Matilah kau, Arka Daffahimsa!” Tapi bodohnya, Shereen justru menjawab pesan itu dengan hati riang gembira. Shereen: namanya juga orang Indonesia, Sayang, ya pastinya makan nasi dong. Hihihi. Arka: iya. “Aaargh!” Shereen sangat kesal, akhirnya ia membanting ponsel ke bantal besarnya dan menghirup napas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya dengan keras. Beberapa saat kemudian, terdengar pesan masuk. Gadis itu melirik sebentar, namun tidak berniat untuk menyentuh ponsel. Biarkan saja Arka marah. Seingatnya, dulu Arka tidak seperti ini. Apa kalau orang pacaran sudah bertahun-tahun isi chat mereka akan semakin pendek dan membosankan? “Bodo,” sungut Shereen lalu beranjak dan turun ke bawah untuk makan malam. •UDHS-1• New message from Harish Mayza. Mata Shereen mengerjap berkali-kali ketika sadar ternyata pesan masuk tiga jam yang lalu bukan berasal dari Arka, melainkan dari Harish. Hanya dari Harish. Tidak ada pesan dari Arka sama sekali. Di garis bawahi, tiga jam ini Arka tidak mencarinya. Kurang nyebelin apa coba, si Arka itu? Harish: ini Shereen, kan? Shereen: iya. Harish: hai, salam kenal ya, gue temennya Tama. Harish: tadi gue disuruh invite BBM elo sama dia. “Tamaa!” Shereen menggeram. Dia pikir, Tama hanya bercanda tentang hal itu. Ternyata dia benar-benar. Lagipula, apa yang dipikirkan Harish sampai-sampai dia mau kenalan gini? Tunggu, mereka kan sudah sering ketemu di sekolah. Sekedar berpapasan di lorong atau lapangan, kalau ngobrol sih, tidak pernah. Tapi, apa yang harus dibalas olehnya? Sok-sok-an kenal, atau tidak? Ah, jika Shereen terlalu ramah, pasti nanti Harish akan berpikir kalau dia cewek kecentilan. Shereen: ya, salam kenal juga, Harish. Tidak ada balasan lagi dari Harish. Hanya kotak biru bertuliskan D yang menandakan bahwa pesan Shereen telah terkirim. Tangan gadis itu terjulur ke atas seakan bisa menggapai langit-langit kamarnya. Dia... kangen Arka. Kapan terakhir kali cowok itu menelponnya? Ketika matanya melirik jam digital di ponsel, ternyata sudah menunjukkan jam sebelas malam. Harish mungkin sudah tidur, buktinya pesan Shereen tidak dibalas. Ah, kenapa tiba-tiba ia memikirkan Harish? Shereen menggelengkan kepala, menyadarkan diri kalau dia masih memiliki hubungan dengan Arka. Shereen: Sayang, udah tidur, ya? Suara detak jam dinding bergema di setiap sudut kamar Shereen. Gadis itu menghela napas, menutup matanya dengan perlahan. Sesekali mengecek ponsel dan berulang kali kecewa karena tidak ada balasan dari Arka. Apa dia main game lagi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD