Bab 1, Membatalkan Pernikahan
Merry bersembunyi di balik tembok dengan gaun pengantin berwarna putih, ia menahan tangis saat tahu bahwa calon suaminya pergi begitu saja saat dirinya sedang mencoba gaun di sebuah distro yang cukup terkenal.
Merry mencari-cari calon suaminya yang ternyata masuk ke sebuah hotel yang tidak jauh dari distro tempat Merry mencoba gaun pengantin, Merry pun mengikuti calon suaminya yang ternyata sedang mengetuk salah satu pintu hotel, dan disambut oleh seorang wanita yang memakai dress berwarna merah.
'Intan, itu Intan kan?' batin Merry yang masih merayap agar tidak ketahuan bahwa ia mengikuti Brayen.
"Sayang, kenapa kamu lama banget si, aku tuh kangen sama kamu," rengek Intan yang langsung melingkarkan tangannya di leher Brayen.
"Maaf ya sayang, jangan dibahas lagi, aku datang ke sini untuk kamu." jawab Brayen yang tak mau menjawab alasannya terlambat datang.
Deg
Bak tersambar petir, Merry menangis sejadi-jadinya di ujung kamar hotel yang saat ini dimasuki oleh Brayen dan wanita itu, wanita yang dikenal oleh Merry sebagai teman baiknya.
'Jahat kalian! Ternyata di belakangku kalian bermain api!' batin Merry memaki calon suami dan temannya.
Merry menyeka air matanya, gaun putih yang cukup panjang itu sebenarnya menyulitkan dia berjalan, tetapi Merry tetap menghampiri daun pintu dan meletakkan salah satu telinganya di pintu itu.
Suara desahan terdengar jelas dari Intan, teman sekaligus sahabat yang selama ini dekat dengan Merry, ternyata begitu menikmati sentuhan dari Brayen, calon suami Merry yang akan segera di gelar besok pagi.
Tiba-tiba ada seorang pramusaji datang dengan seragam serba hitam, pramusaji itu tiba-tiba mengejutkan Merry yang saat ini sedang fokus mendengarkan suara Intan.
"Maaf, ada apa Anda melakukan hal seperti itu di pintu seorang tamu?" tanyanya yang merasa heran.
Merry terkejut, seketika ia gemetar mendengar sebuah pertanyaan yang tertuju padanya, air mata yang membasahi wajahnya tentu saja membuat petugas pengantar makanan itu merasa kasihan.
"Anda sedang mencari siapa? Kenapa Anda menangis di depan pintu ini?" tanyanya lagi, karena penasaran.
"Sssst, tolong kecilkan suara Anda." jawab Merry meletakkan telunjuknya di tengah bibirnya.
Merry memperhatikan pramusaji itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, hingga membuatnya merasa aneh dengan pandangan itu.
"Bolehkah kita bertukar posisi?" tanya Merry, lirih.
"Ha, maksud Anda," sahutnya yang tidak mengerti.
"Saya pinjam seragam Anda, dan saya yang akan mengantarkan makanan ini ke dalam, boleh?" pinta Merry sedikit memelas.
"Itu tidak mungkin, Nona. Saya akan kehilangan pekerjaan saya kalau saya melakukan hal itu, itu pelanggaran!" jawabnya dengan tegas.
Pramusaji itu meminta Merry untuk menyingkir, ia tidak mau berurusan dengan wanita yang akan mengancam pekerjaannya itu.
"Baiklah, kalau saya tidak boleh masuk, bolehkah saya meminta bantuan satu hal pada Anda?" pinta Merry yang sangat berharap itu.
"Apa itu, Nona?"
Merry pun mengeluarkan ponselnya, dan meminta petugas itu untuk meletakkan di suatu tempat yang tersembunyi, karena Merry ingin sekali mengetahui apa saja yang akan dikatakan oleh Brayen dan Intan selama di dalam.
Petugas itu setuju dan segera masuk, setelah ia mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh Brayen.
Ia berjalan perlahan dan berusaha untuk meletakkan ponsel itu di meja yang tertutupi oleh vas bunga kecil tanpa disadari oleh Brayen dan Intan yang sedang bercengkrama.
"Mas, kenapa kamu nggak tinggalin Merry dan menikah aja sama aku," kata Intan yang mengelus lembut d**a bidang Brayen.
"Sayang, nggak segampang itu, orang tuaku punya perjanjian pada orang tua Merry, jadi aku harus tetap menikahinya besok," sahut Brayen membalas belaian Intan.
"Tapi aku pengen juga miliki kamu, Mas." rengek Intan mengecup bibir Brayen.
Merry masih menunggu di balik pintu yang tertutup, ia menggenggam kedua tangannya, berusaha menguatkan dirinya sendiri yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Tak lama kemudian pramusaji itu berjalan menuju pintu keluar setelah menyelesaikan tugasnya.
"Tunggu!"
Tiba-tiba Brayen memanggil pramusaji itu dan memintanya untuk menunggu, Brayen bergegas meninggalkan Intan di atas ranjang dan membuka isi dompetnya, Brayen mengambil uang seratus ribu untuk ia berikan pada wanita yang telah mengantarkan makanan untuk dirinya dan Intan.
Sementara pramusaji itu sendiri menghadap Brayen dengan berusaha menghilangkan rasa takutnya, karena ia sudah membantu Merry meninggalkan ponsel tanpa disadari oleh penghuninya.
"Tuan memanggil saya?" tanyanya menundukkan kepala.
"Ya, ini uang untuk kamu, terima kasih sudah mengantarkan makanan tepat waktu," kata Brayen menyodorkan uang itu.
"Baik Tuan, terima kasih kembali." jawabnya segera menerima uang yang diberikan Brayen dan berlalu pergi.
Brayen melempar senyum dan membiarkan pramusaji itu keluar dan menutup pintunya kembali, Intan pun masih menunggu Brayen yang melihatnya dengan tatapan penuh nafsu, Intan yang sangat seksi dan cantik itu membuat Brayen tidak tahan hingga akhirnya ia segera mendekati Intan dan memulai kegiatan terlarang yang sudah mereka anggap sudah biasa itu.
Perbuatan mereka terekam abadi di ponsel Merry yang tidak mereka sadari, saat mereka sedang menikmati hubungan terlarang mereka. Sementara Merry sendiri menangis kembali di lorong yang sepi, rasanya begitu hancur hatinya saat menerima pengkhianatan dari sahabat dan calon suaminya.
Pramusaji itu mencari Merry yang ternyata berada tidak jauh dari kamar Brayen, perlahan ia mendekati Merry dan menyapanya.
"Nona, saya sudah berhasil meletakkan ponsel itu di meja," ucapnya melempar senyum, pura-pura tidak begitu peduli dengan air mata Merry.
"Terima kasih, apa saya boleh meminta bantuan sekali lagi?" tanya Merry yang masih membutuhkan wanita baik itu.
"Tentu saja, kalau saya bisa membantu saya akan berusaha membantu Anda." jawabnya dengan tulus.
Merry melempar senyum, tepat pukul satu malam Merry meminta pramusaji itu untuk masuk kembali ke kamar Brayen untuk mengambil ponselnya, dan setelah berhasil mengambil ponsel pramusaji itu kembali pada Merry.
Merry membuka vidio itu dan melihat aksi kotor yang sudah terkam abadi dalam ponselnya, Merry benar-benar jijik melihatnya dan bertekad untuk membatalkan pernikahannya.
'Aku nggak sudi punya suami menjijikkan seperti kamu, Mas. Aku nggak mau.' batin Merry mengepalkan kedua tangannya.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanyanya mengejutkan Merry.
"Saya nggak papa, terima kasih banyak, Anda sudah membantu saya sejauh ini, saya tidak akan melupakan kebaikan Anda." jawab Merry menyeka air matanya dan berlalu pergi.
Merry kembali ke rumah dengan hati yang sangat hancur, ia membuka pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam, melihat semua isi rumah yang sudah sepi dan pastinya mereka sudah tertidur nyenyak karena besok pagi adalah acara pernikahan Merry yang harus dirayakan.
Dengan kasar Merry menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang berukuran cukup besar itu, setelah mengganti pakaian pengantinnya dengan piyama.
'Gue nggak nyangka kalau acara pernikahan gue besok akan berakhir dengan kegagalan, kenapa harus lo, Intan! Kenapa?"
***
Merry berjalan menuju pelaminan, di mana semua undangan sudah berkumpul ingin menyaksikan pernikahannya dengan Brayen, Merry menelan salivanya dengan tatapan tajam ke arah Brayen yang duduk di depan Intan.
Brayen seolah menyambut kedatangan Merry dengan suka cita, ia mengulurkan salah satu tangannya untuk menyambut Merry.
"Sayang, aku nggak sabar pengen banget jadi suami sah kamu," ucap Brayen mengecup punggung tangan Merry.
"Oh ya, tapi sayangnya dengan terpaksa aku harus membatalkan pernikahan ini, Brayen." jawab Merry tanpa jeda.