Bab 2, Pergi Meninggalkan Acara

1162 Words
Bak tersambar petir di pagi hari, semua tamu undangan yang datang tentu saja terkejut dengan ucapan Merry, yang saat itu isinya adalah keluarga besar Brayen dan keluarga besar Merry, juga teman-teman yang ikut menyaksikan, mereka semua bangkit dan merasa bingung dengan ungkapan Merry. "S-sayang, apa maksud kamu bicara seperti itu?" tanya Brayen bingung dan mengerutkan keningnya. "Karena aku nggak sudi memiliki suami pengkhianat seperti kamu! Mana mungkin aku sudi menikah dengan laki-laki yang tidak tahu malu seperti kamu, yang sudah bermain api dengan wanita lain padahal kamu sadar bahwa pernikahan kita sudah di depan mata!" maki Merry yang menumpahkan isi hatinya. "Pengkhianat? Bermain api? Apa si, sayang. Apa si yang kamu bicarakan?" Brayen masih pura-pura tidak mengerti dengan ucapan Merry, sementara di saat itu Merry berusaha untuk tidak menangis, bahkan karena kecewa yang terlalu dalam ia tidak peduli dengan kedua orang tuanya yang saat ini ada di sampingnya. "Lo, lo juga pengkhianat, Intan!" maki Merry menunjuk ke arah Intan. Intan terbelalak dengan perasaan yang tidak karuan, ia melihat dengan jelas orang-orang yang ada di ruangan itu, saat Merry menunjuknya sebagai pengkhianat. "Merry apa-apaan si lo, kenapa lo ngomong gitu sama gue?" tanya Intan yang juga tidak mengakui ke pengkhianatan nya. Merry menyunggingkan senyum, kali ini ia tidak mampu menahan air matanya untuk tidak keluar karena selama ini ia sudah sangat lama bersahabat dengan Intan, tetapi ternyata Intan justru menusuknya dari belakang. Prok... Prok... Suara tepuk tangan yang dimunculkan Merry menghadirkan seorang laki-laki yang membawa laptop dengan bukti yang sudah Merry beritahukan padanya. Merry mendekati laki-laki itu dan memintanya untuk menyakalan, agar semua orang yang ada di ruangan itu menjadi saksi kebusukan kedua orang yang sangat penting dalam hidupnya itu. "Nyalakan, Pak!" titah Merry. Laki-laki itu mengangguk pelan dan memutar vidio yang berdurasi kurang lebih tiga menit itu, Intan dan Brayen saling menatap saat vidio itu mulai diputar, urat malu mereka serasa putus secara bersamaan karena perbuatannya ditonton begitu banyak orang. Brayen mendekati laki-laki itu dan segera menutup laptopnya dengan kasar, dan menatap tajam ke arah Merry. Setelah itu menatap semua isi ruangan itu karena ia merasa sangat malu. "Merry, apa-apaan ini, kenapa kamu menyalakan vidio itu di depan banyak orang!" bisik Brayen yang tidak berani bersuara keras. "Kenapa? Kamu malu, Mas. Kamu malu dengan perbuatan kamu sendiri yang sudah mengkhianati aku! Begitu cara kamu membalas perasaanku, ha?!" Merry mendorong kuat d**a bidang Brayen, sementara Intan dengan cepat menopang tubuh Brayen dari belakang, seolah-olah ia menjadi penolong bagi Brayen. Intan berdiri di samping Brayen, dengan berani Intan mengalungkan tangannya di lengan Brayen. "Kalau lo memang udah tahu semuanya, lebih baik lo mundur, Merry!" Intan menghadap Merry dengan penuh percaya diri, ia sudah tidak peduli dengan persahabatan yang sudah lama terjalin itu, sementara Merry sendiri hanya tersenyum tipis dan berjalan mendekati Intan dan juga Brayen. PLAK!! PLAK!! Sebuah tamparan mendarat bebas tepat di pipi kiri Brayen dan Intan yang meminta Merry untuk mundur, Intan menatap kesal karena tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Merry. "Kenapa lo nampar gue?" tanya Intan menatap kesal. "Seharusnya gue nggak cuma nampar lo, pengkhianat!" cetus Merry segera meraih sebuah jus yang tersedia tidak jauh darinya. Merry dengan cepat menumpahkan jus itu tepat di atas kepala Intan, hingga membuatnya basah. "Merry!" maki Intan menghentakkan salah satu kakinya karena marah. Merry semakin mendekati Intan, rasanya belum puas jika hanya itu yang ia lakukan pada seorang pengkhianat seperti Intan. Namun, saat Merry hendak mendekati Intan yang sudah sangat malu, tiba-tiba ada tangan yang menahan Merry. "Sayang, cukup sayang, jangan kamu lakukan itu," kata Aulia, mama Merry yang sejak tadi masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. "Lepasin, Ma. Merry mau memberi pelajaran untuk sahabat yang tidak tahu diri itu!" sahut Merry yang masih belum puas. PLAK!! Tiba-tiba Intan menghampiri Merry yang dihalangi oleh mama Aulia, dengan berani Intan membalas Merry dengan tamparan yang sama. Intan menatap penuh dendam saat Merry melepaskan tangannya yang dihalangi oleh mama Aulia. "Lo pikir, lo aja yang bisa nampar gue, Merry! Gue juga bisa nampar muka mulus lo itu. Asal lo tahu, gue udah menjalin hubungan lama sama Brayen jauh sebelum lo kenal sama dia, tapi karena hubungan gue nggak direstui sama orang tua Brayen, gue terpaksa mundur," ucap Intan yang saat ini sudah ada di depan Merry. "Apa! Jadi kalian berdua sudah memiliki hubungan lebih dulu?" Mama Aulia menghadap Intan, seakan ikut penasaran dengan pengakuan yang diberikan oleh Intan, dan hal itu dibenarkan oleh Intan yang sudah tidak mau lagi menutupi semuanya. "Benar Tante, saya memang sudah lama menjalin hubungan sama Brayen, tapi karena Merry yang diam-diam menyukai Brayen, itu yang membuat saya tidak terima dan ingin kembali lagi sama Brayen." jelas Intan membuka tabir rencana yang seharusnya tidak terjadi hari itu. Brayen mendekati Intan dan memintanya untuk berhenti berbicara, karena semakin banyak Intan bicara maka semua rencana yang sudah tersusun rapi itu akan terbongkar. Sementara Merry sendiri bertepuk tangan dengan pengakuan Intan yang baru saja ia sadari, ia tak menyangka bahwa empat tahun menjalin sebuah persahabatan, Intan justru menyembunyikan sebuah rahasia besar yang ternyata merusak hari pernikahannya. "Lo, pengkhianat Intan! Lo itu seharusnya nggak pernah gue pungut sebagai sahabat gue di kampus," ucap Merry yang sangat kecewa dengan Intan. "Gue nggak minta lo pungut, Merry. Gue nggak minta." jawab Intan tertawa lepas. PLAK!! Sebuah tamparan mendarat bebas di pipi Intan, mama Aulia yang ikut geram membuatnya tidak terima saat Intan mengeluarkan suara lebih keras dari Merry. "Dasar tidak tahu berterima kasih, kamu sudah Tante tolong supaya kamu bisa kuliah, tapi begini balasan kamu!" maki mama Aulia sangat kecewa. "Bukan saya tidak berterima kasih, Tante. Tapi saya hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milik saya." jawab Intan penuh percaya diri. Jawaban yang cukup mengejutkan bagi orang-orang yang ada di acara itu, mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Intan bisa mengatakan hal itu tanpa beban. Sampai akhirnya kegaduhan membuat suasana itu semakin ramai, banyak suara yang justru menyudutkan Intan yang tiba-tiba hadir sebagai orang ketiga di saat pernikahan Merry dan Brayen sudah di depan mata. "Ma, Pa, lebih baik kita pulang sekarang," ajak Merry yang sudah gerah berada di ruangan itu. "Tapi sayang, ini belum selesai! Intan sudah kurang ajar sama kamu, dia yang menjadi penyebab gagalnya pernikahan kamu dengan Brayen!" maki mama Aulia tidak terima. "Ma, tidak mungkin ada pengkhianatan di dunia ini kalau keduanya tidak sama-sama mau, sudah lah Merry ikhlas." Merry berlalu pergi tanpa memikirkan mama papanya yang masih geram dengan perbuatan Brayen terhadap anak pertamanya itu, hingga saat mereka menyadari Merry sudah berada di depan pintu utama gedung itu. "Merry, tunggu!" Mama Aulia menarik pergelangan tangan papa Danu, menghampiri Merry dan meninggalkan tamu undangan beserta calon besan yang tidak bisa berkata apa-apa itu. "Pak, ayo jalan." titah Merry saat sudah masuk ke dalam mobil. Brayen menyunggingkan senyum, saat Merry dan kedua orang tuanya pergi berlalu menggunakan mobil pribadi mereka. Tidak ada yang tahu, bahwa sebuah rencana sudah disusun oleh Brayen, yang akan menjadi cerita paling bersejarah dalam hidup Merry dan kedua orang tuanya setelah mereka memilih pergi dari gedung itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD