Bab 3, Tragedi Berdarah

1091 Words
"Ma, Pa, sekarang Merry mau kuliah di luar negeri, Merry udah nggak mau memikirkan untuk menikah, Merry kecewa dengan rayu laki-laki," ucap Merry yang tidak mampu membendung air matanya saat berada di mobil. "Mama akan turuti ke mana kamu mau, sayang. Mama nggak akan melarangnya sekarang," sahut mama Aulia sangat merasa bersalah. "Sakit dikhianati oleh kekasih nggak terlalu sakit, Ma. Tapi Merry sangat kecewa saat tahu kalau ternyata Intan yang mengkhianati Merry." Merry kembali menangis saat mengingat pengkhianatan yang dibuat oleh Intan terhadapnya, di hari pernikahan ia harus meninggalkan gedung pernikahan yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Sementara Brayen dan Intan tanpa malu justru saling berpelukan pinggang di saat semua tamu berhamburan keluar, seolah gedung dan separuh tamu itu merasakan kekecewaan yang dibawa pergi oleh Merry dan keluarga. "Mas, kamu udah persiapkan semuanya, kan?" tanya Intan melirik Brayen. "Tentu saja, Merry dan kedua orang tuanya sebentar lagi akan dikabarkan masuk ke rumah sakit." bisik Brayen merasa sangat menang. Brayen seolah tutup mata dengan kedua orang tuanya yang saat ini tidak ia pandang sama sekali, mereka mendekati Brayen yang justru sedang membicarakan sesuatu pada Intan. Brayen... PLAK!! Suara panggilan berbarengan dengan tamparan yang mendarat bebas di pipi Brayen, cukup membuat Intan tersentak. Ia melepaskan pelukannya yang sejak tadi menggelantung di pinggang Brayen. "Ma, apa-apaan si, ini!" protes Brayen mengelus pipinya yang terasa panas. "Kamu yang apa-apaan, Brayen! Kenapa kamu lakukan semua ini, dan kenapa kamu permalukan Mama sama Papa kamu di sini, sekarang pasti Merry dan keluarganya benci sekali sama kita, Brayen," ucap mama Celine yang merasa sangat kecewa. "Ma, Pa, dari awal aku memang nggak cinta-cinta banget sama Merry, Brayen nggak mau nikah sama dia," sahut Brayen dengan entengnya. PLAK!! Tamparan ke dua mendarat kembali di pipi Brayen, papa Candra pun tak kalah marah dengan jawaban dan tindakan yang dilakukan oleh Brayen, rasanya mereka benar-benar ingin menghajar Brayen yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. "Gila kamu Brayen, gila! Kamu menghancurkan pernikahan kamu sendiri dengan anak dari pengusaha kaya raya, kamu nggak mandang Mama sama Papa yang saat ini sangat butuh suntikan dana untuk perusahaan kita!" maki Papa Candra, pipi putihnya berwarna kemarahan karena marah. Karena isi gedung itu sudah sangat sepi, dan hanya tinggal Intan, Brayen, dan kedua orang tuanya, membuat Brayen tidak begitu malu-malu amat saat mendapatkan tamparan dari kedua orang tuanya. Brayen pun mengajak kedua orang tuanya untuk pergi dari gedung itu, melihat apa yang akan terjadi sebentar lagi dengan mobil yang membawa Merry dan kedua orang tuanya. "Ma, Pa, ayo ikut Brayen, kita akan melihat pertunjukkan yang membuat Mama sama Papa puas," ucap Brayen melupakan sejenak rasa sakit akibat tamparan kedua orang tuanya. "Apa maksud kamu, Brayen?" tanya Mama Celine yang mengerutkan kening. "Udah Tante, Om, ikut aja, Om dan Tante nggak akan nyesel kok, kalau udah tahu nantinya." jawab Intan ikut bicara. Mama Celine dan papa Candra saling menatap penuh pertanyaan, tetapi hal itu tidak lama terjadi karena Brayen menarik pergelangan tangan papa Candra, sementara Intan menarik pergelangan tangan mama Celine. Mereka pergi menggunakan mobil Brayen, ia dengan kecepatan tinggi mengikuti mobil yang membawa Merry dan kedua orang tuanya yang mungkin saja sudah sangat jauh. Sementara Merry dan kedua orang tuanya tidak tahu, bahwa mobil yang mereka tumpangi saat ini tidak sedang baik-baik saja, Brayen sudah menyabotase mobil itu saat masih terparkir rapi di depan gedung pernikahan. "Pak, tolong lebih cepat lagi, ya!" titah Merry yang ingin segera tiba di rumah. "Baik, Non." kata pak supir dengan patuh. Tanpa pikir panjang, pak supir pun segera menancap gas lebih kencang seperti yang diminta oleh Merry, sementara di arah berlawanan ada sebuah mobil pengangkut barang yang juga sedang melintas di perjalanan yang sepi itu. Saat hendak menginjak rem, ternyata rem itu blok, pak supir yang sudah semakin dekat dengan mobil pengangkut barang itu merasa panik, mobil itupun oleh karena ia tidak mampu mengendalikan mobilnya. "Pak, ada apa ini?" tanya papa Danu yang ikut panik. "Nggak tahu, Tuan. Tiba-tiba remnya blong," sahut pak Tono yang beberapa kali menoleh ke bawah untuk memastikan bahwa ia benar-benar menginjak rem. "Awas Paaaakk!" Braaaakk Tragedi berdarah pun terjadi, kedua mobil yang saling berbenturan keras membuat semua penumpang menjadi tak berdaya, mama Aulia terpental keluar sementara papa Danu dan pak supir terjepit bagian mobil yang hancur. Ciiittt Decitan roda mobil Brayen terhenti tepat di belakang mobil milik Merry dan mobil pengangkut barang, mata mama Celine dan papa Candra terbelalak saat menyaksikan apa yang ada di depan mata mereka. "Astaga, itu mobil Merry," ucap mama Celine panik. "Benar Ma, itu memang mobil Merry, dan sekarang Mama harus telepon Ambulance," sahut Brayen menyunggingkan senyum. "Ya ya, kamu benar, Mama akan telepon Ambulance, sekarang kita lebih baik turun dan melihat keadaan di dalam." Mama Celine segera membuka pintu mobil hendak keluar, tetapi Brayen tiba-tiba mengunci semua pintu hingga membuat mama Celine tidak bisa keluar. "Brayen, apa-apaan kamu, kenapa kamu kunci pintunya?" tanya mama Celine menautkan kedua keningnya. "Ma, terlalu beresiko kalau kita sendiri di sini untuk melihat keadaan mobil Merry dan orang tuanya, paling tidak kita harus menunggu ada mobil lain yang menyadari kecelakaan itu," sahut Brayen yang tidak mau bahwa ia akan menjadi orang pertama yang dimintai keterangan. Mama Celine menelan salivanya, ia benar-benar gemetar melihat semua ini hingga akhirnya ia mengikuti apa yang perintahkan oleh Brayen, hingga akhirnya ada sebuah mobil dari arah depan dan belakang Brayen yang melintas. Hingga akhirnya menjadi banyak mobil yang berjejeran, mereka turun dan saling menolong korban yang masih ada di dalam, sampai akhirnya Ambulance yang ditelpon oleh mama Celine sudah terdengar. "Di sana sudah banyak orang, Brayen. Ayo kita keluar!" Mama Celine meminta Brayen untuk segera menyaksikan kecelakaan itu, mereka pun keluar seolah-olah ingin membantu para korban yang terlihat begitu mengenaskan. Apalagi keadaan mama Aulia yang terpental keluar, membuat mama Celine sangat histeris melihat tubuhnya yang bercucuran darah. "Ayo Pak, tolong diangkat tubuh ibu itu!" titah mama Celine gemetar dan sesekali menggigit jemarinya sendiri. Seketika jalanan itu berbau anyir, karena darah para korban yang mungkin akan sulit untuk dinyatakan selamat, beberapa Ambulance dikerahkan bersama polisi yang juga sudah memberikan garis kuning di tempat kejadian. Merry dan semua isi mobil diantar ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, dengan cepat Brayen mengajak semua nya untuk kembali masuk agar ia bisa menyusul Ambulance itu ke rumah sakit. "Sekarang kita harus ikuti Ambulance itu," ucap Brayen berputar balik arah. "Tapi untuk apa kamu ke sana, Brayen. Bukannya kamu tidak peduli dengan Merry?" tanya mama Celine yang masih belum mengerti. Brayen tidak menjawab seketika itu juga, ia memilih fokus berada di belakang mobil Ambulance hingga mobil itu memasuki sebuah rumah sakit besar di kota itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD