Bab 4, Kabar Duka
Para petugas medis berusaha menangani pasien kecelakaan itu dengan cepat, dan tak lama kemudian Brayen datang untuk melihat apa yang akan terjadi.
"Dok, tolong segera tangani para pasien ini," pinta Brayen seolah-olah ia peduli.
"Maaf, Anda siapanya korban? Apakah Anda adalah bagian dari keluarga korban?" tanya dokter itu menatap Brayen.
"Ya, kami adalah keluarga korban, tolong segera tangani mereka," sahut Brayen mengakui bahwa mereka adalah keluarganya.
"Baik lah, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan terbaik." jawabnya melempar senyum lalu buru-buru menutup pintu Instalasi Gawat Darurat.
Mama Celine dan papa Candra masih terdiam tidak mengerti apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh putranya itu, mereka hanya mampu saling pandang karena tidak tahu dibalik ucapan Brayen yang meminta korban kecelakaan itu baik-baik saja.
"Brayen, kita harus pulang sekarang, ada yang ingin sekali Mama tanyakan sama kamu," bisik mama Celine menarik pergelangan tangan Brayen.
"Mau bicara apa, Ma. Kita di sini dulu lah, karena kita nggak tahu apa yang sedang dilakukan oleh dokter di dalam," sahut Brayen menolak.
"Brayen, Mama penasaran sama kata-kata kamu, ada yang kamu sembunyikan dari Mama dan papa, ayo kita pulang sekarang!" paksa mama Celine menarik pergelangan tangan Brayen dengan kasar.
Brayen pun dibawa pulang oleh kedua orang tuanya, Intan yang ikut terlibat dalam rencana Brayen itu tak ingin ketinggalan, ia juga mengikuti Brayen yang dibawa pulang oleh kedua orang tuanya.
Tibanya di rumah, Brayen diminta duduk di ruang tamu oleh mama Celine, mama Celine sangat ingin tahu apa yang sudah direncanakan oleh putra satu-satunya itu.
"Brayen, apa kamu ada hubungannya dengan kecelakaan Merry dan kedua orang tuanya?" tanya mama Celine penasaran.
"Hubungan apa si, Ma. Enggak lah," sahut Brayen mengelak.
"Jangan bohong, Brayen. Papa dan Mama paham sekali siapa kamu, ayo ngaku!" paksa papa Candra yang ikut penasaran.
Intan dan Brayen saling bertatapan, mereka tahu bahwa saat ini mama Celine dan papa Candra tidak akan berhenti bertanya sebelum mereka menjawab yang sebenar-benarnya.
"Ya Ma, kecelakaan itu memang Brayen yang buat," kata Brayen dengan tanpa merasa bersalah.
"Apa! Jadi kamu yang menyebabkan mereka kecelakaan?!"
Seolah tak percaya, mama Celine bangkit dari tempat duduknya dan menundukkan kepala di hadapan Brayen yang tengah duduk santai di sofa, Brayen pun membalas tatapan itu tanpa ragu dan menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"Benar Ma, memang Brayen yang sudah membuat mereka kecelakaan. Brayen tahu kalau sebelum hari pernikahan ini terjadi, Merry memergoki Brayen sedang bersama dengan Intan, hingga muncul rencana ini untuk menyelamatkan kita dari kebangkrutan," kata Brayen panjang lebar.
"Dari kebangkrutan? Maksud kamu apa si, Brayen?" tanya papa Candra tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Brayen.
"Ma, Pa, kita semua tahu kalau perusahaan sedang berada diujung tanduk, dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaan kita adalah saat Brayen menikah dengan Merry, tapi karena Merry justru menggagalkan rencana Brayen, dengan sangat terpaksa Brayen melakukan hal ini." jelas Brayen melepaskan jas pernikahannya.
Mama Celine dan papa Candra saling bertatapan mata, mereka benar-benar tidak habis pikir kalau ternyata Brayen memiliki rencana sejauh ini, sementara Brayen sendiri justru tersandar manja bersama dengan Intan yang saat ini merasa menang dari Merry.
'Kamu lihat saja, Merry. Kekayaan orang tua kamu dan Brayen akan jatuh ke tanganku, kamu akan menjadi orang yang tidak ada harganya di dunia ini.' batin Intan mengulas senyum.
Brayen sendiri memilih untuk tersenyum licik saat menatap kedua orang tuanya yang masih tidak mengerti, bahkan mereka sama sekali tidak tahu kalau putranya ternyata memiliki niat sejauh itu.
Dreet...
Dreet...
Tiba-tiba getaran telepon mengagetkan Brayen, ia segera merogoh kantong celananya untuk meraih ponsel miliknya.
"Siapa yang menelpon, polisi kah?" tanya mama Celine ketakutan.
"Bukan Ma, kayaknya ini nomor rumah sakit yang tadi Brayen tinggalin nomor telepon Brayen, Brayen angkat dulu ya." jawab Brayen bangkit dan sedikit menjauh agar terdengar hening.
Mereka pun hanya terdiam menunggu jawaban dari Brayen setelah mengangkat telepon itu.
"Halo, selamat siang pak, benar ini dengan bapak Brayen Kusuma?" tanya salah satu petugas rumah sakit yang ditinggali nomor oleh Brayen.
"Benar, ini dengan saya sendiri, bagaimana sus, apa sudah ada kabar dari ketiga pasien yang mengalami kecelakaan itu?" tanya Brayen yang langsung fokus pada korbannya.
"Salah satu dari mereka ada yang meninggal dunia, pak. Tepatnya ibu dari seorang gadis yang saat ini sedang koma, sementara ayah dari gadis itu juga sedang kritis," sahut nya memberikan kabar.
"Baik lah, saya yang akan mengurus pemakaman ibu dari saudara saya, sus."
Tuut
Dengan cepat Brayen mematikan dan menurunkan ponsel yang sejak tadi menempel di telinganya, Brayen mendapatkan kabar gembira saat seorang suster yang menghubungi dirinya menyatakan bahwa mama Merry telah meninggal dunia.
Mama Celine yang tidak bisa duduk dengan diam itu memilih untuk segera bangkit dan menghampiri Brayen.
"Brayen, apa yang terjadi?" tanya mama Celine menatap penasaran.
"Tante Aulia meninggal dunia, Ma. Sementara om Danu sedang dalam keadaan kritis," sahut Brayen mengulas senyum.
"Apa! Ya ampun, jadi jeng Aulia meninggal dunia."
Mama Celine syok dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, secara tidak langsung putra pertamanya lah yang sudah membuat nyawa calon besannya itu melayang, mama Celine pun meneteskan air mata karena masih tidak percaya akan semua yang terjadi hari itu.
"Brayen, bagaimana ini? Siapa yang akan mengurus pemakaman jeng Aulia?" tanya mama Celine panik.
"Mama tenang aja, Brayen yang akan mengatur semuanya." jawab Brayen dengan sangat enteng.
Brayen dengan segera meninggalkan kedua orang tuanya itu bersama Intan, Brayen akan mengurus semua yang memang sudah ia rencanakan sebelumnya.
Ketakutan mama Celine sangat terlihat, hingga membuat papa Candra mendekatinya dan mencoba menenangkan mama Celine.
"Ma, kita tenang dulu, jangan sampai ketakutan kita ini menggagalkan rencana Brayen, apalagi kalau nanti jenazah jeng Aulia dibawa ke rumah dan kita melayat di sana, jangan sampai ada yang tahu kalau semua ini adalah rencana putra kita," kata papa Candra mengelus lembut pundak mama Celine.
"Pa, bagaimana Mama nggak cemas dan nggak takut, putra kita sudah menjadi seorang pembunuh, dan yang dia bunuh adalah sahabat kita sendiri yang saat ini gagal menjadi besan kita," sahut mama Celine sampai meneteskan air mata.
Teringat bahwa mereka dahulu berjuang bersama-sama dalam meniti sebuah karir, mereka saling mendukung dan saling menyayangi satu sama lain, sebelum akhirnya berniat untuk menjodohkan putra putri mereka ketika dewasa.
"Jeng Celine, jangan lupa ya, nanti kalau Brayen sudah tumbuh dewasa, berikan dia padaku, dan aku akan memberikan anak gadisku kepadamu," ucap Aulia melempar senyum dalam candanya.
"Jeng Aulia bisa aja, memangnya jeng Aulia beneran mau menjodohkan putra putri kita?" Tanya Celine yang tidak percaya dengan permintaan sahabatnya itu.
Sebuah kata, yang akhirnya menjadi kenyataan, namun pernikahan putra putri mereka justru gagal di tangan Brayen Winata sendiri.