Halaman playgroup mulai sepi. Satu per satu anak dijemput orang tuanya. Rana masih duduk di bangku kecil, menatap gerbang dengan mata bulatnya. Tas bergambar dinosaurus ia peluk erat di d**a. Sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Dari balik kemudi, Bagas muncul dengan senyum dipaksakan. Dari jendela belakang, sempat terlihat Nayla, tapi cepat-cepat Bagas menoleh dan menegur tajam. “Jangan turun. Kau tahu bocah itu tidak suka padamu,” desisnya. Nayla hanya melirik sinis, bibirnya menekuk. “Hati-hati, Bagas. Anak itu tidak sebodoh yang kau kira.” Bagas menutup pintu mobil dengan keras lalu melangkah ke gerbang, menampilkan wajah ramah yang dibuat-buat. “Rana…” panggilnya, suara dipaksa lembut. Bocah tiga tahun itu menoleh. Matanya langsung menyipit, bukan dengan senang, tapi curiga.

