Genta Pilih Siapa?

1067 Words
Tyas masuk ke dalam ruangan Samuel. Ada beberapa tumpuk dokumen ada di sana. Lalu ketika Tyas melihat di samping meja Samuel, ada banyak tumpukan dokumen tersimpan di dus bekas kertas, matanya melotot kaget. “Ini dokumennya?” tanya Tyas dengan suara yang tinggi. Mata Samuel beralih dari layar laptop ke arah Tyas—yang langsung berjongkok dekat dengan dus-dus kecil yang entah ada berapa jumlahnya. Rasanya ada sepuluh, atau malah lebih. “Iya. Maklum ini kan perusahaan besar dan mau diakuisisi, jadi kalau dokumennya sebanyak ini, wajar.” Tyas menggut-manggut dalam hatinya ada rasa antusias dan juga riang, apa yang nanti akan dia kerjakan? Diluar pemikiran kalau Genta adalah kekasih masa lalunya. Samuel lalu membereskan setumpuk dokumen yang ada di meja. “Yuk, kita ke ruangan Pak Genta. Dia tadi manggil kita,” ucap Samuel. Tyas gelagapan mengangguk pelan, apakah akan secepat ini ada dalam satu ruangan dengan Genta? “Oh, ya, bisa minta tolong bawain dokumen ini?” tanya Samuel. “Nanti gue bawa yang ada dalam dus itu sebagian.” “Serius lo mau bawa sendiri? Panggil OB aja buat minta tolong bawain,” usul Tyas—yang sudah membawa beberapa dokumen. “Nggak, sekalian aja, biar cepet, Pak Genta kayaknya kalo udah marah nyebelin, deh. Tadi aja pas manggil di telepon suaranya kayak udah marah.” Tyas menelan ludah. “Oke, kalau begitu,” balasnya, sambil berjalan keluar dari ruangan Samuel. Detak jantung Tyas rasanya menggila, tidak bisa ditenangkan, meski dia mensugesti dirinya sendiri, kalau saat ini Genta adalah kakak iparnya saja. Sesampainya di depan ruangan Genta, Samuel menggerakkan dagu menunjuk pintu, meminta Tyas mengetuk pintuya. Mata Tyas melotot, bagaimana kalau dia marah? Selama jadi anak magang, Tyas memang pernah kena caci maki dan omelan karyawan. Tapi, begitu Argo melamar dan Tyas menerimanya, semua karyawan tetiba seperti segan kepadanya. Apakah saat ini Tyas masih mendapat fasilitas begitu? Takut-takut, Tyas mengetuk pintu ruangan itu. “Masuk!” sahut suara dari dalam. Tyas lantas memutar kenop pintu lalu mendorongnya. Wajah Genta langsung terlihat oleh Tyas, wanita itu lantas menunduk tidak enak. Mana enak, wajah Genta terlihat galak, datar lagi. Samuel yang baru masuk setelah Tyas mecoba bersikap ramah. “Selamat siang, Pak.” “Siang, mana, dokumen yang saya minta,” tanya Genta tanpa melihat Tyas. “Ada, Pak. Ini saya bawakan,” Samue meletakka dus di lantai. “Kamu sudah pisahkan yang penting-penting dan yang berhubungan dengan akuisisi itu?” “Sudah, Pak,” ujar Samuel. Lantas dia meminta dokumen yang Tyas bawa, dan menyerahkan kepada Genta. Genta menerima dokumen itu. Dalam setiap perjalanan perusahaan ada pro dan kontra itu pasti. Genta mengantisipasi adannya pertikaian yang bisa mengakibatkan kerugian perusahaan. Dahi Genta berkertu begitu membaca sebagian ulasan dari Samuel. “Apa kamu tidak salah, perusahaan ini pernah dapat tuntutan diam-diam?” “Iya, Pak. Walau itu sudah lama tahun delapan puluhan. Waktu itu kasusnya sudah selesai.” “Tapi jumlahnya tidak sedikit, Sam. Apa kamu sudah riset juga bagaimana keadaan keuangan dan yang lain-lain?” “Eng, saya baru riset sebagian, Pak. Karena ini dokumennya baru diantar minggu kemarin. Dan pelimpahan akusisi ini dadakan, karena ada kondisi yang mengharuskan perusahaan ini melepas sebagian sahamnya.” Genta makin tidak mengerti, hingga bertekad ingin mencari tahu sendiri semuanya. “Dokumennya sudah semua diantar atau bagaimana?” tanya Genta lagi, lehernya dia naikkan untuk melihat dokumen yang tadi Samuel bawa. Dan Genta menarik diri seketika menyadari ada Tyas di ruangannya. Tidak lama pintu ruangan diketuk lagi. “Masuk!” sahut Genta. Pak Paimin masuk ke dalam ruangan Genta membawa bungkusan sterofoam. Mata Genta melirik pesanan sarapannya, menapa ada di bungkus sterefoam? Bukannya tadi Genta memesan roti. “Pak, sarapannya,” ucap Paimin sambil menyodorkan bungkusan itu ke depan Genta. “Ini apa?” “Bubur ayam, Pak,” sahut Paimin dengan ceria seperti tidak ada apa-apa. Tyas tahu kalau Genta jijik makan bubur ayam. Apalagi kalau tidak hangat. “Kan saya bilang, saya mau roti.” “Anu, Pak. Rotinya sod ot,” balas Pak Paimin. Dan Tyas juga tahu, kalau Genta suka sekali roti croisan, jadi yang dimaksud Genta bukan di toko roti itu. Wanita itu jadi tergelitik, tampaknya Genta sebentar lagi aka marah besar. Dia selalu begitu, apalagi soal perutnya yang pagi ini mungkin sangat kelaparan. “Biar saya belikan Pak—Genta,” usul Tyas berkata sambil terbata, sambil berdiri, tetapi dia tidak mampu menatap Genta. “Apa kamu bilang?” “Biar saya yang belikan sarapan untuk Pak Genta.” Tyas tidak banyak berkata lagi. Langkahnya langsung lebar-lebar meninggalkan ruangan Genta. Terlalu banyak yang Tyas tahu tentang Genta. Tinggal Genta dan Samuel yang melongo menatap Tyas yang menghilang dari pandangan mereka. Bukannya Tyas itu baru saja menikah? Pikir Samuel, dan menikahnya dengan Pak Argo, bukannya dengan Genta. Samuel bertanya-tanya dalam hati, apakah Tyas memang pegawai yang rajin? Pak Paimin juga tak kalah herannya. Bukannya Mbak Tyas baru saja menikah? Pak Paimin tahu diri, tidak mau dimarahi Genta, dia juga meninggalkan ruangan. Sementara, beberapa saat melamun, Genta mengerjap. “Sampai di mana kita tadi?” tanyanya kepada Samuel. Samuel dengan senang hati menjelaskan segala hal yang dia tahu soal perusahaan ini. “Masalahnya, saya dengar ada satu tuntutan lagi,” papas Genta. Tidak seberapa lama, pintu ruangan Genta ada yang mengetuk. “Masuk saja!” Lelaki itu membatin, apa itu Iras? Namun, Genta sedkit kecewa ketika yang muncul adalah Tiffany. “Ada apa?” tanya Genta dingin dan datar. “Barusan aku dapat email soal tuntutan di perusahaan itu. Sudah baca emailnya belum?” “Sudah,” jawab Genta sekenanya. Lantas ketika dia memalingkan wajahnya, Genta baru menyadari untuk apa Tiffany datang? “Lalu, ada apa lagi, Tiff?” suara Genta terdengar ketus dan menantang tidak mau menatapTiffany. “Aku ada ulasan soal tuntutan yang diajukan, ditambah ada direktur mereka yang kena kasus. Perjalananini akan panjang. bisa saja ” Tiffani duduk di atas meja Genta, membuat mata lelaki itu tertuju di diri Tiffany. Tidak lama, Tyas masuk ke dalam ruangan Genta. Posisi Tiffany memang seperti memberi umpan kepada Gentala. Roknya yang pendek, serta kemeja yang pas dengan badan ditambah posisi duduknya di meja. Sesaat dalam pikiran Genta ingin tahu, apakah Iras-nya masih menyimpan rasa cinta dalam dirinya? Sebenarnya mengantar makanan ini, membuat Tyas dekat dengan Genta. Itu saja sudah membuat Tyas gemetar. Bukan karena gugup dekat dengan lelaki ini, tetapi karena diam-diam, entah mengapa, ada rasa yang Tyas sendiri tidak menyadari kalau dia sedang cemburu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD