Bukan Untuk Gentala

1072 Words
Wajah Tyas pucat pasi, ketakutan. Dia berpaling dari wajah Gentala. Ada pelayan yang mengantar makanan ke meja tempat Tyas dan Genta duduk. Jantung Tyas berdegub dengan cepat, dalam hati mengutuk, mana Argo? Mengapa belum kembali? Tyas Tidak sanggup melihat Gentala. Tidak mungkin juga membuat Argo kecewa dihari pernikahannya. Dengan menagatakan kalau Gentala adalah mantannya dulu. “Sekarang aku adalah istri dari adikmu, Genta. Apa kamu tega kalau melihat Argo kecewa karena hubungan kita dulu?” Genta tersenyum miring, menatap Tyas seperti orang kelaparan. Kebaya yang menonjolkan lekuk tubuhnya seperti undangan untuk Genta menikmati pandangannya. Ditambah model pundak yang terbuka. Matanya menelisik setiap inci tubuh Tyas tanpa melewatkan satu inci pun. Tyas menyadari pandangan Genta, berusaha sembunyi. “Itu hanya untuk status kamu saja, kan? Dasar murahan!” tudingan Genta membuat badan Tyas dingin tidak karuan, membeku, tidak mampu menjawab apa pun. “Apa kamu sengaja?” “Sungguh, aku tidak tahu kalau dia adalah adikmu,” Tyas berkata dengan tegas. Menahan air mata yang sudah ada di ujung mata. “Alasan.” Genta meminum air putih yang ada di depannya. “Genta!” panggil seseorang, itu adalah papinya dan mami. Sinagar dan Diana, begitu bahagia menyambut anak yang baru saja jumpa. Genta mau tidak mau tersenyum menyambut mami dan papinya. “Kamu sudah makan, Yas?” tanya Diana. “Sudah, Mi,” jawab Tyas singkat. Mami mencari Argo. Matanya menelusuri aula hotel. “Argo ke mana? Masa istrinya ditinggal sendirian, si. Nanti diambil orang bagaimana?” candaan itu direspon dengan tawa ringan Sinagar. “Mami ini ada-ada saja,” jawab Sinagar yang suaranya berat. Mata Genta tidak bergerak, hanya menatap Tyas. Ada apa dengan adiknya? Dari sekian banyak perempuan yang ada di Jakarta, atau di Dunia ini, mengapa yang dipilih adalah Iras-nya! Genta tentu saja tidak bisa melupakan nama wanita itu, Tyas Indira. Beberapa tahun ini Genta hidup dalam penyesalan. Setiap malam selalu bermimpi buruk. Namun, mengapa baru sekarang bertemu, dan sialnya harus menjadi milik adiknya.—Yang harusnya hanya menjadi milik Genta seorang. Argo lantas kembali ke kursi tadi dia duduki. “Nah, ini dia baru kembali,” celetuk Diana. “Kamu ini, kenapa tinggalkan Tyas sendirian?” Argo kebingungan, “Gak sendirian, ada Kak Genta, kan?” “APA?!” sahut Genta dan Tyas bersamaan. Lantas mereka saling menatap sekilas, gugup dan tidak enak. Muka mereka merona menahan malu. Argo tertawa kecil, lama-lama gemas sendiri melihat wajah istrinya yang merona. Genta tak kalah gemasnya melihat wajah Tyas—yang merona. Andai saja, tidak ada siapa-siapa di sini. Mungkin akan langsung Genta terjang Tyas. “Jadi—gimana kalian bertemu?” tanya Genta berusaha membaur, menetralkan debaran dalam hatinya yang makin menggila. “Tyas jadi anak magang di kantor. Beberapa bulan aku menjadi mentornya.” “Jadi … Tyas ini magang di kantor kamu, Argo?” tanya Gentala sambil menatap Argo dan istrinya bergantian. “Iya, kebetulan saja, ada program magang di kantor. Tyas melamar,” papar Argo. “Tiga bulan kemudian, gantian aku yang melamar Tyas. Dan dia menerimaku.” Tyas tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang makin pucat. Sebentar-sebentar, matanya menatap ke arah Genta. Diana tersenyum melihat keluguan Tyas, menurutnya gadis itu cocok sekali jadi mantu. “Oh iya Go, mumpung Mami ingat. Nanti, Genta untuk sementara waktu, akan bantu di kantor kamu. Genta mau di Jakarta dulu katanya.” “Oh, gitu. Ide yang bagus sepertinya,” jawab Argo. Walau dalam hatinya sebenarnya tidak ingin ada ada Gentala. “Lagian, aku putuskan untuk tidak kembali ke London,” ucap Genta dengan ringan. “Aku akan memulai usaha di Jakarta, bersama seorang teman.” Pernyataan Genta mengejutkan siapa pun yang ada di meja makan itu. “Apa?” Mata Papi langsung memelotot. “Aku memutuskan untuk tidak mengurusi perusahaan Papi lagi yang ada di London. Genta sudah memutuskan, Pi.” “Apa … Apakah kamu masih suka mimpi buruk? Apa karena itu?” tanya Sinagar. “Genta rasa, Papi tidak perlu tahu itu. Cukup Genta saja yang tahu,” jawaban Genta diplomatis. Dalam hati mendengkus, tidak suka. Kali ini dia harus lepas dari kendali orang tua. “Lagian, Genta sudah tiga puluh …” “Justru itu, Genta,” sambar Diana. “Bagaimana kalau kamu menikah saja. Masa selama beberapa tahun ini tidak ada gadis yang kamu suka? Cewek-cewek London itu cantik-cantik, lho,” bujuknya. Papi hanya manggut-manggut. “Adik kamu sudah menikah. Masa sudah dilangkahi kamu tidak mau cari istri juga?” usul Dewantara. Genta tidak mau menjawab, menunduk tidak mau melihat siapa pun yang ada di meja makan ini. “Biar Mami atur perjodohan buat kamu, ya, Genta. Gimana?” tawaran Mami membuat Genta tersenyum miring. “Ayolah, Genta, jangan ditolak. Kalau kamu bahagia, Mami dan Papi pun ikutan bahagia,” sambar Papi. “Kenapa kamu selalu menunda kebahagiaan?” Genta tersenyum pahit, membuang pandangan dari mami dan papinya. “Apa ada obrolan lain selain menikah? Genta tidak mau hidup di bayang-bayangi mami dan papi lagi. Lagian mana mungkin kalau tidak kenal saling cinta dan bahagia. Sekarang, waktunya Genta untuk memutuskan semua. Maaf, Mi, Pi. Genta permisi dulu.” Diana dan Sinagar saling bertukar tatapan. Kenapa anak ini sulit sekali diatur? Pikir Diana. Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Argo. Diana hanya ingin Genta bahagia juga, melupakan masa lalunya. Tanpa banyak basa basi lagi, Genta bangkit berdiri dari kursi meja makan. Dia hanya melirik ke arah Tyas untuk yang terakhir kalinya. Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan. Tyas jelas sekali tidak bisa melupakan tatapan mata itu. Yang selalu dia cinta, sayang dan puja. Tatapan tegas, keras, tetapi juga lembut dan melindungi. Berada dekat keluarga membuat Genta gerah. Ditambah ada Tyas, dalam hati mengutuk, menolak rasanya tidak adil mengapa harus adiknya yang bertemu dengan Tyas? Ke mana wanita itu? Bertahun-tahun Genta mencarinya. Tyas mengobrak-abrik perasaan Gentala. Terus terang, dia tidak bisa ikut berbahagia melihat adiknya bersanding dengan wanita yang harusnya menjadi miliknya. Genta memacu mobil sportnya dengan cepat, seperti orang gila. Untungnya punya orang yang dia percaya, bisa mengantarkan barang kesayangan. Seperti mobilnya ini, tahu-tahu sudah ada di depan hotel. Makin menjauh dari tempat pernikahan adiknya, bayangan Tyas makin jelas tampak di samping Genta. Tyas yang pembangkang, ceria. Genta makin gila menyetir, sembarangan mengambil jalur kiri dan kanan. Klakson bersahutan ketika mobil Genta memelesat. Satu-satunya pelarian, tempat bersembunyi dan juga tempat menyendiri Genta adalah apartemennya. Merenungkan semua penyesalannya. Perbuatannya yang dulu dengan Tyas-nya. Apakah masih ada jalan untuk mereka kembali bersama? Setelah ada Argo di tengah hubungan ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD