Menetap di Ruangan Genta?

1148 Words
Satu sisi, Tyas lega pekerjaannya selesai dengan cepat. Namun, pikirannya masih berkutat soal pembicaraan Genta, mulai besok menyediakan meja di ruangannya. Kalau begitu, mulai besok Tyas akan selamanya bertemu dengan Genta. Apa ini berlaku untuk selama Tyas bekerja di sini? Atau hanya untuk beberapa bulan saja? Bagaimana kalau bertanya kepada Argo? Rasanya tidak mungkin, Tyas menggeleng sendirian, sedikit menarik napas, menata hati sebelum dia masuk ke ruangan suaminya. Argo tidak menyangka sama sekali kalau istrinya kembali lebih cepat ke ruangannya. Matanya membesar begitu dia tahu yang membuka pintu ruangannya adalah Tyas. “Lho, sudah selesai?” tanya Argo setengah kaget, untung saja sesi konselingnya sudah selesai. Kalau tidak, hampir saja Tyas tahu. “Sudah, Pak Genta tadi suruh kita pulang duluan,” balas Tyas, sambil mengenyakkan badan di sofa. “Mau langsung pulang?” tawar Tyas, matanya lalu beralih ke ponselnya. Membaca balasan pesan dari klien yang tadi Genta minta. “Um, nanti dulu, aku mau kirim email, satu aja. Abis itu kita pulang.” “Oke,” balas Tyas dengan senyuman. Beberapa saat Argo dan Tyas tenggelam dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tidak saling melihat. Tyas yang baru saja bekerja, langsung mencatat apa saja yang besok dibutuhkan untuk bertemu dengan kliennya. Dan juga ada kasus baru pelimpahan dari Pak Sinagar langsung. Genta yang aktif saling berkirim pesan mengingatkan pekerjaan besok, juga menjawab pertanyaan klien yang disampaikan melalui Tyas dan Samuel. Kebanyakan Tyas dan Samuel hanya menyimak semua insruksi dari Genta. Dan menjawab dengan kata; baik, atau saya jalani besok, Pak! Itu pun kebanyakan Samuel yang membalas pesan. Tyas cukup menyimak dalam hatinya masih tidak percaya itu adalah Genta. Lelaki yang enam tahun lalu Tyas kagumi. “Yuk,” ajak Argo, suaranya mengagetkan Tyas. Dia langsung mengangkat kepalanya menatap suaminya. “Kenapa?” Argo mengerutkan dahi. “Kaget,” balas Tyas dengan senyuman, sambil berdiri mengambil tas punggungnya. Argo melihat tas punggung Tyas yang besar. Susah payah dibawa. “Aku bawakan tas kamu,” ujar Argo sambil mengambil tas itu dari pundak Tyas. Terus terang, Tyas belum terbiasa dengan perlakuan Argo yang seperti ini. Meski berhasil membuat wajah Tyas menghangat. “Terima kasih,” ucapnya tulus. “Kayak sama siapa aja bilang terima kasih,” canda Argo. “Tasnya lumayan berat jadi aku berterima kasih,” balas Tyas dengan senyuman. “Tadi lumayan banyak surat yang aku bawa. Padahal minta surat kelulusan doang, surat yang lainnya juga harus dibawa.” “Termasuk surat nikah?” ledek suaminya itu. Tyas sukses tersenyum lebar. Tanpa menjawab, mereka terus berjalan, naik lift hingga turun ke lantai satu. Kebanyakan situasi yang Tyas dan Argo hadapi ketika berduaan adalah kekakuan, Argo juga tidak mengerti apa sebabnya. Apakah memang benar, pernikahannya terlalu cepat? Dan sekarang ranjangnya terlalu dingin. “Terus, gimana hari pertama kerja sebagai karyawan? Ada cerita apa?” tanya Argo. “Cerita apa, ya?” Tyas bingung juga, tidak ada kejadian apa-apa. Apakah penting membicarakan masalah makan siang atau makan pagi di ruangan Genta. “Oh, iya, aku denger, Kak Genta langsung mengusir Tiffany dari ruangannya. Apa itu benar? Sempat heboh juga tadi di forum. Tapi Kak Genta diam aja di forum senior partner. Apa dia tadi sibuk banget?” tanya Argo penasaran. “Tadi? Kayaknya biasa aja.” Mata Tyas sedikit membesar, berharap Tiffany tidak menceritakan apa pun soal sarapan pagi untuk Genta ke siapa pun. Hingga ada bunyi berdenting, tanda lift yang mereka naiki sudah sampai di lantai tujuan. Argo keluar duluan dari Tyas. “Kalau begitu, ngapain aja, dong Kak Genta?” “Memang dia menyiapkan dokumen untuk besok. Lagian tadi ada alihan kasus mendadak, jadi kita harus membacanya dan langsung menyiapkan pembelaan, besok juga kita ada rapat untuk akuisisi perusahaan. Jadi, mungkin Pak Genta sibuk dengan itu.” Argo manggut-manggut, “Emang ada kejadian apa sebenarnya di ruangan Genta?” Tyas tidak enak, detak jantungnya makin bertalu. “Ributnya di forumnya soal apa? Kalo kejadian Pak Genta usir Tiffany kayaknya karena Mbak Tiffany duduk di meja. Mungkin karena itu Pak Genta nggak suka.” “Oh, pantes aja, tapi, kenapa Tiffany sampe sebegitunya?” Rasa penasaran Argo belum habis sama sekali. Tyas menggeleng, tidak tahu. “Mungkin Tiffany nggak suka ditegur sama Pak Genta. Lagian kenapa bicara soal itu, si?” Mata Argo membesar, “Kamu cemburu?” Lelaki itu meraba saku celana, mencari kunci mobil. “Kunci mobil ke mana?” “Kok tanya aku?” mata Tyas membesar, lucu sekali melihat ekspresi wajah Argo yang mencari kunci mobil itu. Lantas lelaki itu menggaruk kepala. Ingin tertawa dengan lebar rasanya. “Ah, kayaknya ketinggalan di meja kerja.” Tyas hanya tersenyum, “Aku ambilin, ya?” “Jangan. Kamu di sini aja, aku yang ambil ke atas,” balas Argo, sambil menaruh tasnya dan tas Tyas dekat dengan istrinya. “Aku taro tas di sini.” Argo lantas berlari kecil ke dalam gedung, istrinya itu melihat dengan seksama lelaki itu masuk ke lift. Ini jam pulang kerja, jelas saja, jrang sekali ada yang naik ke atas. Tyas heran sendiri, mengapa Argo tidak suruh OB saja? Untuk ambilkan kunci mobil. Itu kan hal yang mudah. Tyas bengong sendiri, menunggu di teras lobi gedung kantor. Ada karyawan yang berkantor di gedung itu berlalu lalang untuk pulang. Beberapa wajah Tyas sudah kenal, mereka sambil bertegur sapa. Berbasa-basi menanyakan kabar, ini karena tahu kalau Tyas adalah istri dari Argo. Sepuluh menit Argo mengambil kunci itu, Tyas melihat di antara kerumunan manusia yang turun dari lift, beberapa kali tidak ada Argo. Namun, ada orang yang dia tidak harapkan kedatangannya. Genta! Lelaki itu tersenyum begitu melihat dari balik kaca besar, Tyas sedang mengawasi bagian dalam gedung. “Nunggu siapa?” sapa Genta begitu dekat dengan Tyas, pandangannya menatap wanita itu. Tangannya melambai, memanggil petugas valet. Itu kan pertanyaan yang singkat, ringan, hanya perlu dijawab satu suku kata oleh Tyas. Tapi rasanya lidah Tyas kelu. Pasalnya Tyas sudah berjanji dalam hati kalau diluar jam kerja pantang berinteraksi dengan Genta. “A—Argo,” jawabnya terbata. Mata Genta selalu memerhatikan gerak gerik Tyas. “Memang ke mana dia?” “Eng, tadi kunci mobilnya ketinggalan di atas,” balas Tyas sekilas menatap Genta, tapi pandangannya selalu dia alihkan ke sembarang arah. Dalam hatinya banyak berdoa, cepat kembali, Argo! Alam seolah mendukung pertemuan berdua mereka malam ini. Dari sekian orang yang lalu lalang orang di depan gedung mulai surut. Tidak ada lagi satu pun yang menyapa Tyas atau Genta, Juga petugas valet yang agak lama mengambil mobil Genta. Genta menarik napas, “Ras, maaf, ketika pernikahan kamu ...” “Nggak apa-apa, aku tahu kamu pasti kaget.” Tyas memotong, mengangguk, tidak mau mebahas itu terlalu jauh, Sekilas sorot matanya yang polos dan juga bening menatap Genta. “Mungkin aku kaget. Tapi, rasa tidak rela dalam hatiku lebih besar dari pada itu.” Tyas kesal sendiri, tangannya mengepal di samping badan, ingat enam tahun ini. Enam tahun—dalam hidup yang Tyas ingin hapus dari hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD