“Mungkin aku kaget. Tapi, rasa tidak rela dalam hatiku lebih besar dari pada itu.”
Ucapan Genta membuat Tyas tersenyum miris. Dalam hatinya mantap kalau dia akan melupakan kisah Genta dalam hidupnya.
Ya, sebelum dia memulai hidup baru dengan Argo, keputusan itu juga sudah dia ambil. Namun, entah mengapa, melihat Genta membuat hatinya goyah.
“Sudah tidak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan, Genta. Aku bahagia dengan Argo.”
Genta mengangguk, dia menebak kalau Tyas sedang berdusta. “Baik kalau gitu, sampai jumpa besok.”
Tanpa Tyas sadari, Argo muncul di ambang pintu lobi. Mau tidak mau dia melihat ketika kakaknya itu menjauh dari istrinya.
“Terima kasih sarapannya!” ucap Genta sebelum dia naik ke dalam mobil.
Argo melihat reaksi dari Tyas yang berwajah datar, dan tampak sangat membenci Genta sama sekali. Ada apa dengan istrinya? Apakah tadi Genta membuat Tyas tidak nyaman? Lalu soal sarapan, sarapan apa yang dimaksud Genta sebenarnya?
Argo langsung tersenyum ke arah Tyas.
Menghilangkan kecurigaan, Tyas membalas senyuman itu.
“Tadi ada Kak Genta?” tanya Argo. Tyas sedang mengambil tasnya yang ada di lantai, gerakannya berhenti.
“Ya, kebetulan aja ketemu, dia juga mau pulang,” jawab Tyas sekenanya. Tidak ingin Argo tahu percakapannya dengan Genta tadi.
Argo hanya manggut-manggut mengerti. Dia lalu berjalan mengajak Tyas ke pelataran parkir. “Kenapa wajah kamu kayaknya sebal sekali dengan Genta?” sesekali mata Argo menatap Tyas meski cahaya menuju tempat parkir temaram tapi terlihat wajah Tyas yang serba salah.
“Biasa, kok, ini masalah kerjaan. Tadi ada aja sikap kak—eh, Pak Genta yang nyebelin.”
Argo membukakan pintu mobil untuk istrinya. “Begitu?”
Tyas tidak mau melihat wajah Argo, dia hanya mengangguk saja. Sambil menunggu pintu mobil ditutup oleh Argo.
Namun, Argo seperi menelidik Tyas, “Apakah Kak Genta sangat menyebalkan? Kalau dia sangat menyebalkan, nanti aku minta Papa untuk pindahkan kamu ke unit lain.”
Tyas mendongak, menatap Argo yang menyandarkan badan di pintu mobil. “Eh, untuk apa?”
“Supaya Kak Genta tahu kalau dia tidak bisa seenaknya, apalagi sama kamu, gimana?” Argo berkata dengan sungguh-sungguh, mata Argo menatap Tyas yang terlihat makin kikuk.
“Nggak perlu, Go. Aku cukup enak kerja bareng Samuel. Paling nggak kalo Pak Genta lagi macem-macem, ada Samuel yang jadi penengah. Dan sejauh ini aku juga nggak kesulitan.”
Argo lagi-lagi mengangguk, “Yakin?”
“Iya,” senyuman Tyas melebar, “Apa, si? Dia kak kakak akau juga, jadi kalau dia galak dan resek, pasti itu untuk kebaikan aku juga dan Samuel tentunya.”
Argo tersenyum dengan manisnya. Iya, mungkin satu-satunya yang Tyas suka saat Argo tersenyum dengan tulus, seperti ini. Lelaki itu lantas melirik jam tangannya. “Masih sore, mau makan diluar dulu? Di tempat biasa?” tawar lelaki itu, lantas dengan cepat masuk ke mobil.
“Tempat biasa mana?” tanya Tyas sambil tersenyum dengan lebar, ada beberapa favorit tempat Tyas dan Argo biasa makan. Tapim untuk Tyas, yang suka pedas, dia lebih suka dengan makanan khas Korea, yang serba pedas. Sementara Argo, makan pedas berarti membunuh dia. “Pasti bukan yang Korea-an, kan?” tebak Tyas.
Argo lantas menggeleng, dia sudah masuk ke mobil. Dan melajukan mobilnya ke tempat mereka akan makan malam. “Kalau malam ini aku pilih tempatnya bagaimana?”
“Boleh aja,” jawaban dari Tyas membuat Argo makin melajukan mobilnya. Dia memilih tempat dekat dengan kantor. Mata Tyas berkeliling ketika mobil Argo masuk ke dalam pelataran parkir suatu gedung.
“Emang di sini ada makanan apa?” tanya Tyas dengan polos.
“Pokoknya dulu aku dan teman-teman suka banget makan di sini,” balas Argo.
Tyas lantas menatap Argo yang sibuk memutar setir, untuk cari tempat parkir. “Apa termasuk sama mantan kamu?” ledek istrinya itu.
Argo menatap Tyas, “Kamu cemburu?”
“Lho, aku kan tanyam kok dibilang cemburu, si?” Tyas menyangkal, entah mengapa dia hanya jail bertanya, dan tidak menyangka kalau Argo menanggapi dengan candaan pula.
Argo tertawa kecil, disambut dengan pukulan Tyas di lengannya. “Karena kamu bertanya, makanya aku jawab.”
Tyas tak kalah tersenyum dengan lebarnya.
Argo hanya pikir, apakah malam ini akan milik mereka berdua.
“Yuk,” ajak Argo, “Keburu closed order nanti.”
Argo menggandeng tangan Tyas dengan erat. Tempat makan yang dimaksud Argo adalah di atas langkan suatu gedung tertinggi Ibu Kota, gemerlap lampu kota menjadi pemandangan saat Argo memilihkan tempat duduk agak jauh dari keramaian pengunjung. Meski angin yang bertiup sedikit lebih kencang. Namun, kesan indah pemandangan kerlip lampu Ibu Kota terlalu sayang untuk dilewatkan.
Penerangan di langkan ini agak temaram, hanya berbekal lampu yang berbentuk lilin. Dan juga lampu bohlam yang dibentang sepanjang langkan itu. Tyas menarik napas, takjub atas pemandangan dan juga dekorasi tempat ini. Kesan romantis ada di ruangan terbuka ini. Ditambah meja dan kursi yang seperti khusus hanya untuk pasangan saja.
Argo memesankan makanan untuk mereka berdua. “Ini favorit aku, kalo datang ke sini,” ujarnya dengan menggebu-gebu.
Tyas hanya mengangguk, “Oke, aku penasaran,” ujarnya tak kalah antusias.
“Pasti kamu suka, percaya aja.” Argo lantas menyuruh si pelayan untuk mencatat semua makanan yang dia pesan. “Ada yang mau kamu tambahin?” tanya Argo dia menatap Tyas.
“Aku minta air putih aja,” sahut Tyas dengan ramah, sambil melihat ke arah si pelayan yang mencatat pesanan.
Pelayan itu mengulangi pesanan yang tadi disebutkan oleh Argo.
Jarak meja antara pengunjung satu dan pengunjung lainnya, memang dibuat berjauhan. Meja persegi panjang, serta sofa tempat duduk, maksudnya agar bisa menikmati pemandangan kota dan juga punya sedikit privasi.
“Jadi, berapa cewek yang kamu sudah ajak ke sini?” tanya Tyas, menyindir.
“Kenapa tanyanya begitu?” Argo balik bertanya.
“Kalo aku lihat kebanyakan tempat ini hanya untuk dua orang.”
Argo merangkul pundak Tyas lalu menarik badan istrinya itu agar lebih dekat dengannya. “Kamu lihat kan, kalau di dalam bisa untuk rame-rame, jadi kita pasti ambil tempat di dalam.”
Tyas hanya mengangguk mengerti sekarang.
“Sekarang masih cemburu?” tanya Argo lagi dengan lembut, dia menempelkan dahinya ke kepala Tyas. Sebenarnya Argo memendam gairahnya sudah lama, entah kapan Tyas akan menyerahkan semuanya untuk Argo.
Karena pelayan sudah mengantarkan minuman pesanan, Argo lantas melancarkan serangan, dengan mengecup pipi istrinya itu. Mana sangka, Tyas malah menggenggam erat jemari Argo yang bertengger di pundaknya.
Namun disela serangan yang Argo lancarkan, ada saja gangguan. Pelayan yang mengantarkan makanan ke meja mereka.
“Selamat malam, Pak, dan Bu, silakan hidangannya dinikmati. Kalau ada kekurangan dalam hidangan ini, silakan hubungi kami segera.”
Argo memejam, berharap pelayan itu segera pergi. “Terima kasih,” jawab Argo lagi dengan cepat.