Tiffany yang Patah Hati

1025 Words

Tyas duduk kembali di sofa. “Siapa yang kamu telepon?” tanyanya, matanya tidak beranjak menatap Genta. “Satpam yang ada di bawah, minta belikan makanan.” Dahi Tyas mengerut, seperti bertanya, mengapa harus satpam yang dihubungi? “Aku tidak tahu lagi siapa yang akan aku mintakan tolong. Kamu pikir bagaimana?” “Kalau kamu mau kita turun saja, makan disalah satu tempat yang ada di bawah,” usul Tyas, sambil mengedikkan bahu. Jujur saja, dia agak risi ada Genta di dalam apartemennya. Genta terdiam, sebenarnya lelah kalau harus turun ke bawah. “Memang kamu ada tenaga untuk ke bawah, beli makanan? Lalu makan di sana? Aku terlalu lelah.” Genta mengusap tengkuknya, menghela napas, lalu duduk di samping Tyas. Sofa yang diduduki sebenarnya masih kotor. Tapi tidak ada pilihan lagi, menurut tuka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD