“Lagian, aku mulai menyukai kamu,” Tiffany berkata dengan lirih. Tanpa menatap ke arah Genta. Sebenarnya malu berkata suka duluan, tapi ... Tiffany harus mengatakannya. “Aku nggak jelek-jelek banget, kan? Kamu menolak aku karena Tyas memang lebih ... cantik?” Genta mendengkus, dalam hatinya mencaci maki. Sial! Tidak mungkin.. “Aku ... tidak pernah merasakan hal seperti ini kepada lelaki,” sambung Tiffany. Genta tahu, kalau dia sudah menghancurkan separuh jiwa Tiffany. Tapi, Genta juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia juga tidak punya kuasa untuk menghentikan perasaan Tiffany. Genta dan Tiffany saling terdiam. Genta akhirnya menarik napas, dan duduk di sebelah Tiffany. “Kamu ... kamu tidak jelek. Aku suka kepribadian kamu, kamu juga cerdas dan jeli.” Genta mengumpulkan keberanian, menar

