“Arrgh!” Tyas memekik, begitu keluar dari kamar mandi di kamarnya, ada Genta di depan lemari. Mereka membeku sesaat, secara Tyas hanya pakai handuk yang menutupi sekitar d**a dan perutnya saja. Tyas menyadari ekspresi wajah lelaki itu, mulut Genta yang menganga, matanya tertuju ke daerah kewanitaannya. Jakun Genta naik turun, seperti menahan keinginan. Wajahnya seperti akan menerkam Tyas hidup-hidup. Tyas melindungi dirinya, buru-buru masuk lagi ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya. Napasnya memburu, dia tidak mau sesuatu terjadi pada dirinya atau juga Genta. Apa kata orang nanti? Genta mengerjap, sadar ketika Tyas masuk dan membanting pintu. Wajahnya menghangat, yakin sekali kalau dia saat ini warnanya merah. “Eng ... aku cuma ambil baju. Karena lemari aku ada di kamar ini,” jel

