Harapan atau Bukan?

1064 Words
Tiffany memerhatikan Genta yang tampak kebingungan dengan makanan yang ada dalam genggamannya. Tiffany mengerutkan dahi, melihat dari jarak yang tidak terlalu jauh, ternyata lelaki itu teliti juga. Dia membaca label kemasan satu per satu, lalu ditaruh lagi di rak. Tiffany berjalan mendekat ke arah Genta. “Memang makanan jenis apa yang kamu mau cari?” Pertanyaan itu membuat Genta menoleh ke arah Tiffany—yang sudah berdiri di sebelah kirinya. “Eh, apa, ya?” ulang Genta kebingungan, menggaruk kepalanya. “Aku bantuin aja, gimana?" Genta hanya menatap dengan wajah yang lugu. Apakah Tiffany sebaik ini? Kalau Genta pikir, gadis ini lucu juga, tanpa riasan, wajahnya lebih terlihat bersinar. "Biasanya kamu mau sedia apa di rumah?" Lagi-lagi pertanyaan Tiffany membuat Genta tersentak. "Atau apa yang kamu perlukan, waktu tadi kamu lapar misalnya?" "Pengennya, si mi instan," Genta nyengir. "Jadi, aku bisa masak sendiri." Tiffany tersenyum lebar, dia sudah menduganya. Lalu banyak mengambilkan Genta makanan instan selain mi. "Kalo ini kamu bisa panasin di microwave," kata Tiffany sambil menunjukkan makanan instan yang ada nasinya. "Jadi, nggak setiap kali kamu lapar masak mi, kan?" Genta hanya bisa mengangguk, menurut tidak bisa berkata tidak. Apa yang disarankan Tiffany sudah tepat sepertinya. Padahal, dia hanya suka mi instan, makanan instan yang lain, buat Genta mual, apalagi yang keterlaluan manisnya. Kalau pun tadi Genta membaca bungkus kemasan, Genta menghindari zat natrium terlalu banyak. Karena bisa membuat tubuhnya lemah. "Minuman, gimana? Mau beli juga?" "Boleh, deh, Tiff," jawab Genta sambil tersenyum serba salah. Kebanyakan Genta bersikap canggung kepada Tiffany. Untuk Tiffany, sikap Genta seperti ini lucu. Membuat Tiffany tidak bisa berhenti tersenyum. "Mau minuman mineral, atau yang ada rasanya?" Genta pikir ini saatnya dia membuka diri. Tidak selamanya, kan, sendirian itu menyenangkan? "Lebih suka mineral," Genta mengambil botol minuman. "Ini lebih nyaman untuk gue," katanya. Lalu memasukkan beberapa botol lagi ke keranjang belanjaan yang tadi didorong Genta. Tiffany hanya mengangguk-angguk. "Kalo yang berasa dan berwarna, nggak suka, ya?" tanyanya memancing, dia hanya berusaha agar dekat dengan Genta. Genta menggeleng, "Suka, cuma, tidak terlalu suka juga. Biasa aja," lelaki itu mencoba membuka diri untuk orang lain. Tapi, ternyata sulit sekali membicarakan apa yang Genta suka dan tidak suka. Lalu, Genta berkata pada dirinya sendiri. Ini kan baru pertama kali. Mungkin nanti untuk yang kedua kalinya, Genta kan lebih terbuka. Iya, begitu. Genta dan Tiffany akhirnya berjalan berdampingan ke arah kasir untuk membayar. Berjalan di lorong berjajaran rak kiri kanan. Tiffany juga tidak mengerti sebenarnya denga perangai atau apa pun yang Genta suka. Diana memang mengatakan kalau akan mengenalkan anaknya setelah pulang dari London. Tapi, Tiffany tidak tahu, kalau anaknya sangat galak. Hari pertama bertemu, Genta sudah menbentaknya. Jujur saja ketika kebingungan tadi, Tiffany dapat nasihat dari Diana. "Kalau soal Genta jangan terburu-buru. Genta melalui masa enam tahun yang berat ketika di London. Jadi, kamu tidak bisa terburu-buru mendekati Genta. Apalagi, kalau sampai berdebat dengannya. Buatlah Genta berpikir kalau kamu ada di pihaknya," begitu kata Diana yang Tiffany ingat. Dan, saat ini, Tiffany mengikuti saran yang dikatakan Tante Diana. Semoga saja berhasil. Kalau dibilang suka, Tiffany hanya penasaran dengan Genta. Tawaran Diana untuk menjadikan Tiffany jodoh Genta, sebenarnya Tiffany juga belum tahu apalah akan suka atau tidak kepada Genta. Terlebih malam ini Genta kebanyakan bersikap canggung dan gugup. Tiffany maklum dengan sikap Genta, seperti yang Diana bilang tadi. Jadi, Tiffany pikir, pelan-pelan saja dalam menghadapi Genta. Gadis itu melirik ke arah Genta, beberapa kali kereta dorong Genta ditabrak oleh pengunjung yang lain. Lelaki itu tetap berjalan lurus. Pandangannya seperti kosong melompong. Tiffany hanya menduga kalau Genta sama sekali tidak mempunyai gairah hidup. Atau memang seperti ini raut wajah Genta? Tiffany lalu sedikit bertanya, sekadar memecah kesunyian. "Memang selama di London, kamu nggak pernah belanja sendiri?" Genta tersenyum, "Ada yang urus, Tiff semuanya. Jadi gue gak perlu lagi belanja, masak atau apa pun." "Oh," sahut Tiffany mengangguk-angguk. Pengunjung supermarket malam ini tidak terlalu banyak. Namun, karena sebentar lagi supermarket akan tutup terjadi antrean panjang. Dan cukup lama untuk Genta menunggu antrean kasir. Tiffany pun tak kalah bosan dan lelah menunggu. Berulang kali dia melirik jam di tangan kirinya. Sudah malam, lewat dari jam sepuluh, Tiffany takut juga pulang sendirian, malam-malam. Tapi, boleh buat? Mau bagaimana lagi. Meski khawatir, Tiffany pulang sendirian. Ada rencana dalam kepalanya, mungkin nanti dia akan sewa pengantar barang untuk mengantar barangnya ke unit apartemennya. Genta membukakan satu minuman mineral di botol. "Tiff?" panggil Genta. Tiffany menoleh, Genta menyodorkan botol minuman ke depan wajah Tiffany. "Minum dulu, Tiff, supaya nggak dehidrasi." Gadis itu tersenyum simpul menerima botol minuman yang disodorkan Genta. "Terima kasih," ucapnya. Lalu tiba giliran Genta membayar semua belanjaannya. Kasir dengan sabar menghitung satu per satu barang yang dibeli Genta. Hingga giliran Tiffany yang belanjaannya dihitung, gadis itu menguap. Tidak terasa, dirinya kelelahan juga. "Mbak, semuanya saya yang bayar," ucapan Genta membuat Tiffany membesarkan mata. "Nggak usah, Ta, aku ada kok, uang pas," ujarnya. "Jangan, Tiff, anggap aja ini rasa terima kasihku, karena diantar ke supermarket ini." Penjaga kasir dibantu oleh seseorang mengemas semua barang milik Genta. Termasuk banyak belanjanya, sampai dikemas di kardus. Genta kebingungan, bagaimana caranya membawa ini ke kamarnya? "Yuk, Gen," ajak Tiffany mendorong keretanya. Menuju suatu meja seperti meja yang bertuliskan "Customer Service". "Gen, di sini kita bisa minta dianter barangnya. Jadi nanti kamu tinggal bayar kasih tips ke orang yang antar," papar Tiffany sambil tersenyum. Genta membentuk mulutnya dengan—O. Akhirnya, Genta dan Tiffany berpisah di depan teras supermarket. "Terima kasih, Tiff," ucap Genta sekali lagi sebelum mereka berpisah. "Ya, jangan ragu kalau mau minta tolong apa-apa. Kita, kan tetangga." "Oke," sahut Genta. *** Dan ... Di sinilah, Genta tengah malam, di depan kulkas menatap botol minuman yang tersusun rapi. Itu pun atas petunjuk dari Tiffany yang berinisiatif menelepon Genta, mengajarinya cara menyusun makanan dalam kulkas. Tatapan Genta nelangsa, dalam hatinya masih menyangkal, mengapa bukan Tyas yang tadi da di hadapannya? Mengapa harus Tiffany? Rasanya ini tidak adil untuknya. Bertahun-tahun Genta pergi jauh. Kenangan Tyas memyeruak lagi, seperti kotak kecil—yang penuh dengan kenangan terbuka. Dan semua kenangan itu beterbangan di kepala Genta. Membuat lelaki itu kebingungan, napasnya lantas tersengal, dan dadanya sakit sekali seperti tadi. Genta hampir kehabisan napas, hingga tubuhnya meluruh ke lantai. Air matanya luruh, terisak. Semuanya sudah tidak mungkin, Genta berpikir, apakah harus Genta kembali ke London. Dan memulai lagi hidup barunya di sana? Lagi pula, dalam hidup ini bukankah semuanya tidak harus berkaitan dengan masalah cinta?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD