Genta menghela napas, belum juga habis rasa kagetnya dengan pamitan Tyas, sekarang dia juga harus berhadapan dengan papanya. Fiks, ini hari sial sedunia! Genta lantas merapikan setelan kerjanya, yang hari ini warna biru. Tyas membesarkan mata melihat Genta merapikan kemejanya, “Mau ke mana? Bukannya tadi kamu suruh aku cek berkas ini?” “Ke ruangan papa,” jawab Genta tidak melihat ke arah Tyas. Lantas gerakannya cepat keluar dari ruangan itu. Tyas melongo. Beberapa detik kemudian, Tyas menghela napas, menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin? Apakah Genta dengar apa yang tadi Tyas katakan? “Apa dia pikir gue nggak bisa marah?” gerutu Tyas sendirian, sambil menutup jendela aplikasi laptopnya. Maunya meninggalkan semua pekerjaan ini. Menyebalkan! Makinya dalam hati. “Kalau dia bis

