Tyas, Tiffany?

1080 Words
Argo lagi-lagi menarik napas lalu tersenyum tipis. Terdengar oleh Genta. Ada perasaan was-was ketika dia mendengar senyuman Argo. Adiknya itu tanpa menatap kakaknya, membuka salah satu pintu ruangan. “Aku sabar menunggu, Kak. Tyas itu seperti … Kuil yang harus disinggahi dengan hati yang utuh juga. Lagian, kalau tadi tidak ada jatah, toh, kita sudah menjalani malam yang gila-gilaan dengan fantasi liar kita berdua,” tandas Argo yang bikin leher Genta seperti dicekik hingga tidak bisa bernapas. Lelaki itu berdiri membeku sesaat seluruh badannya kaku. “Ini ruangan Kak Genta,” papar Argo kemudian. Dia duluan masuk agar kakaknya bisa melihat betapa leganya ruangan itu. Karena tidak ada jawaban, Argo melihat kakanya masih ada di ambang pintu, wajahnya pucat seperti mati. “Kak!” panggilan Argo seperti angin lalu di telinga Genta. “Kak Genta!” Argo terpaksa menjetikkan jemari di depan wajah Genta. Mata Genta lalu mengerjap. “Apa?” menatap Argo yang ada di depannya. “Ini ruangan Kakak, bagaimana? Kakak seperti habis melihat setan. Apa tadi ada …?” “Ada apa?” sambar Genta. “Ada makhluk tak kasat mata?” “Tidak.” Argo masih heran dengan Genta, lalu Argo berbalik badan, dengan cepat duduk di kursi kerja. “Kakak tahu, kursi ini Tyas yang pilih. Dia pikir ini sangat nyaman.” Sekali lagi jantung Genta berhenti beberapa saat. “Buat apa?” tanyanya skeptis. Malahan sekarang dia jijik melihat kursi kerja hitam dan tampaknya nyaman itu. “Katanya, si, ini sama seperti punyaku,” balas Argo dengan pongah, kali ini dia memiliki seseorang dalam hidupnya yang berjanji akan setia selamanya. Ini satu sisi yang membuat Argo unggul dari Genta. “Oh,” jawab Genta, lalu duduk di depan Argo. Di kursi kerja juga, hanya saja ini lain model. “Tapi, ini lebih nyaman. Di London punyaku yang seperti ini,” balas Genta sambil menaik turunkan kursi itu, lalu melompat sedikit, seolah kursi itu yang paling nyaman. Argo mengedikkan bahu, “Kalau begitu terserah Kakak saja. Nanti pukul sembilan kumpul di ruang rapat. Papi mau adakan rapat untuk semua pengacara di sini. Dan … satu lagi, Tyas mulai hari ini juga akan bekerja di kantor ini. Dia baru lulus sidang, dan nekat mau menjajal jadi anak baru di sini.” Mata Genta membesar. “Apa?” “Maksud Kakak, apa?” “Apa? Maksudku kalau Tyas kerja di sini, kenapa dia nggak bareng kamu tadi?” Genta berdeham, tenggorokannya kering, andai di meja ini ada air satu galon, mungkin sudah habis. “Oh, Tyas ada keperluan dulu di kampus. Mau ambil surat keterangan lulus sementara. Dan … dia mau pergi sendiri. Katanya lama menunggu, jadi lebih baik aku duluan ke kantor. Karena ada kasus besar juga yang harus ditangani.” Genta mengangguk-angguk sambil menyadarkan badan di kursi yang dia bilang nyaman itu. “Kasus apa?” “Akuisisi perusahaan. Entahlah ini alot sekali,” jawab Argo sambil menarik napas panjang. “Oke,” Genta mengangguk sekali lagi. “Kalau begitu, aku pamit kembali ke ruangan aku dulu. Oh, iya, nanti aku pesankan minuman. Untuk sekretaris dan asistenmu nanti aku kenalkan saat rapat, oke?” “Oke,” jawab Genta sambil melingkarkan jari telunjuk dan jempol. Sementara Argo tersenyum sambil membuka pintu dan berlalu dari ruangan itu. Genta menatap nanar kursi yang tadi Argo ceritakan. Tyas yang memilih? Ulangnya dalam hati. Apa yang dia rasakan sebenarnya. Saat ini Genta tidak mau mendengar nama Tyas, atau melihat Irasnya lagi. Malam yang liar? Apaa-apaan?! Genta mengumpat dalam hati. Ah … mengapa itu bukan miliknya? Mengapa itu menjadi milik Argo adiknya. Genta akhirnya menyingkirkan kursi itu dari mejanya, dia tendang begitu saja agar tidak bisa dia lihat. Melihat kursi itu sama saja melihat Irasnya lagi, dan Genta tidak mau. Enyah sana, bangku sialan! Umpatnya Genta menendang sekuat tenaga kursi itu sampai terbentur mentok ke tempok dekat sisi jendela lebar ruangan. Genta menutupinya dengan vertikal blind agar tidak bisa dia lihat. Lantas mengganti kursi yang ada dengan yang tadi yang Genta duduki. “Ini baru nyaman. Apa yang nyaman dari kursi itu?” cibirnya sendirian. Lantas dia melirik jam tangannya, sudah hampir pukul sembilan. Genta bergegas keluar ruangan itu, lalu, mencari di mana ruangan rapatnya? Dia bertanya kesalah satu orang yang berlalu lalang. Sampailah Genta di depan ruangan besar, sebagian sudah ada orang di sana. Ada Papinya, dan … Tyas yang sedang mengobrol dengan Argo, melihat Irasnya tertawa ringan, tampaknya mereka sangat bahagia. Jantung Genta serasa ditusuk sembilu. Sakitnya tidak bisa dikatakan dengan kata-kata. Apalagi, Tyas mengusap dahi Argo yang berkeringat. Makin membuat Genta cemburu saja, tangannya mengepal di samping badan. Lantas ada yang menyentuh pundaknya perlahan. “Genta,” bisiknya. Dia berharap itu Irasnya yang berbisik. Tapi, Genta salah, itu adalah maminya. “Mami?” matanya berkaca-kaca melihat Mami “Ayo, berjalan sama Mami ke ruangan itu.” Genta memutar bola mata, tidak mau sebenarnya. Jantungnya masih berdegub dengan keras. Namun, mau tidak mau mengikuti Mami masuk ke ruang rapat itu. “Selamat pagi!” ucap Mami. “Pagi, Bu!” serentak orang yang sudah ada di ruangan itu menjawab, sambil menatap Ibu Diana yang berjalan dengan percaya diri ke dalam ruangan. Masih menggandeng Gentala lantas memilih duduk dekat Papi, semua mata tertuju ke Mami dan Genta. Termasuk Tyas yang sulit sekali menelan ludah ketika melihat Genta yang dulu dia puja. “Jadi, langsung saja saya perkenalkan, ini anak saya, Gentala Dewantara,” ucap Sinagar dengan suara yang berwibawa, seolah bangga akan Genta. Genta yang berwajah datar, hanya mengangguk sekilas. “Hallo, pagi semua,” sapanya dengan suara pelan dan kaku. “Satu per satu nanti saya kenalkan ke jajaran partner senior, dan juga bagian-bagian dari firma hukum ini,” ucap Papi. “Yang jelas, Genta nanti akan mengambil alih kesepakatan akuisisi perusahaan yang belakangan ini sedang kami tangani. Dan juga akan mengambil alih dua kasus besar.” Dahi Argo mengerut, begitu juga dengan Genta. Memang kalau di London, dia sudah memimpin firma hukum, tetapi kalau Indonesia Genta belum terlalu paham, masih kagok! Apalagi sintemnya berbeda. “Dan segera saja saya umumkan, karena Genta nanti akan dibantu oleh Tyas, dan Samuel,” putusan Papi seperti ketukan palu hakim. Seperti hukuman untuk Genta, lelaki itu tentu saja tidak percaya. “Tapi, Pi, Kak Genta harus di dampingi paling tidak satu orang yang ahli.” “Itu Tiffany,” sambar Mami dengan cepat. “Apa?” Genta menatap Mami seperti tidak terima. Apa alasan orang tuanya ini? Asal sebut nama atau memang sengaja, mau menyiksa dirinya, si? gerutu Genta dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD